Dari Kampus, Menjadi Dampak - Prof. Amar: Alumni Program Profesi Insinyur UMI, Kini Rektor Universitas Tadulako Palu
Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. merupakan alumnus Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) Angkatan V Tahun 2019. Dari perjalanan panjang sebagai akademisi dan insinyur profesional, ia kini mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Tadulako (Untad) Palu periode 2023–2027.
MAKASSAR, umi.ac.id — Seorang insinyur belajar merancang. Menghitung. Membaca risiko. Mencari solusi. Dan memastikan sebuah sistem dapat bekerja. Tetapi bagi Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., perjalanan keinsinyuran kemudian membawanya pada sistem yang jauh lebih besar: sebuah universitas. Prof. Amar merupakan alumnus Program Profesi Insinyur Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI), Angkatan V Tahun 2019. Kini, ia dipercaya menjadi Rektor Universitas Tadulako (Untad) Palu periode 2023–2027. Dari profesi insinyur menuju kepemimpinan perguruan tinggi. Dari kompetensi profesional menuju tanggung jawab institusional.
Dari Program Profesi Insinyur UMI
Pendidikan profesi insinyur di FTI UMI menjadi salah satu bagian dari perjalanan profesional Prof. Amar. Ia mengikuti Program Profesi Insinyur UMI pada Angkatan V Tahun 2019. Bagi seorang profesional, pendidikan profesi bukan sekadar penambahan gelar. Ada standar kompetensi. Ada etika profesi. Ada tanggung jawab. Dan ada kesadaran bahwa keinsinyuran pada akhirnya berhubungan dengan manusia, lingkungan, keselamatan, pembangunan, dan kemaslahatan. Pengalaman tersebut bertemu dengan perjalanan panjang Prof. Amar sebagai akademisi di Universitas Tadulako.
Sebelum Menjadi Rektor Untad
Prof. Amar bukan sosok baru dalam kepemimpinan Universitas Tadulako. Sebelum menjadi rektor, ia telah memperoleh pengalaman dalam berbagai ruang kepemimpinan akademik. Ia pernah menjadi Dekan Fakultas Teknik Universitas Tadulako. Pada 2019, perjalanan kepemimpinannya berkembang ketika ia dipercaya sebagai Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama Universitas Tadulako.
Pengalaman tersebut memperluas ruang tanggung jawabnya. Dari fakultas menuju universitas. Dari pengelolaan akademik menuju pengembangan institusi. Dari lingkungan internal kampus menuju jejaring kerja sama yang lebih luas.
Pengalaman-pengalaman itulah yang menjadi bagian dari perjalanan menuju amanah berikutnya.
Terpilih dan Dilantik Menjadi Rektor Universitas Tadulako
Pada proses pemilihan Rektor Universitas Tadulako periode 2023–2027, Prof. Amar terpilih untuk memimpin perguruan tinggi negeri tersebut. Ia kemudian resmi dilantik sebagai Rektor Universitas Tadulako periode 2023–2027 pada 7 Maret 2023 di Jakarta. Universitas Tadulako sendiri merupakan perguruan tinggi negeri yang berdiri mandiri sejak 1981 dan berkedudukan di Palu, Sulawesi Tengah. Dalam daftar resmi pimpinan Untad, Prof. Amar tercatat sebagai Rektor periode 2023–2027.
Amanah tersebut membawa perubahan skala tanggung jawab. Jika seorang insinyur bekerja memastikan sebuah sistem berjalan dengan baik, seorang rektor harus memastikan berbagai sistem dalam perguruan tinggi bergerak menuju tujuan yang sama.
Pendidikan. Penelitian. Pengabdian. Mahasiswa. Dosen. Tenaga kependidikan. Mutu. Keuangan. Infrastruktur. Digitalisasi. Kerja sama. Dan reputasi institusi.
Memimpin universitas pada akhirnya juga merupakan pekerjaan merancang masa depan.
Dari Insinyur menuju Arsitek Institusi
Ada satu benang merah yang menarik dalam perjalanan Prof. Amar. Keinsinyuran mengajarkan seseorang melihat hubungan antarkomponen. Sebuah persoalan jarang berdiri sendiri. Perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.
Cara berpikir serupa dibutuhkan dalam kepemimpinan perguruan tinggi. Meningkatkan mutu tidak cukup hanya memperbaiki kurikulum. Digitalisasi tidak cukup hanya membeli teknologi. Internasionalisasi tidak cukup hanya menandatangani kerja sama. Akreditasi tidak cukup hanya menyiapkan dokumen. Semua membutuhkan sistem yang saling terhubung.
Karena itu, perjalanan Prof. Amar dapat dibaca melalui satu gagasan: "Rekayasa Institusi." Jika keinsinyuran merancang sistem agar bekerja lebih baik, kepemimpinan perguruan tinggi merancang institusi agar terus bertumbuh dan memberi dampak.
Mutu Menjadi Agenda Kepemimpinan
Dalam kepemimpinannya di Universitas Tadulako, penguatan mutu menjadi salah satu perhatian Prof. Amar. Ia membawa visi Untad sebagai perguruan tinggi berstandar internasional yang unggul, tangguh, dan adaptif dalam Kajian Lingkungan Kebumian Strategis.
Arah tersebut menempatkan mutu bukan sekadar sebagai kebutuhan administratif. Mutu harus terlihat dalam proses pendidikan. Kualitas lulusan. Penelitian. Pelayanan. Akreditasi. Dan daya saing perguruan tinggi.
Pada 2026, misalnya, lima program studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Untad memperoleh hasil akreditasi internasional ASIIN setelah melalui proses asesmen internasional. Capaian seperti ini menunjukkan bahwa agenda mutu membutuhkan proses panjang, kerja kolektif, dan konsistensi institusi.
Digitalisasi sebagai Bagian dari Pelayanan
Perubahan pendidikan tinggi juga menuntut perguruan tinggi beradaptasi dengan teknologi. Digitalisasi bukan lagi pelengkap. Mahasiswa mengharapkan pelayanan yang cepat. Dosen membutuhkan akses data. Pimpinan membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan. Administrasi membutuhkan proses yang semakin efisien.
Karena itu, transformasi digital pada akhirnya bukan sekadar persoalan aplikasi. Teknologi menjadi bermakna ketika membuat pelayanan menjadi lebih sederhana, cepat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah kepemimpinan perguruan tinggi dituntut tidak hanya memahami kondisi hari ini, tetapi juga mempersiapkan sistem untuk kebutuhan masa depan.
Dari Kompetensi menuju Kepemimpinan
Perjalanan Prof. Amar menunjukkan bahwa kompetensi profesional dan kepemimpinan institusional tidak harus berada pada dua jalur yang berbeda. Seorang insinyur dapat berkembang menjadi akademisi. Akademisi dapat berkembang menjadi pemimpin fakultas. Pemimpin fakultas dapat masuk ke ruang kepemimpinan universitas. Dan pengalaman profesional dapat memperkaya cara melihat persoalan institusi.
Perjalanan itu dapat dibaca melalui rangkaian: Insinyur → Akademisi → Dekan Fakultas Teknik → Wakil Rektor → Program Profesi Insinyur UMI → Rektor Universitas Tadulako.
Setiap fase membawa tanggung jawab yang berbeda. Tetapi semuanya bertemu pada satu titik: membangun sistem agar manusia di dalamnya dapat berkembang.
Ketika Alumni UMI Memimpin Perguruan Tinggi Negeri
Bagi Universitas Muslim Indonesia, perjalanan Prof. Amar juga memiliki arti tersendiri. Dampak pendidikan tidak selalu terlihat dari apa yang terjadi di dalam kampus. Sebagian dampak berjalan bersama alumninya. Prof. Amar membawa salah satu jejak pendidikan profesinya dari FTI UMI menuju ruang kepemimpinan perguruan tinggi negeri di Sulawesi Tengah. Ia bukan hanya menyandang profesi insinyur. Ia kini memimpin sebuah universitas.
Ini memperlihatkan bahwa pendidikan profesi dapat menjadi bagian dari perjalanan yang jauh lebih luas. Dari kompetensi menuju tanggung jawab. Dari profesi menuju kepemimpinan. Dari kemampuan menyelesaikan persoalan teknis menuju kemampuan mengelola kompleksitas institusi.
Palu sebagai Ruang Pengabdian
Universitas Tadulako memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan tinggi di Sulawesi Tengah. Karena itu, memimpin Untad berarti memimpin institusi yang tidak hanya berhubungan dengan sivitas akademikanya. Perguruan tinggi juga berhubungan dengan masyarakat. Pemerintah. Dunia usaha dan industri. Alumni. Sekolah. Komunitas. Dan pembangunan daerah. Tanggung jawab seorang rektor dengan demikian tidak berhenti pada memastikan kampus berjalan. Perguruan tinggi harus semakin relevan dengan lingkungan tempatnya tumbuh. Universitas tidak cukup menjadi besar di dalam pagar kampus. Ia harus terasa manfaatnya di luar pagar kampus.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. menjalani perjalanan panjang sebagai insinyur, akademisi, dan pemimpin perguruan tinggi. Ia pernah memimpin Fakultas Teknik Universitas Tadulako. Menjadi Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama. Menempuh Program Profesi Insinyur FTI Universitas Muslim Indonesia Angkatan V Tahun 2019. Dan sejak 2023, ia mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Tadulako, Palu, periode 2023–2027.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana kompetensi keinsinyuran dapat berkembang menuju ruang tanggung jawab yang semakin luas. Bukan lagi hanya merancang sistem teknis. Tetapi ikut merancang masa depan institusi. Bukan hanya menyelesaikan persoalan. Tetapi membangun sistem agar banyak orang dapat berkembang.
Dari insinyur menuju arsitek institusi. Dari Program Profesi Insinyur UMI menuju kepemimpinan Universitas Tadulako. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































