Dari Kampus, Menjadi Dampak - M. Sullam Fatwa: Alumni FKM UMI, Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Madya Dinkes Makassar dan Ketua HAKLI Kota Makassar
Hampir dua dekade M. Sullam Fatwa, S.KM., M.Kes. menekuni satu bidang: sanitasi dan kesehatan lingkungan. Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI) ini kini menjabat Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Madya pada Dinas Kesehatan Kota Makassar, bertugas di Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), sekaligus dipercaya sebagai Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kota Makassar periode 2022–2027.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak semua perjalanan profesional dibangun dengan berpindah dari satu bidang ke bidang lain. Ada yang memilih satu keilmuan, menjalaninya secara konsisten, memperdalam pengalaman, lalu tumbuh bersama profesi tersebut. Itulah perjalanan M. Sullam Fatwa, S.KM., M.Kes.
Dari bangku Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI, ia masuk ke dunia sanitasi. Dari rumah sakit, perjalanan itu berlanjut ke Puskesmas. Lebih dari satu dekade kemudian, tanggung jawabnya berkembang hingga Dinas Kesehatan Kota Makassar. Kini, selain menduduki jenjang Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Madya, Sullam juga dipercaya memimpin organisasi profesinya sebagai Ketua HAKLI Kota Makassar. idangnya tidak banyak berubah. Yang terus bertambah adalah pengalaman, tanggung jawab, dan ruang pengabdiannya.
Berawal dari FKM UMI
M. Sullam Fatwa lahir di Enrekang, 28 Agustus 1985. Pada 2004, ia memulai pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia. Empat tahun kemudian, pada 2008, ia menyelesaikan pendidikan sarjananya.
Masa kuliah Sullam tidak hanya berlangsung di ruang akademik. Pada 2006–2007, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (HIMAKESMAS) FKM UMI. Ia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FKM UMI. Pengalaman tersebut menjadi bagian awal dari perjalanan kepemimpinannya. Dari organisasi mahasiswa di kampus, perjalanan itu kelak berkembang menuju organisasi profesi di tingkat Kota Makassar.
Memulai Pengabdian sebagai Sanitarian
Setelah menyelesaikan pendidikan di UMI pada 2008, Sullam mulai membangun perjalanan profesionalnya pada bidang yang dekat dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya. Pada 2009–2013, ia bekerja sebagai Tenaga Fungsional Sanitarian Ahli Pertama di RSUD Kabupaten Kolaka. Di sinilah fase awal perjalanan profesionalnya sebagai sanitarian dimulai.
Dari lingkungan rumah sakit, Sullam kemudian memasuki pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pada 2013, ia bergabung di Puskesmas Antang Kota Makassar sebagai Tenaga Fungsional Sanitarian Ahli Muda. Ia menjalani tugas tersebut hingga 2024. Lebih dari satu dekade berada di Puskesmas Antang membuat perjalanan Sullam tidak hanya panjang dari sisi waktu, tetapi juga mempertemukannya secara langsung dengan persoalan sanitasi dan kesehatan lingkungan di tengah masyarakat.
Dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota Makassar
Tahun 2024 menjadi fase berikutnya. Setelah menjalani jenjang Sanitarian Ahli Pertama dan Ahli Muda, Sullam kemudian dipercaya pada jenjang Fungsional Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Madya di Dinas Kesehatan Kota Makassar. Saat ini ia berada pada Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P). Dalam tugas tersebut, Sullam juga tercatat sebagai Penanggung Jawab Program Arbovirosis dan Vektor.
Posisi ini memperlihatkan perkembangan tanggung jawab profesionalnya. Dari sanitasi di lingkungan rumah sakit. Berlanjut pada pelayanan kesehatan masyarakat melalui Puskesmas. Kemudian berkembang pada lingkup Dinas Kesehatan Kota Makassar. Ada perubahan tempat dan jenjang tanggung jawab, tetapi benang merah keilmuannya tetap sama: sanitasi dan kesehatan lingkungan.
Hampir Dua Dekade Menekuni Kesehatan Lingkungan
Jika perjalanan profesional Sullam dihitung sejak memulai tugas sebagai Sanitarian Ahli Pertama pada 2009, maka hampir dua dekade hidup profesionalnya berada dalam rumpun kesehatan lingkungan. Konsistensi inilah yang menjadi salah satu pembeda perjalanan Sullam. Ia tidak membangun profil melalui banyak bidang yang berbeda. Sebaliknya, ia memperdalam satu bidang secara bertahap.
Sanitarian Ahli Pertama → Sanitarian Ahli Muda → Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Madya. Perjalanannya bergerak dari rumah sakit menuju Puskesmas, kemudian Dinas Kesehatan Kota Makassar. Jenjangnya meningkat. Lingkup kerjanya meluas. Tanggung jawabnya bertambah. Tetapi bidang pengabdiannya tetap terjaga.
Dari HIMAKESMAS UMI hingga Memimpin HAKLI Kota Makassar
Ada sisi lain yang membuat perjalanan Sullam menarik. Ketika mahasiswa, ia pernah memimpin HIMAKESMAS FKM UMI. Setelah menjadi profesional, pengalaman organisasi tersebut tidak berhenti. Sullam kemudian aktif dalam Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI). Ia dipercaya menjadi Ketua HAKLI Kota Makassar periode 2017–2022. Kepercayaan tersebut berlanjut. Sullam kembali dipercaya sebagai Ketua HAKLI Kota Makassar periode 2022–2027.
Artinya, perjalanan organisasinya memiliki garis yang cukup jelas. Dari memimpin organisasi mahasiswa bidang kesehatan masyarakat di UMI, ia kemudian dipercaya memimpin organisasi profesi kesehatan lingkungan di Kota Makassar. Bagi profil seorang alumni, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman kampus dapat berkembang menjadi kepemimpinan profesional.
Satu Keilmuan, Satu Profesi, Tumbuh Menjadi Kepemimpinan
Perjalanan Sullam dapat dibaca melalui tiga fase. Pertama, keilmuan. Ia memulainya dari FKM UMI. Kedua, profesi. Ia menjalani pekerjaan sanitarian sejak 2009, mulai dari RSUD Kabupaten Kolaka, Puskesmas Antang hingga Dinas Kesehatan Kota Makassar. Ketiga, kepemimpinan profesi. Pengalaman panjang tersebut berjalan bersama kepercayaan memimpin HAKLI Kota Makassar selama dua periode.
Karena itu, perjalanan M. Sullam Fatwa dapat dirumuskan melalui satu gagasan: "Satu Keilmuan, Satu Profesi, Tumbuh Menjadi Kepemimpinan." Bukan berarti perjalanan profesional harus selalu berada pada satu tempat. Tempatnya dapat berubah. Tanggung jawabnya dapat berkembang. Jenjang profesionalnya dapat meningkat. Tetapi konsistensi pada satu bidang memungkinkan pengalaman terakumulasi dan kompetensi semakin matang. Itulah yang terlihat dalam perjalanan Sullam.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
M. Sullam Fatwa memulai perjalanan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia. Dari kampus, ia memasuki profesi sanitarian. Dari RSUD Kabupaten Kolaka, ia melanjutkan pengabdian lebih dari satu dekade di Puskesmas Antang. Kini, perjalanan profesionalnya berada pada jenjang Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Madya Dinas Kesehatan Kota Makassar, dengan tanggung jawab pada Bidang P2P dan Program Arbovirosis dan Vektor. Di luar tugas pemerintahan, ia juga menjalankan amanah sebagai Ketua HAKLI Kota Makassar periode 2022–2027.
Perjalanan itu membentuk satu rangkaian yang jelas: FKM UMI → Sanitarian Ahli Pertama RSUD Kolaka → Sanitarian Ahli Muda Puskesmas Antang → Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Madya Dinkes Makassar → Penanggung Jawab Program Arbovirosis dan Vektor → Ketua HAKLI Kota Makassar.
Dari mahasiswa kesehatan masyarakat, ia tumbuh menjadi tenaga profesional kesehatan lingkungan. Dari profesional, ia berkembang pada jenjang keahlian yang lebih tinggi. Dan dari pengalaman profesi, kepercayaan berkembang menjadi kepemimpinan organisasi. "Bidangnya tidak banyak berubah. Yang terus bertambah adalah pengalaman, tanggung jawab, dan ruang pengabdiannya."
Dari kampus, ilmu menemukan jalannya. Dari profesi, kompetensi bertumbuh. Dari pengalaman, tanggung jawab semakin luas. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































