Dari Kampus, Menjadi Dampak - Nur Azizah: Alumni Teknik Pertambangan UMI, Kini Foreman HR PT Hebei Geologikal Indonesia
Dari Teknik Pertambangan FTI Universitas Muslim Indonesia (UMI), Nur Azizah membangun karier di industri pertambangan dari persoalan teknis tambang, administrasi produksi, pengelolaan proyek, hingga sumber daya manusia. Mantan Ketua Umum HMTP FTI UMI ini kemudian dipercaya sebagai Foreman HR PT Hebei Geologikal Indonesia di site PT Toshida Indonesia, dengan tanggung jawab yang mempertemukan perusahaan, pekerja, kontraktor, serikat buruh, dan masyarakat lingkar tambang.
MAKASSAR, umi.ac.id — Pertambangan tidak hanya digerakkan oleh alat berat, produksi, dan teknologi. Di balik seluruh aktivitas tersebut ada manusia yang mengoperasikan, mengawasi, mengambil keputusan, dan menjaga hubungan kerja. Di ruang inilah Nur Azizah, alumnus Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia, membangun perjalanan profesionalnya.
Lulus pada 2020, Nur Azizah memulai pengalaman profesional dari persoalan teknis pertambangan. Kariernya kemudian berkembang melalui administrasi produksi, pengelolaan proyek, hingga sumber daya manusia.
Kini, ia dipercaya sebagai Foreman HR PT Hebei Geologikal Indonesia di site PT Toshida Indonesia.
Memulai dari Persoalan Teknis Tambang
Nur Azizah memperoleh pengalaman awal melalui kegiatan magang di PT Anugerah Bara Kaltim pada 2020. Di sana, ia terlibat dalam penelitian dan penanganan air asam tambang, salah satu persoalan lingkungan yang berkaitan langsung dengan aktivitas pertambangan.
Pengalaman tersebut memberinya pemahaman awal bahwa operasi tambang bukan sekadar mengambil mineral dari bumi. Ada proses teknis dan konsekuensi lingkungan yang harus dikelola secara bertanggung jawab.
Memahami Produksi dari Data
Kariernya kemudian berkembang sebagai Admin Produksi PT Hebei Geologikal Indonesia site PT Bumi Morowali Utara. Nur Azizah menangani pembaruan database produksi, timesheet, absensi, cuti, induksi operator dan pengemudi, hingga laporan produksi harian, mingguan, dan bulanan.
Dari sini ia mulai melihat hubungan antara aktivitas lapangan dan data operasional perusahaan. Produksi harus dicatat. Waktu kerja harus dihitung. Tenaga kerja harus dikelola. Dan aktivitas lapangan harus diterjemahkan menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Memperluas Pengalaman sebagai Project Officer
Pengalaman berikutnya diperoleh ketika Nur Azizah menjadi Project Officer PT Satu Tujuh Muamalat site PT Timah Investasi Mineral. Cakupan tanggung jawabnya semakin luas, meliputi administrasi karyawan, kontrak, payroll, database dan laporan produksi, induksi, hingga perencanaan dan pelaporan plant, logistik, keuangan, serta purchasing.
Fase ini mempertemukannya dengan berbagai fungsi yang harus bergerak bersama dalam sebuah proyek pertambangan. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi jembatan menuju bidang yang kemudian semakin dominan dalam perjalanan profesionalnya: human resources.
Dari Teknik Pertambangan menuju Human Resources
Sebagai HR Officer PT Hebei Geologikal Indonesia site PT Karyatama Konawe Utara, Nur Azizah mulai menangani sumber daya manusia secara langsung. Tanggung jawabnya meliputi rekrutmen, penilaian karyawan, kontrak kerja, induksi karyawan baru, payroll, administrasi BPJS dan PPh 21, serta koordinasi dengan perusahaan kontraktor.
Pekerjaannya juga membawanya berinteraksi dengan masyarakat lingkar tambang dan serikat buruh. Di sinilah latar belakang Teknik Pertambangan memperoleh konteks baru. Ia mengelola manusia dengan pemahaman terhadap lingkungan industri tempat mereka bekerja.
Kini Foreman HR PT Hebei Geologikal Indonesia
Perjalanan tersebut kemudian membawanya pada tanggung jawab sebagai Foreman HR PT Hebei Geologikal Indonesia di site PT Toshida Indonesia. Posisi ini menempatkan Nur Azizah pada persimpangan berbagai kepentingan.
Perusahaan membutuhkan produktivitas. Pekerja membutuhkan kepastian dan pengelolaan ketenagakerjaan yang baik. Kontraktor membutuhkan koordinasi. Serikat buruh membawa aspirasi pekerja. Masyarakat lingkar tambang memiliki kepentingan terhadap keberadaan aktivitas industri di wilayah mereka.
HR di lingkungan pertambangan karena itu bukan hanya pekerjaan administratif. Ia juga merupakan pekerjaan mengelola hubungan.
Dari sinilah muncul pembeda perjalanan Nur Azizah: "Human Side of Mining — Sisi Manusia Pertambangan."
Tambang memiliki mesin untuk menggerakkan produksi. Tetapi manusia yang menggerakkan organisasi.
Kepemimpinan Dimulai dari Kampus
Kemampuan mengelola manusia telah memperoleh ruang latihan sejak Nur Azizah menjadi mahasiswa FTI UMI. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTP) FTI UMI. Ia juga pernah menjadi Menteri Dalam Negeri BEM FTI UMI dan aktif sebagai anggota KOHATI HMI Komisariat Teknologi Industri UMI.
Pengalaman organisasi mempertemukannya dengan kepemimpinan, komunikasi, perbedaan pendapat, koordinasi, dan pengambilan keputusan. Bekal tersebut kemudian menemukan ruang penerapannya dalam pekerjaan profesional.
Perempuan di Industri Pertambangan
Nur Azizah juga memiliki perhatian terhadap pemberdayaan perempuan. Di Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Sidenreng Rappang (IPMI SIDRAP) Pusat Makassar, ia pernah dipercaya sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan.
Kini, pilihannya berkarier di industri pertambangan menghadirkan bentuk lain dari gagasan pemberdayaan tersebut. Ia tidak hanya berbicara tentang perempuan dan kepemimpinan. Ia menjalaninya. Dari memimpin organisasi mahasiswa hingga menjadi Foreman HR dalam lingkungan industri pertambangan.
Perjalanan itu memperlihatkan bahwa ruang profesional tidak ditentukan oleh stereotip gender, tetapi oleh kompetensi, kemampuan beradaptasi, tanggung jawab, dan kepemimpinan.
Pengalaman Sosial yang Dibawa ke Dunia Kerja
Semasa mahasiswa, Nur Azizah juga terlibat dalam Tim Satgas Covid-19 KKN Tematik UMI di Kelurahan Duampanua, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang. Ia pernah terlibat pula dalam Sekolah Binaan IPMI SIDRAP BKPT UMI, mengajar siswa sekolah dasar di UPT SDN 6 Batu, Kecamatan Pitu Riase, Sidrap.
Pengalaman tersebut memberinya ruang untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. Ketika kemudian pekerjaannya di bidang HR menuntut koordinasi dengan masyarakat lingkar tambang, pengalaman sosial tersebut memperoleh relevansi baru.
Insinyur Tambang yang Memilih Mengelola Manusia
Perjalanan profesional Nur Azizah tidak berjalan dalam satu garis. Ia bergerak melalui beberapa fungsi: Teknik Pertambangan → Lingkungan Tambang → Administrasi Produksi → Project Officer → HR Officer → Foreman HR.
Setiap fase membentuk kompetensi yang berbeda. Teknik Pertambangan memberinya pemahaman industri. Produksi mengajarkannya membaca operasi melalui data. Project management memperluas kemampuan koordinasi. Human resources membawanya pada pengelolaan pekerja dan hubungan industrial. Pengalaman organisasi memperkuat kemampuan kepemimpinannya.
Kombinasi inilah yang menjadi karakter perjalanan profesional Nur Azizah.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Nur Azizah merupakan alumnus Teknik Pertambangan FTI Universitas Muslim Indonesia lulusan 2020 dan mantan Ketua Umum HMTP FTI UMI. Perjalanan profesionalnya berkembang dari pengalaman teknis dan produksi menuju pengelolaan sumber daya manusia.
Kini ia dipercaya sebagai Foreman HR PT Hebei Geologikal Indonesia di site PT Toshida Indonesia. Posisi tersebut menempatkannya bukan hanya berhadapan dengan administrasi karyawan, tetapi juga dengan kontraktor, serikat buruh, dan masyarakat lingkar tambang. Perjalanannya menghadirkan perspektif yang sering luput ketika berbicara tentang pertambangan: di balik setiap target produksi, ada manusia yang membuatnya mungkin.
Dari Teknik Pertambangan UMI menuju human resources di industri tambang. Dari memimpin mahasiswa menuju mengelola hubungan kerja. Dari gagasan pemberdayaan perempuan menuju pembuktian melalui profesi. Human Side of Mining — Sisi Manusia Pertambangan. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































