Dari Kampus, Menjadi Dampak - Septian Iskandar, Alumni Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri UMI, Kini Engineering Manager PT Pamitra Jaya Konstruksi
MAKASSAR, umi.ac.id — Septian Iskandar memulai kariernya sebagai insinyur sipil lapangan pada proyek pabrik semen di Palimanan. Kini, alumni Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) itu mengoordinasikan pekerjaan rekayasa untuk dua proyek infrastruktur energi, yakni Terminal LPG Kolaka dan Terminal Terpadu Palaran di Samarinda. Pada kedua proyek tersebut, ia memimpin tim rekayasa lintas disiplin, mengawal penyelesaian dokumen teknis, dan menyelaraskan pekerjaan tim rekayasa dengan kebutuhan pengadaan dan konstruksi.
Dari Lapangan Konstruksi ke Terminal LPG
Septian lulus dari Program Studi Teknik Sipil Universitas Diponegoro pada 2007. Dua tahun kemudian, ia bergabung dengan PT Wijaya Karya sebagai Field Civil Engineer pada proyek PCC Grinding Plant P9/P10 milik Indocement di Palimanan. Di lapangan, ia bekerja dengan gambar teknik, metode konstruksi, kebutuhan material dan peralatan, serta koordinasi dengan tim pelaksana.
Kariernya berlanjut ke proyek Terminal LPG Tanjung Sekong di Merak sebagai Pelaksana Utama. Pada proyek Terminal LPG Makassar, ia menjalankan beberapa peran, mulai dari Civil Engineer dan Pelaksana Utama Sipil hingga Manajer Konstruksi Sipil dan Mekanikal. Tanggung jawabnya pun berkembang dari menangani pekerjaan sipil menjadi mengoordinasikan pekerjaan lintas disiplin.
Mengawal Proyek dari Desain hingga Pengoperasian Awal
Pada 2014–2017, Septian menjabat Engineering Manager pada proyek peningkatan fasilitas terminal bensin dan pembangunan Inline Blending System Pertamina Patra Niaga di Tanjung Uban. Ia mengoordinasikan tim proses, mekanikal, perpipaan, kelistrikan, instrumentasi, dan sipil. Ia juga mengatur jadwal penyelesaian dokumen rekayasa serta membahas persoalan teknis bersama klien dan tim pengadaan serta konstruksi.
Pada 2018, ia menjadi Commissioning Manager di proyek yang sama. Tugasnya mencakup penyusunan prosedur pengujian dan penyiapan fasilitas sebelum dioperasikan, pemantauan hasil pemeriksaan, serta koordinasi dengan klien dan pengguna akhir. Ia juga memimpin kegiatan pengoperasian awal atau start-up.
Pengalaman konstruksinya berlanjut di proyek NPK Fusion II Plant Pusri di Palembang. Sebagai Manajer Konstruksi pada 2018–2020, ia mengoordinasikan pekerjaan sipil, mekanikal, perpipaan, kelistrikan, dan instrumentasi sekaligus mengawal pemenuhan persyaratan mutu dan keselamatan kerja. Pada 2020–2021, ia menjalankan fungsi Project Control untuk proyek-proyek divisi minyak dan gas di kantor pusat PT Wijaya Karya.
Dari Atap Stadion ke Sistem Pemadam Kebakaran Kilang
Pada 2021–2022, Septian menjadi Engineering Manager pada proyek struktur atap buka-tutup Jakarta International Stadium. Ia mengoordinasikan insinyur lintas disiplin serta mendukung penyusunan metode kerja, kajian teknis, dan kegiatan commissioning.
Dari Juni 2022 hingga Juli 2023, ia menjabat Project Manager pada proyek jalur pipa air pemadam kebakaran Area 70 Kilang Pertamina Internasional di Cilacap. Ia mengelola jadwal proyek dan mengendalikan pekerjaan rekayasa, pengadaan, konstruksi, serta commissioning, dengan tanggung jawab atas mutu dan keselamatan pelaksanaan.
Setelah 15 tahun berkarya di PT Wijaya Karya, kini ia menjabat sebagai Engineering Manager di PT Pamitra Jaya Konstruksi sejak 2024. Saat ini ia memimpin kegiatan engineering pada dua proyek EPC, yaitu proyek Terminal LPG Kolaka dan proyek Terminal Terpadu Palaran. Ia membawa pengalaman yang dibangun sejak menjadi insinyur lapangan: memahami bagaimana keputusan di meja desain memengaruhi fungsi pengadaan, pelaksanaan konstruksi, dan kesiapan fasilitas untuk dioperasikan.
DARI PROGRAM PROFESI INSINYUR FTI UMI, MENUJU KONTRIBUSI DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR ENERGI. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































