Dari UMKM hingga Tradisi Lokal, Dosen UMI Dorong Kolaborasi Bugis-Makassar dan Melayu lewat Pengabdian Internasional
Melaka, Malaysia, umi.ac.id – Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengembangkan kolaborasi pengabdian kepada masyarakat lintas negara dengan mengangkat tema pemberdayaan masyarakat Bugis-Makassar dan Melayu Malaysia untuk pembangunan berkelanjutan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema internasional ini berlangsung di Fakulti Pengurusan Teknologi dan Teknousahawanan, Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM), Malaysia, Selasa (27/10/2026).
Program ini berfokus pada pemanfaatan kedekatan sejarah dan budaya masyarakat Bugis-Makassar dan Melayu Malaysia sebagai modal sosial untuk memperkuat ekonomi lokal, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta melestarikan warisan budaya. Kolaborasi tersebut dirancang agar pengabdian perguruan tinggi tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi berlanjut pada pengembangan potensi masyarakat sesuai kebutuhan dan karakteristik lokal.
Tim PkM internasional UMI dipimpin oleh Burhanuddin, dengan anggota Sulastri, Lusy Angraeni, Muhammad Nur Akbar, Mulyadi, dan Nur Fadilah Zahra. Tim mengusung pendekatan partisipatif dengan mendorong keterlibatan masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas lokal dalam merencanakan serta melaksanakan program pemberdayaan.
Salah satu fokus utama pengabdian adalah penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pelatihan kewirausahaan, peningkatan kualitas dan kemasan produk, serta pemanfaatan pemasaran digital. Upaya ini diharapkan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk lokal sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Selain aspek ekonomi, program ini menempatkan pelestarian budaya sebagai bagian penting dari pemberdayaan masyarakat. Kegiatan yang dirancang mencakup dokumentasi bahasa dan sapaan, pertukaran pengetahuan budaya, pelestarian cerita lisan, serta pengembangan ekonomi kreatif melalui kolaborasi produk tenun dan batik. Potensi tersebut juga dapat dikembangkan melalui pariwisata berbasis komunitas yang mengangkat kekayaan budaya Bugis-Makassar, Toraja, dan Melayu Malaysia.
“Pengabdian kepada masyarakat harus bertolak dari kebutuhan dan potensi lokal. Masyarakat bukan sekadar penerima manfaat, tetapi harus menjadi bagian dari pengambilan keputusan, pelaksanaan, dan keberlanjutan program,” ungkap Burhanuddin
Untuk memastikan program memberikan manfaat jangka panjang, tim merancang tahapan pelaksanaan yang meliputi pemetaan kebutuhan masyarakat, penyusunan program bersama mitra, pelaksanaan kegiatan percontohan, serta evaluasi dan tindak lanjut. Keberhasilan program nantinya dapat diukur melalui peningkatan keterampilan, perkembangan usaha, pelestarian budaya, penguatan kemitraan, dan kemampuan masyarakat melanjutkan kegiatan secara mandiri.
Melalui pengabdian internasional ini, UMI mendorong kolaborasi Indonesia–Malaysia yang menghubungkan kekuatan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya, dan penguatan kapasitas komunitas menjadi fondasi untuk membangun kerja sama yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus mempererat hubungan masyarakat Bugis-Makassar dan Melayu Malaysia.























































































































