Dari Kampus, Menjadi Dampak - Muh. Subhan Mulyana Yusran: Dari Teknik Industri UMI, Kini Menjadi Foreman Safety PT Mining Abadi Indonesia, Membangun Budaya K3 di Pertambangan
Berangkat dari Teknik Industri Universitas Muslim Indonesia (UMI), Muh. Subhan Mulyana Yusran, S.T. membangun karier di bidang keselamatan pertambangan dan kini menjadi Foreman Safety di PT Mining Abadi Indonesia. Dari safety patrol, Stop Work Authority, investigasi insiden hingga kampanye keselamatan, ia membawa satu gagasan: K3 tidak boleh berhenti sebagai aturan, tetapi harus tumbuh menjadi budaya kerja yang membuat setiap orang berani menjaga dirinya dan orang lain.
MAKASSAR, umi.ac.id — Di pertambangan, keselamatan kadang ditentukan oleh satu keputusan sederhana: lanjut atau berhenti. Ketika cuaca berubah ekstrem di jalur hauling, ketika operator mulai kehilangan konsentrasi karena kelelahan, atau ketika kondisi lapangan menunjukkan risiko yang tidak dapat diterima, keputusan untuk menghentikan pekerjaan dapat terasa tidak populer.
Produksi tertunda.
Target dapat terganggu.
Operasi harus menunggu.
Tetapi bagi Muh. Subhan Mulyana Yusran, S.T., ada sesuatu yang tidak boleh dinegosiasikan: orang yang datang bekerja harus memiliki kesempatan yang sama untuk pulang dengan selamat.
Prinsip itu menjadi bagian dari perjalanan alumnus Teknik Industri Universitas Muslim Indonesia tersebut dalam membangun karier di bidang keselamatan dan kesehatan kerja. Kini Subhan menjalankan amanah sebagai Foreman Safety di PT Mining Abadi Indonesia.
Dari Teknik Industri UMI menuju Dunia K3
Subhan menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Industri Universitas Muslim Indonesia pada 2019–2023. Selama menjadi mahasiswa, ia tidak hanya belajar di ruang kuliah. Ia aktif dalam Himpunan Mahasiswa Teknik Industri sebagai Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi serta di Badan Legislatif Mahasiswa sebagai Ketua Komisi B Akademik dan Kemahasiswaan.
Tetapi bekal yang paling kuat dari Teknik Industri justru terletak pada cara melihat persoalan. Sebuah pekerjaan bukanlah aktivitas yang berdiri sendiri.
Ada manusia.
Mesin.
Metode.
Lingkungan.
Waktu.
Informasi.
Risiko.
Dan keputusan.
Semua saling terhubung. Cara berpikir sistem inilah yang kemudian menemukan ruang aplikasinya dalam K3. Keselamatan bukan satu bagian kecil dari operasi. Keselamatan adalah cara sebuah operasi seharusnya bekerja.
Mengenal Safety sejak Mahasiswa
Ketertarikan Subhan terhadap HSE tumbuh ketika masih menjadi mahasiswa. Pada awal 2022, ia memperoleh pengalaman sebagai Safety di PT Semen Bosowa Maros. Di sana ia mulai berhadapan dengan praktik keselamatan secara langsung.
Safety talk.
Briefing.
Inspeksi.
Observasi lapangan.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan kenyataan bahwa prosedur yang terlihat sederhana di atas kertas harus diterapkan oleh manusia dengan kondisi, kebiasaan, tekanan, dan lingkungan kerja yang berbeda.
Pada 2023, ia kemudian bergabung dengan PT Fusi Teknika Indonesia, sebuah PJK3, pada bagian administrasi dan marketing. Dari sana ia memperoleh perspektif lain mengenai ekosistem pelatihan K3 dan kemudian memperkuat kompetensinya melalui sertifikasi Ahli K3 Umum. Tetapi dunia yang benar-benar menguji pemahamannya tentang keselamatan datang ketika ia masuk ke sektor pertambangan.
Ketika Keselamatan Diuji di Jalur Hauling
Di PT Jaga Usaha Sandai, Subhan menjalankan tugas sebagai Safety Patrol Hauling. Jalur hauling mempertemukannya langsung dengan berbagai risiko operasional. Ia melakukan patroli. Memeriksa kelayakan infrastruktur. Melakukan speed check. Mengidentifikasi perilaku tidak aman. Mengawasi kondisi operator. Dan memastikan potensi bahaya tidak dibiarkan berkembang menjadi insiden.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika kondisi cuaca ekstrem meningkatkan risiko pada jalur hauling kritis. Subhan menggunakan Stop Work Authority (SWA). Pekerjaan dihentikan. Risiko harus dikendalikan terlebih dahulu. Keputusan serupa juga harus dilakukan ketika ditemukan indikasi fatigue pada operator.
Bagi Subhan, pengalaman tersebut mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi mendasar: keberanian dalam K3 kadang bukan keberanian untuk melanjutkan pekerjaan, tetapi keberanian mengatakan: berhenti dulu.
Stop Work Authority: Ketika "Berhenti" Menjadi Bentuk Perlindungan
Dalam lingkungan operasional, menghentikan pekerjaan bukan keputusan ringan. Ada target. Ada waktu. Ada alat. Ada produktivitas. Ada rangkaian pekerjaan lain yang mungkin ikut terdampak.
Tetapi keselamatan memiliki logika yang berbeda. Ketika risiko tidak dapat diterima, pekerjaan tidak seharusnya dipaksakan berjalan hanya karena target harus dicapai. Di sinilah Stop Work Authority memiliki makna. Bukan sebagai hambatan produksi. Tetapi sebagai mekanisme perlindungan.
Produksi dapat dijadwalkan kembali. Keselamatan manusia tidak memiliki tombol ulang.
Pengalaman lapangan tersebut semakin memperkuat keyakinan Subhan bahwa K3 merupakan bagian dari urat nadi operasional, terutama pada sektor dengan tingkat risiko tinggi seperti pertambangan.
Memperkuat Kompetensi Keselamatan Pertambangan
Pengalaman lapangan kemudian diikuti dengan penguatan kompetensi. Subhan memperluas pengetahuannya melalui sejumlah pelatihan dan sertifikasi, antara lain: Ahli K3 Umum. Pengawas Operasional Pertama. Training of Trainer Level 4. Serta Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan.
Bagi seorang praktisi keselamatan, kompetensi teknis menjadi penting karena keputusan di lapangan tidak cukup hanya mengandalkan intuisi. Risiko harus dikenali. Dinilai. Dikendalikan. Diperiksa kembali. Dan diperbaiki secara berkelanjutan.
Dari Investigasi Insiden menuju Pertanyaan yang Lebih Dalam
Pengalaman berikutnya membawa Subhan pada bagian lain dari keselamatan kerja: investigasi insiden. Ia memperoleh pengalaman memfasilitasi dan memimpin investigasi menggunakan pendekatan Root Cause Analysis (RCA) di PT Logistik Sumber Daya dan PT Mining Abadi Indonesia.
Dari proses tersebut, cara pandangnya terhadap insiden semakin berkembang. Ketika sebuah kecelakaan atau near miss terjadi, pertanyaan paling mudah adalah: "Siapa yang salah?" Tetapi pertanyaan itu belum tentu menyelesaikan masalah.
Ada pertanyaan yang lebih penting: "Mengapa sistem memungkinkan kejadian ini terjadi?" Apakah prosedurnya memadai? Apakah komunikasi berjalan? Apakah pengawasan efektif? Apakah pekerja memahami risiko? Apakah desain pekerjaan menciptakan tekanan tertentu? Apakah pengendalian benar-benar bekerja?
Di sinilah investigasi bergerak dari mencari kesalahan menuju mencari akar masalah.
Bukan Mencari Siapa yang Salah
Bagi Subhan, investigasi insiden seharusnya tidak berhenti pada identifikasi individu. Tujuannya adalah recurrence prevention—mencegah kejadian serupa berulang.
Karena itu, Root Cause Analysis menjadi penting. Sebuah insiden dapat terlihat sebagai kesalahan manusia di permukaan. Tetapi di belakangnya mungkin terdapat persoalan sistem.
Pengawasan.
Komunikasi.
Kompetensi.
Prosedur.
Perencanaan.
Atau pengendalian risiko.
Cara berpikir Teknik Industri kembali bekerja di sini. Jangan hanya memperbaiki orang yang melakukan kesalahan. Periksa juga sistem yang membuat kesalahan itu mungkin terjadi.
Ketika Laporan Investigasi Harus Kembali ke Lapangan
Ada satu persoalan lain yang diperhatikan Subhan. Investigasi dapat menghasilkan laporan yang sangat baik. Lengkap. Teknis. Penuh tabel. Penuh rekomendasi. Tetapi apa yang terjadi jika laporan itu hanya dibaca oleh beberapa orang?
Subhan mencoba membawa hasil investigasi kembali ke pekerja. Temuan dari RCA diterjemahkan menjadi materi Safety Campaign. Video edukasi. Poster. Pesan visual. Kasus nyata dari lapangan disederhanakan menjadi materi yang lebih mudah dipahami.
Di sinilah pengalaman organisasinya sebagai Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi ketika menjadi mahasiswa Teknik Industri UMI serta kompetensi desain grafis memperoleh ruang baru.
Komunikasi ternyata menjadi bagian penting dari keselamatan. Risiko yang dipahami oleh tim HSE belum tentu menjadi risiko yang dipahami oleh pekerja. Karena itu, keselamatan juga membutuhkan kemampuan menerjemahkan.
Dari Safety Report menuju Safety Story
Subhan melihat bahwa laporan keselamatan berisi data. Tetapi manusia tidak selalu berubah hanya karena membaca data. Kadang orang lebih mudah memahami sebuah risiko ketika melihat kejadian yang dekat dengan kehidupannya sendiri. Sebuah near miss dapat menjadi pelajaran. Sebuah pelanggaran dapat menjadi bahan refleksi. Sebuah investigasi dapat menjadi cerita keselamatan.
Karena itu, hasil investigasi tidak harus berhenti sebagai Safety Report. Ia dapat diubah menjadi Safety Story. Cerita yang membuat pekerja memahami: "Ini pernah terjadi." "Ini bisa terjadi kepada saya." "Dan ini yang harus saya lakukan agar tidak terulang."
Tantangan Terbesar: Patuh karena Diawasi atau Peduli karena Sadar?
Di titik inilah perjalanan Subhan masuk ke persoalan yang lebih mendasar. Sebuah perusahaan dapat memiliki prosedur yang lengkap. Poster keselamatan dapat dipasang. APD dapat tersedia. Inspeksi dapat dilakukan. Audit dapat dilaksanakan. Tetapi budaya keselamatan baru benar-benar diuji ketika tidak ada orang yang mengawasi.
Apakah pekerja tetap mengikuti prosedur? Apakah seorang operator berani melaporkan bahwa dirinya mengalami fatigue? Apakah pekerja berani mengatakan bahwa sebuah pekerjaan tidak aman? Apakah bawahan berani mengingatkan atasannya? Apakah near miss dilaporkan atau justru disembunyikan?
Di sinilah Subhan melihat perbedaan antara kepatuhan keselamatan dan budaya keselamatan. Kepatuhan bekerja ketika ada aturan. Budaya bekerja bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Psychological Safety dan Speak Up Culture
Karena itu, perhatian Subhan berkembang pada Psychological Safety dan Speak Up Culture. Lingkungan kerja yang aman tidak cukup hanya memiliki APD dan prosedur. Orang juga harus merasa aman untuk berbicara. Mengatakan: "Saya lelah." "Saya melihat kondisi tidak aman." "Prosedur ini sulit diterapkan." "Saya hampir mengalami kecelakaan." "Menurut saya pekerjaan ini harus dihentikan."
Keberanian berbicara seperti itu penting karena pekerja lapangan sering menjadi orang pertama yang melihat risiko sebelum risiko tersebut berkembang menjadi insiden. Budaya keselamatan dimulai ketika orang tidak takut mengatakan bahwa sesuatu tidak aman.
Data sebagai Leading Indicator
Cara berpikir Teknik Industri kembali terlihat ketika Subhan menggunakan data keselamatan. Data harian mengenai pelanggaran, temuan inspeksi, perilaku tidak aman, maupun kondisi tidak aman tidak harus menunggu kecelakaan terjadi untuk menjadi berguna.
Data tersebut dapat dibaca sebagai leading indicator. Tren dapat diamati. Pola dapat ditemukan. Area berisiko dapat dikenali. Intervensi dapat dilakukan lebih awal. Pendekatan tersebut kemudian dikaitkan dengan proses perbaikan berkelanjutan melalui pola Plan–Do–Check–Act (PDCA) dalam pengawalan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan dan manajemen risiko.
Keselamatan dengan demikian tidak lagi hanya bersifat reaktif. Ia bergerak menuju pencegahan.
Kini Menjadi Foreman Safety PT Mining Abadi Indonesia
Perjalanan tersebut kini membawa Subhan pada tanggung jawab sebagai Foreman Safety di PT Mining Abadi Indonesia. Dalam perannya, ia memimpin dan mengoordinasikan tim safety serta admin HSE. Ia terlibat dalam penyusunan HSE Plan. Mengawal inspeksi dan identifikasi bahaya. Memimpin investigasi insiden. Mengembangkan pelatihan. Mengawasi kesiapsiagaan tanggap darurat. Serta mengembangkan media promosi keselamatan.
Posisi tersebut membuat tanggung jawabnya tidak lagi hanya mengenai apa yang ia lakukan sendiri. Ada tim yang harus dikoordinasikan. Ada sistem yang harus dijaga. Ada data yang harus dibaca. Ada temuan yang harus ditindaklanjuti. Dan ada budaya yang perlahan harus dibangun.
Dari Penjaga Aturan menuju Perancang Budaya Keselamatan
Di sinilah perjalanan Subhan memiliki pembeda. Pada awal karier, keselamatan banyak berbicara tentang inspeksi dan kepatuhan. Seiring pengalaman, pertanyaannya berkembang. Bagaimana membuat pekerja tidak hanya patuh karena diawasi? Bagaimana membuat seseorang berani menghentikan pekerjaan? Bagaimana membuat near miss menjadi pembelajaran? Bagaimana membuat hasil RCA kembali dipahami pekerja? Bagaimana membuat data digunakan sebelum kecelakaan terjadi? Dan bagaimana menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa memiliki keselamatan?
Perubahan cara berpikir tersebut dapat diringkas dalam satu gagasan: "Dari Compliance menuju Ownership." Dari patuh karena aturan menuju peduli karena merasa memiliki.
Zero Accident Bukan Satu-satunya Cerita
Subhan juga melihat keselamatan tidak seharusnya hanya dibaca dari satu angka: Zero Accident. Tidak adanya kecelakaan tentu menjadi tujuan penting. Namun angka nol belum selalu menjelaskan bagaimana budaya keselamatan bekerja.
Apakah pekerja berani melaporkan near miss? Apakah mereka berani speak up? Apakah supervisor menerima masukan keselamatan? Apakah temuan ditindaklanjuti? Apakah risiko dikenali sebelum menjadi insiden? Apakah Stop Work Authority benar-benar dapat digunakan tanpa rasa takut?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu melihat sesuatu yang lebih dalam daripada statistik. Budaya keselamatan bukan hanya ketika tidak ada kecelakaan. Budaya keselamatan adalah ketika semua orang berani mencegah kecelakaan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Muh. Subhan Mulyana Yusran, S.T. memulai perjalanan profesionalnya dari Teknik Industri Universitas Muslim Indonesia. Dari kampus, ia membawa cara berpikir sistem. Dari pengalaman Safety di PT Semen Bosowa Maros, ia mengenal praktik keselamatan lapangan. Dari PJK3, ia memahami ekosistem pelatihan. Dari jalur hauling, ia belajar keberanian menggunakan Stop Work Authority. Dari investigasi insiden, ia belajar mencari akar masalah. Dari komunikasi, ia belajar mengubah hasil investigasi menjadi pesan keselamatan. Dari data, ia belajar membaca risiko sebelum kecelakaan terjadi. Dan kini, sebagai Foreman Safety PT Mining Abadi Indonesia, ia membawa seluruh pengalaman tersebut menuju satu tujuan yang lebih besar: mengubah keselamatan dari aturan menjadi budaya kerja.
Perjalanan kariernya masih panjang. Tetapi arah yang ingin dibangunnya sudah jelas. Bukan sekadar pekerja yang patuh. Melainkan pekerja yang peduli. Bukan sekadar prosedur yang tersedia. Melainkan keberanian untuk menggunakannya. Bukan sekadar Zero Accident. Melainkan lingkungan kerja tempat setiap orang merasa memiliki keselamatan.
Dari compliance menuju ownership. Dari aturan menuju budaya. Karena pada akhirnya, keberhasilan keselamatan bukan hanya tentang berapa banyak orang yang datang bekerja. Tetapi memastikan mereka dapat pulang dengan selamat. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































