Doktor Teknik Kimia UMI tidak Dirancang dari Ruang Kelas
Makassar, umi.ac.id – Program Doktor Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia (UMI) dirancang dengan melibatkan lebih dari perspektif akademik. Dalam penyusunan kurikulumnya, UMI mempertemukan akademisi, dunia industri, dan pemerintah untuk memastikan kompetensi lulusan memiliki relevansi dengan kebutuhan nyata.
Kolaborasi tersebut berlangsung dalam Lokakarya Penyusunan Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang digelar di Aula Pertemuan Lantai 2 Fakultas Teknologi Industri (FTI) UMI.
Bagi UMI, keterlibatan tiga unsur tersebut penting. Pendidikan doktoral tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan dengan penguasaan ilmu yang mendalam, tetap i juga peneliti yang mampu membaca persoalan dan menghasilkan solusi.
Perspektif akademik dalam lokakarya disampaikan Prof. Dr. Ing. Ir. Misri Gozan, M.Tech., IPU., ASEAN Eng. Ia memberikan pandangan mengenai pengembangan pendidikan dan keilmuan Teknik Kimia pada jenjang doktoral.
Sementara perspektif dunia industri disampaikan Ir. Amrin Rapi, S.T., M.T. Masukan dari sisi industri menjadi penting untuk melihat kompetensi apa yang dibutuhkan agar hasil riset dan inovasi perguruan tinggi dapat memberikan manfaat yang lebih nyata.
Adapun perspektif pemerintah disampaikan Rizal Amin, S.Sos., M.Si. Pandangan pemerintah menjadi bagian penting dalam memastikan pengembangan keilmuan dan riset memiliki keterkaitan dengan kebutuhan pembangunan.
Wakil Rektor I UMI Prof. Dr. Ir. H. Dirgahayu A. Lantara, M.T., IPM., ASEAN Eng., mengatakan perguruan tinggi tidak dapat berjalan sendiri dalam menyiapkan sumber daya manusia masa depan.
“Masukan dari dunia industri dan pemerintah sangat diperlukan agar apa yang kita rancang di ruang akademik memiliki relevansi dengan kebutuhan nyata,” ujarnya.
Menurut Prof. Dirgahayu, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya UMI membangun program doktor yang memiliki daya saing. Karena itu, masukan dari berbagai pihak perlu hadir sejak tahap penyusunan kurikulum. Setelah sesi pemaparan, para peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD). Diskusi diarahkan untuk menyelaraskan profil lulusan dan kompetensi yang dibutuhkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan industri, dan arah pembangunan.
Hasil diskusi kemudian menjadi bahan penyempurnaan draft kurikulum Program Doktor Teknik Kimia UMI. Prof. Dirgahayu berharap pendekatan kolaboratif tersebut melahirkan program doktor yang tidak hanya kuat secara akademik. Lebih jauh, program tersebut diharapkan mampu menghasilkan peneliti dan inovator yang memberikan kontribusi bagi industri dan pembangunan.
“Kurikulum tersebut harus mampu mendorong lahirnya peneliti dan inovator yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan yang dihadapi bangsa,” tuturnya.
Penyusunan kurikulum secara kolaboratif ini menjadi salah satu tahapan penting sebelum penyelenggaraan Program Studi Doktor Teknik Kimia UMI. Dari ruang akademik, UMI ingin membangun jembatan yang lebih kuat menuju kebutuhan industri dan pembangunan nasional. (Humas UMI)























































































































