Dari Kampus, Menjadi Dampak - Muh Kurniawan, Lulusan UMI 2026, Kini Imam dan Da’i Masjid Raya Makassar, Aktif Berdakwah Lewat Fajar TV
Dari pendidikan Bahasa Arab dan Agama Islam hingga meraih prestasi dakwah, Muh Kurniawan membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari di kampus dapat tumbuh menjadi pengabdian nyata kepada umat.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak semua lulusan perguruan tinggi memilih jalan pengabdian yang sama. Ada yang berkarier di perusahaan, membangun usaha, atau mengembangkan profesi. Ada pula yang memilih berdiri di depan jamaah, memimpin salat, dan menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat. Jalan itulah yang ditempuh Muh Kurniawan, lulusan Universitas Muslim Indonesia (UMI) tahun 2026 yang menekuni bidang Pendidikan Bahasa Arab (PBA) dan Pendidikan Agama Islam (PAI).
Kini, Kurniawan menjalankan peran sebagai imam dan da’i di Masjid Raya Makassar. Ia juga aktif menyampaikan dakwah melalui Fajar TV Makassar, memperluas jangkauan syiar Islam dari lingkungan masjid hingga media penyiaran. Perjalanannya memperlihatkan bahwa keberhasilan seorang lulusan tidak selalu diukur dari jabatan atau tempat bekerja, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan manfaat melalui ilmu yang dimilikinya.
Dari Ruang Kuliah UMI ke Mimbar Dakwah
Bagi Kurniawan, menjadi pendakwah membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berbicara di hadapan jamaah. Seorang da’i harus terus belajar, memahami materi yang disampaikan, serta mampu menjelaskan ajaran Islam dengan bahasa yang mudah diterima masyarakat. Bekal itulah yang terus dikembangkannya melalui pendidikan dan pengalaman.
Selama menempuh pendidikan di UMI, Kurniawan memperdalam pengetahuan bahasa Arab dan pendidikan agama Islam. Kedua bidang tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan kemampuan membaca sumber-sumber keislaman, memahami materi dakwah, dan menyampaikannya kepada masyarakat. Pengalaman belajar di kampus juga mempertemukannya dengan lingkungan akademik yang berbeda dari pendidikan pesantren yang telah dijalaninya. Ia memperoleh kesempatan memperluas wawasan, mengembangkan kemampuan komunikasi, dan membangun kesiapan menghadapi beragam karakter masyarakat. Kini, pengetahuan dan pengalaman tersebut menjadi bagian dari bekalnya dalam menjalankan tanggung jawab sebagai imam dan da’i.
Raih Juara Pidato Bahasa Arab dan Ceramah Zakat
Kemampuan Kurniawan dalam bidang bahasa Arab dan dakwah juga tercermin melalui sejumlah prestasi. Ia berhasil meraih juara pertama lomba pidato bahasa Arab tingkat universitas se-Kota Makassar. Prestasi tersebut menunjukkan kemampuannya menggunakan bahasa Arab dalam komunikasi lisan, termasuk menyusun dan menyampaikan gagasan di hadapan audiens.
Kurniawan juga meraih juara pertama lomba ceramah zakat yang diselenggarakan BAZNAS Kota Makassar. Kompetisi ini menjadi salah satu ruang untuk mengasah kemampuannya menyampaikan materi keislaman yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Zakat bukan hanya persoalan ibadah individual, tetapi juga memiliki dimensi kepedulian sosial. Karena itu, penyampaian materi zakat membutuhkan pemahaman agama sekaligus kemampuan menjelaskan manfaatnya secara sederhana. Bagi Kurniawan, pengalaman mengikuti kompetisi menjadi bagian dari proses belajar sebelum menjalankan dakwah di tengah masyarakat yang lebih luas.
Perluas Kajian Keislaman hingga Akademi di Arab Saudi
Kesungguhan Kurniawan memperdalam ilmu agama tidak berhenti pada pendidikan formal. Ia juga mengikuti kajian Ilmu Syariah di Akademi Zad, Arab Saudi, dan memperoleh predikat Mumtaz. Selain itu, dalam kajian kitab Madza Khasru Al-‘Alam bi Inhithoti Al-Muslimin di Akademi Bashimat Atsar Al-Dauli, Kurniawan memperoleh predikat Jayyid. Kedua capaian tersebut menjadi bagian dari upayanya memperluas pengetahuan dan memperdalam pemahaman terhadap literatur keislaman.
Bagi seorang pendakwah, pengembangan ilmu secara berkelanjutan menjadi kebutuhan penting. Materi yang disampaikan kepada masyarakat perlu didukung pengetahuan yang memadai, sementara cara penyampaiannya harus mempertimbangkan kebutuhan dan tingkat pemahaman jamaah. Dengan bekal pendidikan bahasa Arab, agama Islam, dan pengalaman mengikuti kajian, Kurniawan terus mengembangkan kapasitasnya untuk menjalankan peran tersebut.
Berdakwah dari Masjid Raya Makassar hingga Layar Televisi
Saat ini, kiprah Kurniawan berlangsung melalui dua ruang pengabdian. Sebagai imam dan da’i di Masjid Raya Makassar, ia menjalankan peran keagamaan yang berhubungan langsung dengan jamaah. Sementara melalui Fajar TV Makassar, ia memperoleh ruang untuk menyampaikan pesan dakwah kepada masyarakat melalui media penyiaran.
Kedua ruang tersebut memiliki karakter yang berbeda. Di masjid, dakwah berlangsung dalam kedekatan dengan jamaah. Melalui televisi, pesan keagamaan dapat menjangkau pemirsa di luar lingkungan masjid. Perbedaan ini menuntut kemampuan menyesuaikan bahasa, materi, dan cara penyampaian.
Di tengah perkembangan teknologi informasi, seorang pendakwah juga menghadapi tantangan untuk menyampaikan ajaran Islam secara relevan tanpa kehilangan kedalaman substansinya. Dakwah bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang mendengar, tetapi juga seberapa baik pesan dapat dipahami dan diamalkan. Perjalanan Kurniawan memperlihatkan bagaimana kemampuan komunikasi dan penguasaan ilmu agama dapat dikembangkan melalui berbagai ruang pengabdian.
Kampus Membentuk Ilmu, Proses Membentuk Karakter
Salah satu pengalaman yang berkesan bagi Kurniawan adalah perbedaan suasana belajar antara pesantren dan perguruan tinggi. Ia memandang pendidikan kampus memberikan wawasan yang lebih luas serta mempertemukannya dengan tantangan pembelajaran yang berbeda. Menurut pandangannya, keberhasilan dalam perkuliahan tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, kedisiplinan, dan kesungguhan untuk menyelesaikan setiap tahapan pendidikan.
Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya bahwa pendidikan bukan semata-mata proses memperoleh pengetahuan, melainkan juga membangun ketahanan karakter. Nilai inilah yang relevan dengan peran seorang imam dan da’i. Seorang pendakwah tidak hanya dituntut memahami ilmu agama, tetapi juga menunjukkan keteladanan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Bagi UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, perjalanan Kurniawan menjadi salah satu gambaran keterhubungan antara pendidikan akademik, pembentukan karakter, dan pengabdian kepada masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan Catur Dharma UMI, sebagaimana dirumuskan dalam Statuta UMI Tahun 2024, Pasal 1 angka 4, yang meliputi Pendidikan dan Pengajaran; Penelitian; Pengabdian kepada Masyarakat; serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Muh Kurniawan merupakan lulusan UMI tahun 2026 yang menekuni bidang Pendidikan Bahasa Arab dan Pendidikan Agama Islam. Selama proses pengembangan keilmuannya, ia meraih prestasi dalam kompetisi pidato bahasa Arab dan ceramah zakat, serta mengikuti kajian keislaman melalui lembaga pendidikan di luar negeri. Kini, ia menjalankan peran sebagai imam dan da’i di Masjid Raya Makassar, sekaligus terlibat dalam kegiatan dakwah melalui Fajar TV Makassar.
Kiprahnya memperlihatkan bahwa ilmu yang diperoleh selama pendidikan dapat diterapkan melalui pengabdian yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari ruang kuliah menuju mimbar masjid dan layar televisi, Muh Kurniawan membawa satu pesan sederhana: ilmu agama menemukan maknanya ketika dipelajari dengan sungguh-sungguh, diamalkan dengan keteladanan, dan disampaikan untuk kebaikan umat.
DARI PENDIDIKAN BAHASA ARAB DAN AGAMA ISLAM UMI, MENUJU DAKWAH, KETELADANAN, DAN SYIAR ISLAM DI TENGAH MASYARAKAT. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































