Dari Kampus, Menjadi Dampak - Khairuddin Yusran: Dari Teknik Pertambangan UMI, Kini Menjadi Kepala Teknik Tambang Batu Karang Group
Berangkat dari Teknik Pertambangan Universitas Muslim Indonesia (UMI), Khairuddin Yusran membangun karier dari pekerjaan teknis lapangan hingga dipercaya menjadi Kepala Teknik Tambang (KTT) Batu Karang Group. Tanggung jawabnya kini tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga keselamatan pertambangan, kepatuhan terhadap regulasi, perlindungan lingkungan, serta pengembangan kompetensi tenaga kerja.
MAKASSAR, umi.ac.id — Di pertambangan, keputusan yang salah tidak selalu dapat diperbaiki dengan mudah. Ada manusia yang bekerja. Ada alat berat yang bergerak. Ada lereng yang harus diperhitungkan. Ada target produksi. Ada lingkungan yang harus dikelola. Ada regulasi yang harus dipatuhi. Dan ada risiko yang harus dikendalikan.
Karena itu, semakin tinggi tanggung jawab seorang profesional pertambangan, semakin besar pula konsekuensi dari setiap keputusan yang dibuat.
Di ruang inilah Khairuddin Yusran, alumni Teknik Pertambangan Universitas Muslim Indonesia, membangun perjalanan profesionalnya. Dari pekerjaan teknis di lapangan, perjalanan tersebut berkembang hingga ia dipercaya menjadi Kepala Teknik Tambang (KTT) Batu Karang Group.
Dari Teknik Pertambangan UMI ke Lapangan Tambang
Pendidikan Teknik Pertambangan UMI menjadi fondasi awal perjalanan Khairuddin. Namun pertambangan adalah bidang yang tidak cukup dipahami dari ruang kuliah. Ilmu harus bertemu lapangan. Perencanaan harus bertemu kondisi aktual. Perhitungan harus bertemu risiko. Dan teori harus diuji dalam operasi nyata.
Khairuddin menjalani proses tersebut secara bertahap. Pengalamannya mencakup berbagai tahapan kegiatan pertambangan, mulai dari eksplorasi, perencanaan pit dan infrastruktur, produksi, preparasi dan analisis laboratorium hingga proses barging.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat operasi tambang bukan sebagai kumpulan pekerjaan yang berdiri sendiri. Semuanya saling berhubungan. Tambang adalah sebuah sistem. Satu keputusan dapat memengaruhi banyak bagian lainnya.
Dari Menguasai Teknis menuju Memimpin Operasi
Karier profesional tidak dibangun dalam satu malam. Sebelum memperoleh tanggung jawab sebagai KTT, Khairuddin melewati berbagai pengalaman teknis dan pengembangan kompetensi.
Proses tersebut penting. Sebab orang yang memimpin operasi pertambangan perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Ia harus mampu membaca kondisi. Memahami risiko. Berkomunikasi dengan tenaga kerja. Menilai pekerjaan. Mengambil keputusan. Dan memastikan keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Di titik inilah kemampuan teknis berubah menjadi sesuatu yang lebih besar: tanggung jawab profesional.
Ketika Produksi Bukan Satu-Satunya Ukuran
Pertambangan memang menghasilkan produksi. Tetapi produksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan operasi. Berapa banyak material yang dihasilkan menjadi tidak cukup apabila keselamatan diabaikan. Target menjadi kehilangan makna apabila pekerjaan tidak mengikuti ketentuan. Dan keuntungan hari ini dapat menjadi persoalan masa depan apabila lingkungan tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, profesionalisme pertambangan menuntut keseimbangan. Produksi harus berjalan. Keselamatan tidak boleh ditinggalkan. Regulasi harus dipatuhi. Lingkungan harus dikelola.
Empat unsur tersebut tidak seharusnya dipertentangkan. Justru semuanya harus bekerja dalam satu sistem operasi.
Menjadi Kepala Teknik Tambang
Kepercayaan sebagai Kepala Teknik Tambang membawa perjalanan Khairuddin ke tingkat tanggung jawab yang berbeda. KTT bukan sekadar jabatan manajerial. Di dalam kegiatan pertambangan, posisi ini berkaitan erat dengan pelaksanaan kaidah teknik pertambangan yang baik dan pengelolaan berbagai aspek teknis serta keselamatan operasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Artinya, ketika aktivitas tambang berjalan, ada tanggung jawab profesional yang menyertainya. Ada pekerja yang harus pulang dengan selamat. Ada operasi yang harus dikendalikan. Ada standar yang harus dijalankan. Ada ketentuan yang harus dipenuhi. Ada lingkungan yang harus diperhatikan. Dan ada keputusan yang harus dapat dipertanggungjawabkan.
Semakin besar operasi yang dipimpin, semakin besar pula tanggung jawab yang tidak terlihat dari luar.
Keselamatan sebagai Batas yang Tidak Boleh Ditawar
Dalam operasi pertambangan, target dapat berubah. Rencana produksi dapat disesuaikan. Jadwal dapat diperbaiki. Tetapi keselamatan manusia memiliki posisi berbeda. Karena di balik setiap angka produksi ada orang yang bekerja.
Operator.
Pengawas.
Teknisi.
Pengemudi.
Tenaga pendukung.
Dan berbagai profesi lain yang membuat kegiatan pertambangan dapat berjalan.
Karena itu, keselamatan bukan tambahan setelah produksi. Keselamatan adalah syarat agar produksi layak dijalankan. Cara pandang seperti ini menempatkan manusia sebagai bagian utama dalam operasi pertambangan.
Dari Risiko menuju Kendali
Dunia pertambangan tidak pernah sepenuhnya bebas risiko. Yang dapat dilakukan adalah mengenali, mengukur, mengendalikan, dan terus mengevaluasinya. Di sinilah kompetensi seorang profesional diuji. Bukan hanya ketika keadaan berjalan normal. Tetapi ketika muncul penyimpangan. Ketika kondisi lapangan berubah. Ketika target bertemu keterbatasan. Atau ketika sebuah keputusan harus dibuat dalam situasi yang tidak sempurna.
Profesionalisme tidak berarti tidak pernah menghadapi risiko. Profesionalisme adalah kemampuan memastikan risiko tidak dibiarkan berjalan tanpa kendali.
Regulasi sebagai Bagian dari Operasi
Pertambangan bekerja dalam kerangka regulasi. Ada standar teknis. Ada ketentuan keselamatan. Ada kewajiban lingkungan. Ada administrasi. Ada pelaporan. Dan ada tanggung jawab kepada regulator. Karena itu, memahami regulasi bukan pekerjaan tambahan bagi profesional pertambangan. Ia merupakan bagian dari kompetensi. Khairuddin menempatkan pemahaman terhadap regulasi ESDM, keselamatan pertambangan, dan perlindungan lingkungan sebagai bagian dari perjalanan profesionalnya. Sebab operasi yang baik tidak hanya harus efektif secara teknis. Ia juga harus tertib secara regulasi dan bertanggung jawab secara profesional.
Lingkungan Bukan Urusan Setelah Tambang Selesai
Pertambangan mengubah bentang alam. Karena itu, persoalan lingkungan tidak dapat menunggu hingga seluruh kegiatan selesai. Ia harus menjadi bagian dari cara operasi direncanakan dan dijalankan.
Bagaimana lahan dikelola.
Bagaimana air dikendalikan.
Bagaimana material ditangani.
Bagaimana dampak kegiatan dipantau.
Dan bagaimana kewajiban lingkungan dilaksanakan.
Semua membutuhkan perencanaan. Lingkungan bukan catatan kaki dari operasi tambang. Lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab operasi itu sendiri.
Dari Kompetensi menuju Tanggung Jawab
Khairuddin juga mengembangkan kompetensinya melalui sertifikasi profesi yang berkaitan dengan pengawasan operasional dan keselamatan pertambangan. Sertifikasi memiliki arti penting dalam profesi teknik. Tetapi sertifikat bukan tujuan akhir. Ia harus diterjemahkan menjadi kemampuan nyata di lapangan.
Kemampuan mengawasi.
Mengidentifikasi risiko.
Membuat keputusan.
Memastikan prosedur berjalan.
Dan mengembangkan orang lain agar memiliki kompetensi yang dibutuhkan.
Karena pada akhirnya: kompetensi bukan tentang apa yang tertulis pada sertifikat. Kompetensi terlihat ketika keputusan harus dibuat.
Membangun Manusia di Balik Operasi
Ada dimensi lain yang tidak kalah penting dalam kepemimpinan pertambangan: regenerasi.
Operasi yang baik tidak boleh bergantung hanya pada satu orang. Pengetahuan harus dibagikan. Tenaga kerja harus dikembangkan. Pengawas harus semakin kompeten. Budaya keselamatan harus dibangun. Dan generasi profesional berikutnya harus dipersiapkan.
Di titik ini, pengalaman seorang KTT tidak berhenti sebagai kemampuan pribadi. Ia dapat menjadi kapasitas organisasi.
Pemimpin operasi yang baik bukan hanya menyelesaikan pekerjaan hari ini. Ia menyiapkan orang yang mampu menjaga standar pekerjaan esok hari.
Dari Insinyur menuju Penanggung Jawab Operasi
Perjalanan Khairuddin menunjukkan perubahan yang penting. Pada awal karier, seorang profesional biasanya bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang berada di hadapannya. Semakin berkembang kariernya, lingkup tanggung jawab ikut membesar. Dari pekerjaan. Menjadi tim. Dari tim. Menjadi operasi. Dan dari operasi. Menjadi keselamatan, kepatuhan, lingkungan, serta manusia yang berada di dalam sistem tersebut.
Inilah transformasi dari kompetensi menuju akuntabilitas. Mengetahui bagaimana tambang bekerja adalah satu hal. Bertanggung jawab memastikan tambang bekerja dengan benar adalah hal yang berbeda.
UMI dalam Perjalanan Khairuddin Yusran
Universitas Muslim Indonesia menjadi titik awal pendidikan pertambangan Khairuddin. Dari kampus, ia membawa fondasi keilmuan ke lapangan. Lapangan kemudian mengujinya melalui pekerjaan nyata. Pengalaman memperluas kompetensi. Kompetensi membawa kepercayaan. Dan kepercayaan melahirkan tanggung jawab yang lebih besar.
Hari ini, ketika menjalankan tugas sebagai Kepala Teknik Tambang Batu Karang Group, perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana pendidikan teknik dapat berkembang dari kemampuan menghitung dan merencanakan menjadi kemampuan memimpin dan mempertanggungjawabkan operasi.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Khairuddin Yusran berangkat dari Teknik Pertambangan Universitas Muslim Indonesia. Dari kampus, ia membawa ilmu. Dari lapangan, ia memperoleh pengalaman. Dari pengalaman, ia membangun kompetensi. Dan dari kompetensi, ia memperoleh tanggung jawab.
Kini tanggung jawab tersebut berada pada skala yang lebih besar. Bukan hanya bagaimana tambang berproduksi. Tetapi bagaimana operasi dijalankan dengan aman. Bagaimana aturan dipatuhi. Bagaimana lingkungan dikelola. Dan bagaimana tenaga kerja terus berkembang.
Perjalanannya memperlihatkan bahwa semakin tinggi posisi seorang profesional teknik, semakin sedikit pekerjaannya berbicara hanya tentang dirinya sendiri. Sebab ada banyak manusia, keputusan, dan risiko yang ikut berada dalam tanggung jawabnya.
Dari menguasai tambang menuju bertanggung jawab atas operasi. Dari kompetensi menuju akuntabilitas. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































