Dari Kampus, Menjadi Dampak - Prof. Muhdar HM: Alumni Teknik Kimia dan Pascasarjana UMI, Kini Dekan FEBI UIN Sultan Amai Gorontalo
Berangkat dari Teknik Kimia FTI UMI dan melanjutkan Magister Manajemen di Pascasarjana UMI, Prof. Dr. Muhdar HM, S.E., S.T., M.M. membangun karier lintas disiplin hingga menjadi Guru Besar dan kini dipercaya sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sultan Amai Gorontalo. Perjalanannya berkembang melalui riset, ekonomi syariah, penjaminan mutu, publikasi ilmiah, dan kepemimpinan akademik.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak banyak perjalanan akademik bergerak dari Teknik Kimia menuju manajemen, lalu berkembang ke ekonomi dan bisnis Islam. Prof. Dr. Muhdar HM, S.E., S.T., M.M. menjalani lintasan tersebut. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Kimia di Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia pada 1998, kemudian memperoleh Magister Manajemen dari Pascasarjana UMI.
Perjalanan akademiknya berkembang hingga pendidikan doktoral, riset, publikasi, organisasi ekonomi syariah, penjaminan mutu, dan kepemimpinan perguruan tinggi.
Kini, Prof. Muhdar merupakan Guru Besar dan dipercaya sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sultan Amai Gorontalo. Status kepemimpinannya sebagai Dekan FEBI masih tercatat dalam publikasi resmi UIN Sultan Amai Gorontalo pada September 2026.
Dari Teknik Kimia menuju Manajemen
Latar belakang Teknik Kimia menjadi bagian menarik dari perjalanan Prof. Muhdar. Teknik membentuk cara berpikir sistematis: mengenali variabel, membaca hubungan sebab-akibat, mengukur proses, dan mencari solusi.
Ketika kemudian mendalami manajemen, ruang analisisnya bergeser dari sistem teknis menuju manusia dan organisasi. Perpindahan disiplin tersebut justru menjadi salah satu karakter perjalanan akademiknya. Ia tidak terkunci pada satu bidang.
Kompetensinya berkembang ke manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, ekonomi, hingga ekonomi dan bisnis Islam. Ia berpindah disiplin tanpa meninggalkan cara berpikir sistem.
Riset yang Mendekati Persoalan Masyarakat
Jejak akademik Prof. Muhdar tidak hanya terlihat dari jabatan struktural. Penelitiannya bergerak pada persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan organisasi. Pada 2018, misalnya, ia melakukan penelitian mengenai peran pelatihan dalam pengembangan UMKM ternak sapi potong sebagai sektor penggerak ekonomi desa di Pulubala, Gorontalo, melalui hibah penelitian Diktis Kementerian Agama RI. Ia juga mengkaji pemberdayaan masyarakat penerima zakat produktif untuk mengoptimalkan pendapatan usaha di Kota Gorontalo.
Tema penelitiannya berkembang pada kinerja aparatur sipil negara, kecerdasan emosional dan spiritual, kepemimpinan, produktivitas kerja, kesehatan keuangan koperasi syariah dan non-syariah, hingga perilaku organisasi. Ragam tersebut memiliki satu benang merah: bagaimana manusia, organisasi, dan sumber daya dapat dikelola agar menghasilkan manfaat yang lebih besar.
Mengembangkan Ekonomi Syariah di Gorontalo
Perhatian Prof. Muhdar terhadap ekonomi syariah juga berkembang melalui organisasi profesi. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan Ekonomi Islam dan ZISWAF Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Provinsi Gorontalo serta Ketua Komisariat IAEI IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Di lingkungan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Gorontalo, ia pernah menjalankan peran sebagai Ketua II dan kemudian menjadi anggota Dewan Pakar.
Keterlibatan tersebut memperluas ruang kerja akademiknya. Ekonomi syariah tidak hanya dibahas di ruang kuliah, tetapi dipertemukan dengan lembaga keuangan, zakat, UMKM, masyarakat, dan pengembangan ekonomi daerah.
Pada September 2026, sebagai Dekan FEBI UIN Sultan Amai Gorontalo, Prof. Muhdar juga menekankan pentingnya literasi investasi dan keuangan syariah bagi mahasiswa dalam kegiatan bersama Pegadaian.
Dari Penelitian menjadi Literatur
Produktivitas akademik Prof. Muhdar juga hadir dalam bentuk buku dan publikasi ilmiah. Ia menulis berbagai karya mengenai Manajemen Sumber Daya Manusia, dinamika dan strategi pengelolaan SDM, kinerja karyawan pada institusi syariah, manajemen SDM pada bank umum syariah, hingga Organizational Citizenship Behavior.
Publikasi ilmiahnya membahas beragam isu, antara lain kepemimpinan transformasional dan kreativitas karyawan, perilaku konsumen pada bank syariah, konsumsi rumah tangga dan investasi, serta kinerja dosen perguruan tinggi vokasi pada era digital. Sebagian karya ilmiahnya dipublikasikan pada jurnal internasional yang terindeks Scopus dan Web of Science. Penelitian dengan demikian tidak selesai ketika laporan dibuat. Temuan dikembangkan menjadi artikel. Gagasan disusun menjadi buku. Pengetahuan kemudian dapat dibaca, diuji, dikritik, dan dikembangkan oleh akademisi berikutnya.
Menjaga Mutu Akademik
Perjalanan Prof. Muhdar kemudian berkembang dari menghasilkan pengetahuan menuju ikut menjaga kualitas ekosistem akademik. Ia memiliki pengalaman sebagai asesor BAN-PT, asesor Beban Kerja Dosen, reviewer nasional Litapdimas Kementerian Agama, serta reviewer sejumlah jurnal internasional.
Peran tersebut memiliki karakter yang berbeda dengan mengajar atau meneliti. Seorang asesor dan reviewer berada pada posisi untuk membaca kualitas karya dan institusi berdasarkan standar tertentu. Di sinilah pengalaman akademik bertemu dengan tanggung jawab mutu. Akademisi tidak hanya menghasilkan pengetahuan. Pada fase tertentu, ia ikut menjaga standar pengetahuan.
Dari Wakil Dekan hingga Memimpin FEBI
Prof. Muhdar juga memiliki perjalanan panjang dalam pengelolaan perguruan tinggi. Ia pernah dipercaya menjalankan sejumlah amanah, antara lain Wakil Dekan, Ketua Jurusan Ekonomi Islam, Ketua Gugus Mutu, dan anggota senat. Dokumen kelembagaan tahun 2021, misalnya, mencatat Muhdar sebagai Wakil Dekan I FEBI IAIN Sultan Amai Gorontalo. Pengalaman tersebut menjadi proses memahami fakultas dari berbagai sisi. Akademik. Program studi. Mutu. Dosen. Mahasiswa. Penelitian. Dan tata kelola. Perjalanan itu kemudian membawanya pada amanah yang lebih besar. Kini ia memimpin Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sultan Amai Gorontalo sebagai Dekan.
Memimpin FEBI di Tengah Transformasi Institusi
Ada konteks penting dalam kepemimpinan Prof. Muhdar. Ia memimpin FEBI ketika institusinya memasuki fase perubahan besar. Pada Februari 2026, ketika institusi masih berstatus IAIN, Prof. Muhdar menyebut bahwa FEBI berada menjelang transformasi kelembagaan menjadi universitas. Kini nomenklatur resmi dalam publikasi institusi September 2026 telah menggunakan UIN Sultan Amai Gorontalo.
Artinya, kepemimpinannya berlangsung pada masa ketika fakultas tidak hanya menjalankan aktivitas rutin, tetapi juga berada dalam perubahan skala institusi. Perubahan tersebut membawa kebutuhan baru terhadap mutu, kolaborasi, relevansi program studi, teknologi, penelitian, dan daya saing lulusan.
Pada konteks inilah pengalaman lintas disiplin Prof. Muhdar memperoleh relevansi yang berbeda.
Ilmu yang Melintasi Batas
Jika perjalanan Prof. Muhdar dibaca secara utuh, pembeda terbesarnya bukan hanya jabatan sebagai profesor atau dekan. Pembeda itu justru berada pada kemampuan melintasi batas keilmuan.
Teknik Kimia. Manajemen. Sumber daya manusia. Ekonomi. Ekonomi syariah. Penelitian. Penjaminan mutu. Hingga kepemimpinan fakultas.
Dari perjalanan tersebut lahir satu gagasan: "Ilmu Lintas Batas." Pengetahuan tidak harus kehilangan akar ketika berkembang ke bidang lain. Sebaliknya, pengalaman dari satu disiplin dapat memperkaya cara seseorang memahami disiplin berikutnya. Dalam perjalanan Prof. Muhdar, cara berpikir sistem dari teknik bertemu dengan pengelolaan manusia dalam manajemen, kemudian berkembang dalam ekonomi dan bisnis Islam.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Prof. Dr. Muhdar HM, S.E., S.T., M.M. merupakan alumnus Teknik Kimia FTI Universitas Muslim Indonesia dan Magister Manajemen Pascasarjana UMI. Perjalanan akademiknya kemudian berkembang jauh melampaui disiplin awalnya.
Ia menjadi peneliti. Penulis. Asesor. Reviewer. Penggerak ekonomi syariah. Guru Besar. Dan kini Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sultan Amai Gorontalo. Jejak tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu membawa seseorang berjalan dalam satu garis lurus. Kadang ilmu justru menemukan dampaknya ketika seseorang berani mempertemukan berbagai bidang untuk menjawab persoalan yang semakin kompleks.
Dari Teknik Kimia menuju ekonomi syariah. Dari sistem menuju manusia. Dari penelitian menuju kepemimpinan akademik. Itulah perjalanan Prof. Muhdar HM. Ilmu Lintas Batas, Dampak Melampaui Disiplin. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































