Dari Kampus, Menjadi Dampak - Nasruddin Made: Alumni Teknik Kimia UMI, Kini Head of Quality Control PT Semen Bosowa Maros
Hampir tiga dekade berkarier di industri semen, Ir. H. Nasruddin Made, S.T., M.M., IPU. memulai perjalanan dari analis laboratorium hingga dipercaya memimpin fungsi quality assurance, pemasaran, pabrik, produksi, procurement dan logistik. Alumnus Teknik Kimia FTI UMI ini kini menjabat Head of Quality Control PT Semen Bosowa Maros.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tahun 1998 menjadi titik temu antara dua perjalanan penting dalam kehidupan profesional Ir. H. Nasruddin Made, S.T., M.M., IPU. Pada tahun itu, ia menyelesaikan pendidikan di Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI). Pada periode yang sama, perjalanan profesionalnya di industri semen dimulai. Ia masuk dari laboratorium sebagai analis.
Hampir tiga dekade kemudian, setelah melintasi berbagai fungsi strategis perusahaan, Nasruddin kini kembali berada pada bidang yang menjadi salah satu fondasi awal kariernya: Head of Quality Control PT Semen Bosowa Maros.
Karier Dimulai dari Laboratorium
Nasruddin memulai karier sebagai Analis Quality Assurance Department pada 1998–2000. Laboratorium menjadi ruang awal baginya memahami industri semen secara langsung. Ia kemudian dipercaya menjalankan sejumlah tanggung jawab teknis sebagai Kepala Laboratorium Kimia, Quality Controller, Kepala Laboratorium Fisika, hingga Supervisor Physical and Chemical Laboratory.
Fase tersebut memberinya pemahaman mengenai karakteristik bahan, proses pengujian, konsistensi produk, dan pentingnya ketelitian dalam industri semen. Pada 2008–2010, tanggung jawabnya meningkat ketika dipercaya menjadi Manager Quality Assurance.
Tetapi perjalanan berikutnya tidak lagi hanya berada di sekitar laboratorium.
Dari Mutu, Pemasaran, Produksi hingga Logistik
Nasruddin kemudian memperoleh kesempatan melihat perusahaan dari perspektif yang jauh lebih luas. Ia pernah dipercaya sebagai General Manager Marketing. Setelah itu, ia kembali ke bidang teknis sebagai General Manager Quality Control. Kariernya berlanjut sebagai Manager Plant Semen Bosowa Banyuwangi, kemudian General Manager Produksi Plant Maros, hingga General Manager Procurement & Logistic.
Rangkaian jabatan tersebut membuatnya mengenal industri semen bukan hanya dari kualitas produk, tetapi dari hubungan antarfungsi yang menentukan kinerja perusahaan. Produksi membutuhkan bahan baku dan proses yang terkendali. Pengendalian mutu memastikan produk memenuhi standar. Procurement dan logistik menjaga ketersediaan serta pergerakan sumber daya. Pemasaran mempertemukan produk dengan kebutuhan konsumen.
Pengalaman lintas fungsi inilah yang kemudian memperkaya perspektif Nasruddin ketika kembali dipercaya memimpin pengendalian mutu. Mutu tidak lahir di laboratorium. Mutu dibangun sejak awal proses.
Kini Head of Quality Control PT Semen Bosowa Maros
Setelah menjalani berbagai posisi, Nasruddin kini dipercaya sebagai Head of Quality Control PT Semen Bosowa Maros. Posisi tersebut seolah mempertemukan kembali awal karier dengan pengalaman panjang yang diperolehnya selama hampir tiga dekade.
Bedanya, ia kembali ke quality control dengan perspektif yang jauh lebih lengkap. Ia pernah berada di laboratorium. Memimpin quality assurance. Mengelola pemasaran. Memimpin plant. Mengelola produksi. Hingga menangani procurement dan logistik.
Karena itu, mutu baginya tidak hanya berkaitan dengan hasil pengujian produk akhir. Mutu merupakan hasil dari keseluruhan sistem yang bekerja dengan benar.
Inilah yang dapat disebut: "Mutu dari Hulu ke Hilir."
Sebuah cara pandang bahwa kualitas produk merupakan hasil dari disiplin proses, manusia, bahan, peralatan, pengujian, keselamatan, hingga distribusi yang saling terhubung.
Menjaga Sistem, Bukan Hanya Produk
Pengalaman panjang Nasruddin juga membawanya terlibat dalam penerapan berbagai sistem manajemen. Sejak 2020, ia tercatat menjadi Management Representative dalam implementasi ISO 9001, ISO 14001, SMK3, dan ISO 17025. Ia juga terlibat dalam Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).
Rangkaian tanggung jawab tersebut memperlihatkan bahwa kualitas dalam industri modern tidak dapat dipisahkan dari sistem manajemen. ISO 9001 berkaitan dengan manajemen mutu. ISO 14001 dengan pengelolaan lingkungan. SMK3 dengan keselamatan dan kesehatan kerja. ISO 17025 dengan kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi. Keempatnya bertemu pada kebutuhan yang sama: proses yang terukur, konsisten, terdokumentasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Persoalan Lapangan Menjadi Inovasi
Pengalaman di industri juga menghasilkan sejumlah inovasi. Nasruddin pernah meraih Juara 1 TQM melalui karya Re Use Solven Pengujian Free Lime pada Proses Pengendalian dan Pengontrolan Kualitas Semen. Ia juga memperoleh penghargaan sebagai karyawan inovatif dan kreatif dalam mendukung efisiensi biaya produksi.
Yang menarik, inovasi tersebut lahir dari persoalan yang sangat dekat dengan pekerjaan sehari-hari. Ada proses yang dapat diperbaiki. Ada bahan yang dapat digunakan lebih efisien. Ada biaya yang dapat ditekan tanpa mengabaikan kualitas.
Di sinilah pengalaman teknis memperoleh nilai tambah.
Inovasi industri sering kali tidak dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dimulai dari keberanian mempertanyakan proses yang dilakukan setiap hari.
Membawa Pengalaman Industri ke Ruang Belajar
Nasruddin tidak menyimpan pengalaman tersebut hanya di dalam perusahaan. Ia aktif menjadi pemateri, trainer, asesor, serta berbagi pengalaman dengan generasi berikutnya. Ia pernah menjadi pengajar dan trainer Fresh Graduate Development Program, asesor Operator Central Control Room Asosiasi Semen Indonesia, trainer bagi tukang dan mandor bangunan mengenai penggunaan semen secara efektif dan efisien, serta pengajar dan pembimbing program retooling.
Ia juga beberapa kali memberikan kuliah umum di perguruan tinggi, termasuk di FTI UMI. Materinya bergerak dari proses produksi dan pengendalian kualitas semen hingga kesiapan memasuki dunia kerja.
Pengalaman profesionalnya juga dituangkan dalam sejumlah karya tulis, antara lain Panduan Buku Saku Metode Penggunaan Bahan dalam Adukan Campuran dan Beton, Peran Teknikal Service untuk Peningkatan Volume Penjualan, serta Metode Pengendalian Mutu Semen.
Dengan cara itu, pengalaman industri berubah menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari kembali oleh orang lain.
Tetap Terhubung dengan FTI UMI
Hampir tiga dekade berada di industri tidak memutus hubungan Nasruddin dengan almamaternya. Ia aktif dalam Ikatan Alumni Fakultas Teknologi Industri UMI.
Pada periode 2017–2021, ia pernah menjadi Wakil Ketua Bidang Dana Ikatan Alumni FTI UMI. Kemudian pada periode 2022–2026, ia dipercaya sebagai Ketua Harian Ikatan Alumni FTI UMI. Ia juga mendapat amanah sebagai Plt. Ketua Ikatan Alumni Teknik Kimia FTI UMI.
Keterhubungan ini penting karena pengalaman industri yang panjang memiliki nilai besar ketika dipertemukan kembali dengan mahasiswa dan lingkungan akademik. Industri mengetahui kompetensi apa yang dibutuhkan. Kampus mempersiapkan generasi yang akan memasuki industri. Alumni dapat menjadi penghubung keduanya.
Hampir Tiga Dekade, Kembali pada Mutu
Jika perjalanan Nasruddin ditarik dalam satu garis, kariernya tidak bergerak lurus. Ia justru bergerak melintasi berbagai fungsi. Laboratorium → Quality Assurance → Marketing → Quality Control → Plant Management → Produksi → Procurement & Logistic → Quality Control.
Perjalanan lintas fungsi itu menjadi pembeda. Ia tidak kembali ke pengendalian mutu dengan perspektif yang sama seperti ketika pertama kali memasuki laboratorium pada 1998. Kini ia membawa pengalaman melihat industri dari berbagai sisi. Karena pada akhirnya: orang yang menjaga mutu harus memahami proses yang melahirkan mutu.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Ir. H. Nasruddin Made, S.T., M.M., IPU. memulai perjalanan profesionalnya setelah menyelesaikan pendidikan Teknik Kimia FTI Universitas Muslim Indonesia pada 1998. Dari posisi analis, kariernya berkembang hingga berbagai fungsi manajerial di industri semen. Kini, hampir tiga dekade kemudian, ia dipercaya sebagai Head of Quality Control PT Semen Bosowa Maros.
Perjalanannya menunjukkan satu hal penting: mutu bukan pekerjaan terakhir setelah produk selesai. Mutu adalah disiplin yang harus hadir sejak proses dimulai.
Dari Teknik Kimia UMI menuju industri semen. Dari laboratorium menuju kepemimpinan lintas fungsi. Dan setelah memahami industri dari berbagai sisi, kembali menjaga sesuatu yang menjadi fondasi perjalanan profesionalnya: mutu. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































