Dari Kampus, Menjadi Dampak - Tri Satya Nugraha: Alumni Teknik Pertambangan dan Profesi Insinyur UMI, Profesional KTT–POU yang Pernah Memimpin Teknik Tambang PT Ciracap Sumber Prima
MAKASSAR, umi.ac.id — Di pertambangan, produksi memang penting. Tetapi ada ukuran keberhasilan yang lebih mendasar: orang bekerja dengan aman, operasi terkendali, aturan dipatuhi, dan lingkungan tetap diperhatikan. Di titik itulah Ir. Tri Satya Nugraha, S.T., alumnus Teknik Pertambangan Universitas Muslim Indonesia, membangun perjalanan profesionalnya. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Pertambangan UMI pada 2015. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke almamater dan menyelesaikan Program Profesi Insinyur Teknik Pertambangan UMI pada 2022.
Memulai dari Membaca Kondisi Tambang
Sebelum memegang tanggung jawab sebagai Kepala Teknik Tambang, Tri tumbuh dari pekerjaan yang dekat dengan kondisi nyata di lapangan. Ia memulai karier profesional sebagai Mine Engineer pada 2017. Di fase awal inilah kemampuan teknis yang dipelajari di Teknik Pertambangan UMI bertemu dengan kebutuhan industri. Pemetaan. Pengukuran. Pengolahan data. Perencanaan. Hingga pemahaman terhadap kondisi aktual tambang. Kemampuan menggunakan perangkat seperti Total Station, GPS, Minescape, AutoCAD, ArcGIS, dan Global Mapper menjadi bagian dari bekal teknis yang menopang pekerjaannya. Dari awal, pekerjaannya dekat dengan satu hal: membaca tambang sebelum mengambil keputusan terhadap tambang.
Ketika Keselamatan Menjadi Bagian dari Kompetensi
Perjalanan berikutnya membawa Tri semakin dekat dengan aspek keselamatan. Pada 2019–2020, ia menjalani tanggung jawab sebagai Supervisor HSE di PT Surveyor Indonesia. Setelah itu, ia bergabung sebagai HSE Officer PT Damai Abadi Samudra di Morowali Utara. Fase ini menjadi penting. Karena seorang engineer dapat memahami bagaimana tambang dirancang. Surveyor dapat membaca bagaimana kondisi lapangan berkembang. Tetapi pengalaman HSE menambahkan perspektif lain: bagaimana pekerjaan itu dilakukan dengan aman. Dari sini, kemampuan teknis dan keselamatan mulai bertemu.
Dari Engineer menuju Kepala Teknik Tambang
Pada 2021, tanggung jawab Tri meningkat ketika dipercaya menjalankan fungsi Kepala Teknik Tambang di PT Citra Arya Sentosa Hutama, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Tanggung jawab tersebut berlangsung pada Juni 2021 hingga Juli 2022. Ia berkoordinasi dengan instansi terkait, menangani laporan pertambangan termasuk RKAB, laporan triwulan dan lingkungan, menyusun aturan internal perusahaan, menetapkan SOP, serta mengevaluasi kinerja kontraktor. Di sinilah perubahan terbesar dalam perjalanan profesionalnya terjadi. Sebelumnya, ia mengerjakan bagian dari operasi. Sebagai KTT, ia harus melihat operasi sebagai satu kesatuan. Teknis tidak dapat dipisahkan dari keselamatan. Produksi tidak dapat dipisahkan dari kepatuhan. Operasi tidak dapat dipisahkan dari lingkungan.
Memimpin Teknik Pertambangan Batubara
Pada Oktober 2022, Tri memasuki fase berikutnya ketika dipercaya menjadi Kepala Teknik Tambang PT Ciracap Sumber Prima di Tabalong, Kalimantan Selatan. Ia menjalankan tanggung jawab tersebut hingga Februari 2026. Pengalaman ini memperluas perjalanan profesionalnya dari lingkungan pertambangan mineral menuju operasi batubara. Tanggung jawabnya mencakup koordinasi dengan instansi terkait, RKAB dan berbagai pelaporan pertambangan, lingkungan, peraturan internal, SOP, hingga evaluasi kinerja kontraktor. Artinya, perjalanan Tri berkembang dari memahami bagian-bagian teknis menuju kemampuan menjaga keterhubungan seluruh sistem operasi.
Kompetensi yang Tumbuh Menjadi Tanggung Jawab
Tri memperkuat kompetensi pengawasan pertambangannya melalui jenjang Pengawas Operasional Pertama (POP), Pengawas Operasional Madya (POM), hingga Pengawas Operasional Utama (POU). Profil profesional terkininya juga menempatkan kompetensi POU, KTT, WKTT, Project Manager, Site Manager, PJO, dan HSE sebagai bagian utama dari positioning profesionalnya. Rangkaian perjalanan tersebut membentuk progression yang jelas: Mine Engineer → HSE → KTT → Profesional Pertambangan POU. Pada awal karier, kompetensinya digunakan untuk memahami pekerjaan. Pada tahap berikutnya, ia mengawasi pekerjaan. Kemudian tanggung jawabnya berkembang menjadi memastikan keseluruhan operasi dapat dijalankan sesuai standar. Dari perjalanan inilah lahir diksi utama seri ini: "Dari Ketelitian Menjadi Keselamatan." Karena keputusan yang aman sering kali dimulai dari sesuatu yang terlihat sederhana: data yang benar. Pengukuran yang tepat. Desain yang sesuai. Temuan yang tidak diabaikan. Dan keberanian menghentikan sesuatu ketika kondisi tidak aman.
Produksi Bukan Satu-Satunya Ukuran
Industri pertambangan memiliki target. Ada volume produksi. Ada waktu. Ada biaya. Ada produktivitas alat. Tetapi seluruh target itu kehilangan makna apabila dicapai dengan mengabaikan keselamatan dan tanggung jawab lingkungan. Di sinilah posisi seorang KTT memiliki bobot yang berbeda. Ia tidak hanya berhadapan dengan pertanyaan: "Berapa banyak yang dapat ditambang?" Tetapi juga: "Apakah kegiatan ini dapat dilakukan dengan benar, aman, patuh, dan bertanggung jawab?" Perubahan pertanyaan itulah yang membedakan seorang pelaksana teknis dengan seseorang yang memikul tanggung jawab atas operasi.
Keselamatan Sering Tidak Terlihat
Ada paradoks dalam pekerjaan keselamatan. Ketika keselamatan dikelola dengan baik, hasil terbaiknya justru sering tidak terlihat. Tidak ada kecelakaan. Tidak ada alat yang beroperasi dalam kondisi berbahaya. Tidak ada keputusan yang memaksakan pekerjaan ketika risiko tidak dapat diterima. Tidak ada kerusakan yang seharusnya dapat dicegah. Karena itu, dampak profesional pertambangan tidak selalu dapat dibaca dari berapa ton material yang berhasil dipindahkan. Kadang dampaknya adalah: orang-orang yang menyelesaikan pekerjaan dan dapat pulang dengan selamat. Inilah sisi manusia dari pekerjaan yang sangat teknis.
Ilmu Pertambangan yang Menjadi Amanah
Perjalanan Tri menunjukkan bagaimana makna sebuah kompetensi berubah ketika tanggung jawab bertambah. Ketika masih menjadi mahasiswa, ilmu digunakan untuk memahami tambang. Sebagai engineer, ilmu digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan. Ketika masuk ke HSE, ilmu digunakan untuk mengenali dan mengendalikan risiko. Ketika dipercaya sebagai Kepala Teknik Tambang, ilmu tersebut berubah menjadi amanah yang menyangkut operasi, manusia, kepatuhan, dan lingkungan. "Semakin tinggi tanggung jawab di tambang, semakin banyak keselamatan orang lain yang ikut berada di dalam keputusan kita." Itulah pembeda. Bukan sekadar cerita seorang alumni yang naik dari engineer menjadi KTT. Tetapi perjalanan dari menguasai pekerjaan menuju bertanggung jawab atas bagaimana pekerjaan itu dijalankan.
Kembali ke UMI sebagai Insinyur
Setelah bertahun-tahun bekerja di industri, Tri kembali ke Universitas Muslim Indonesia. Pada 2022, ia menyelesaikan Program Profesi Insinyur Teknik Pertambangan UMI. Perjalanan itu membentuk hubungan yang menarik dengan almamater. UMI menjadi tempat ia memperoleh dasar Teknik Pertambangan. Dunia industri menjadi ruang menguji ilmu tersebut. Kemudian ia kembali ke UMI untuk memperkuat profesi keinsinyurannya. Kampus memberi fondasi. Lapangan menguji kompetensi. Profesi mempertegas tanggung jawab.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Ir. Tri Satya Nugraha, S.T. merupakan alumnus Teknik Pertambangan Universitas Muslim Indonesia yang menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2015 dan Program Profesi Insinyur Teknik Pertambangan UMI pada 2022. Kariernya berkembang dari mine engineer dan bidang HSE hingga dipercaya menjadi Kepala Teknik Tambang di PT Citra Arya Sentosa Hutama dan kemudian Kepala Teknik Tambang PT Ciracap Sumber Prima pada Oktober 2022–Februari 2026. Saat ini, positioning profesional publiknya menonjolkan kompetensi POU Certified, KTT, WKTT, Project Manager, Site Manager, PJO, dan HSE, sementara sumber publik yang tersedia belum mencantumkan jabatan aktif baru setelah Februari 2026. Perjalanannya menunjukkan satu transformasi penting. Awalnya ia belajar membaca tambang. Kemudian bekerja di dalam operasi tambang. Belajar membaca risiko. Lalu dipercaya menjaga agar operasi berjalan dengan benar.
"Dari Ketelitian Menjadi Keselamatan."
Karena dalam pertambangan, keberhasilan bukan hanya tentang apa yang berhasil dikeluarkan dari bumi. Tetapi juga bagaimana manusia yang bekerja di atasnya dapat pulang dengan selamat. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































