Dari Kampus, Menjadi Dampak - Ipda Romi Sunggara: Alumni S1 Kesehatan Masyarakat UMI, Tim Pengembangan Inovasi Digital Polri, Kini Kapolsek Tanralili Maros
MAKASSAR, umi.ac.id — Ilmu yang diperoleh di kampus tidak selalu berakhir pada profesi yang namanya sama dengan program studi. Ipda Romi Sunggara, S.K.M., M.H., CPHR., CBA., alumnus S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (UMI), memperlihatkan bagaimana pendidikan, pengalaman kerja, kemauan belajar, dan teknologi dapat bertemu dalam satu perjalanan pengabdian. Romi kini dipercaya sebagai Kapolsek Tanralili, Polres Maros, Polda Sulawesi Selatan. Jabatan tersebut masih terkonfirmasi pada kegiatan di Kecamatan Tanralili pada 21 September 2026. Sebelum memimpin kepolisian di tingkat sektor, perjalanan Romi banyak bersentuhan dengan pengembangan sumber daya manusia serta inovasi digital pelayanan di lingkungan Polda Sulawesi Selatan.
Perjalanannya memiliki akar akademik di UMI. Romi menyelesaikan pendidikan S1 Kesehatan Masyarakat di UMI pada 2014, kemudian kembali melanjutkan pendidikan magister dan menyelesaikan S2 Hukum UMI pada 2023. Dua bidang pendidikan tersebut berjalan beriringan dengan kariernya sebagai anggota Polri. Ia memulai perjalanan kepolisian sejak 2012 di Polres Tana Toraja, kemudian menjalani sejumlah penugasan di lingkungan Polda Sulsel, termasuk bidang administrasi, pembinaan karier, dan pengembangan sumber daya manusia.
Dari Kesehatan Masyarakat ke Pelayanan Kepolisian
Latar belakang S1 Kesehatan Masyarakat menjadi bagian yang menarik dari perjalanan Romi.
Ia bukan lulusan teknologi informasi. Namun, ketika menemukan persoalan dalam pekerjaan, ia memilih mempelajari teknologi secara mandiri sebagai salah satu jalan untuk mencari solusi. Pada 2019, ketika bertugas di lingkungan Biro SDM Polda Sulsel, Romi mulai belajar pemrograman secara otodidak melalui berbagai sumber digital. Proses belajar tersebut kemudian berkembang menjadi keterlibatannya dalam pengembangan layanan berbasis teknologi di lingkungan Polda Sulsel.
Di sinilah perjalanan Romi memberi pesan sederhana: inovasi tidak selalu dimulai dari latar belakang pendidikan teknologi. Inovasi dapat dimulai dari kemampuan melihat masalah, kemauan belajar, dan keberanian mencari cara baru untuk menyelesaikannya.
PESAT dan SIBARANI, Ketika Teknologi Mempermudah Pelayanan
Salah satu bagian penting perjalanan profesional Romi adalah keterlibatannya dalam inovasi PESAT (Pelayanan Satu Atap) dan SIBARANI (Sistem Informasi Bhayangkara Melayani) di lingkungan Polda Sulawesi Selatan. PESAT dikembangkan untuk mempermudah pelayanan internal personel. Melalui sistem tersebut, berbagai informasi dan layanan administrasi dapat diakses secara digital sehingga personel tidak selalu harus datang langsung ke Biro SDM Polda Sulsel. Sistem ini antara lain digunakan untuk mengakses sejumlah dokumen dan informasi kepegawaian.
Sementara itu, SIBARANI dikembangkan sebagai basis data personel Bhabinkamtibmas di wilayah Polda Sulsel. Sistem tersebut membantu proses koordinasi dan administrasi, sekaligus memberikan akses bagi masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai Bhabinkamtibmas yang bertugas di wilayah mereka. Pengembangan sistem tentu tidak bekerja dalam ruang kosong. Implementasinya melibatkan dukungan organisasi, pimpinan, rekan kerja, serta jajaran Polres yang ikut memperbarui data. Romi sendiri mengakui adanya masukan dari senior dan pimpinan dalam proses penyempurnaan sistem. Karena itu, perjalanan ini bukan hanya cerita tentang teknologi, tetapi juga tentang kolaborasi dan perubahan cara kerja.
Teknologi menjadi berguna ketika membuat proses yang sebelumnya panjang menjadi lebih sederhana, data lebih mudah ditemukan, dan pelayanan lebih dekat kepada penggunanya.
Inovasi yang Mendapat Apresiasi
Kontribusi tersebut memperoleh apresiasi dari institusi. Pada peringatan Hari Bhayangkara ke-78, 1 Juli 2024, Romi menerima penghargaan dari Kapolda Sulawesi Selatan atas inovasi digital yang mendukung kemudahan pelayanan di lingkungan Polda Sulsel. Biro SDM Polda Sulsel secara resmi mencatat PESAT dan SIBARANI sebagai inovasi yang membantu pelayanan organisasi dan masyarakat.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu penanda perjalanan profesionalnya, tetapi bukan akhir dari proses belajar. Kompetensinya juga diperkuat melalui sertifikasi Certified Professional Human Resources (CPHR) dan Certified Behaviour Analyst (CBA). Pada 2025, Romi mengikuti Sekolah Inspektur Polisi (SIP) dan kemudian memasuki jenjang perwira. Ruang pengabdiannya pun berubah. Dari sebelumnya banyak bekerja di balik sistem dan pembinaan SDM, kini ia berada lebih dekat dengan masyarakat sebagai pimpinan kepolisian di tingkat sektor.
Kini Kapolsek Tanralili Maros
Romi kemudian dipercaya sebagai Kapolsek Tanralili, Polres Maros, Polda Sulawesi Selatan. Perubahan tanggung jawab ini membawa pengalaman yang telah dibangunnya ke ruang pelayanan yang berbeda. Jika sebelumnya ia banyak berhadapan dengan sistem, administrasi, data, dan pengembangan SDM, sebagai Kapolsek ia berhadapan langsung dengan dinamika keamanan, pelayanan, dan kehidupan masyarakat. Pada September 2026, misalnya, Romi hadir sebagai Kapolsek Tanralili dalam kegiatan edukasi keamanan dan ketahanan masyarakat bersama pemerintah kecamatan, TNI, mahasiswa, dan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut ia memberikan edukasi mengenai pencegahan narkotika, penipuan, serta berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Perjalanan itu memperlihatkan perubahan ruang pengabdian yang menarik: dari memperbaiki sistem pelayanan, menuju memimpin pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Perjalanan Romi Sunggara dapat dibaca melalui satu lintasan yang saling terhubung: S1 Kesehatan Masyarakat UMI → Polri → Pengembangan SDM → Inovasi Digital PESAT dan SIBARANI → Penghargaan Kapolda Sulsel → SIP → Perwira Polri → Kapolsek Tanralili Maros.
Namun, nilai ceritanya bukan pada panjangnya daftar jabatan. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk terus belajar ketika pekerjaan menghadirkan persoalan baru. Romi tidak memiliki pendidikan formal di bidang teknologi informasi ketika mulai belajar pemrograman. Ia belajar karena menemukan kebutuhan dalam pekerjaannya. Pengetahuan baru tersebut kemudian digunakan untuk membantu memperbaiki pelayanan di lingkungan tempatnya bekerja.
"Inovasi tidak selalu lahir dari orang yang kuliah teknologi. Ia dapat lahir dari orang yang memahami masalah, mau terus belajar, lalu menggunakan teknologi untuk membantu menyelesaikannya."
Bagi mahasiswa UMI, perjalanan tersebut membawa pesan bahwa program studi adalah fondasi, bukan batas akhir pengembangan diri. Dunia setelah kampus akan menghadirkan persoalan yang mungkin belum pernah ditemukan di ruang kuliah. Kemampuan belajar kembali menjadi sama pentingnya dengan ilmu yang telah dimiliki. Di UMI, Romi membangun fondasi akademiknya. Di kepolisian, ia terus mengembangkan kompetensi. Melalui inovasi digital, ia ikut memperbaiki proses pelayanan. Dan kini, sebagai Kapolsek Tanralili, ruang pengabdiannya semakin dekat dengan masyarakat.
Dari kesehatan masyarakat, menuju inovasi pelayanan kepolisian. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































