Dosen FSIKP UMI Gelar Pengabdian Internasional di UTeM Malaysia, Bahas Literasi dalam Pemasaran Produk
Melaka, Malaysia, umi.ac.id – Dosen Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) , Prof. Dr. Muhammad Yunus, S.S., M.Pd , melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat internasional di Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM), Malaysia, pada Selasa (27/10/2026).
Kegiatan ini mengangkat tema Product Marketing as a Literacy Practice atau pemasaran produk sebagai praktik literasi, dengan menekankan pentingnya kemampuan komunikasi dalam menyampaikan nilai produk dan membangun kepercayaan konsumen.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Muhammad Yunus, memaparkan bahwa pemasaran tidak sekadar berkaitan dengan promosi dan penjualan, tetapi juga kemampuan menyusun makna, menjelaskan manfaat, serta membangun hubungan dengan konsumen.
"Literasi menjadi unsur penting dalam pemasaran karena membantu pelaku usaha memahami konteks, menyusun gagasan, memilih kata yang tepat, dan menyesuaikan pesan dengan karakteristik penerima. Produk yang berkualitas, termasuk yang memiliki teknologi canggih, dapat sulit diterima pasar apabila manfaat dan keunggulannya tidak dikomunikasikan secara jelas dan tepat,” jelasnya.
Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris FSIKP UMI itu juga menyoroti tiga keterampilan utama dalam pemasaran, yakni gaya akademik (academic style), stance atau sikap dan posisi penyampai pesan, serta hedging atau kehati-hatian dalam menyampaikan klaim.
“Gaya akademik menekankan informasi yang jelas, objektif, terstruktur, dan berbasis bukti. Sementara itu, stance membantu pemasar menyampaikan sudut pandang secara tegas dengan alasan yang jelas, sedangkan hedging mendorong penggunaan pernyataan yang proporsional dan tidak berlebihan,” terangnya.
Penerapan keterampilan tersebut dijelaskan melalui sejumlah contoh, mulai dari pemasaran makanan di lingkungan kampus hingga promosi produk ramah lingkungan dan perawatan kulit. Dalam pemasaran, klaim bahwa suatu produk pasti memberikan hasil tertentu perlu dihindari apabila belum didukung bukti yang memadai. Sebaliknya, informasi mengenai manfaat produk harus disampaikan secara realistis dengan mempertimbangkan kondisi pengguna dan batasan yang ada.
“Jangan menjanjikan sesuatu yang belum terbukti. Tingkat kepastian dalam promosi harus sesuai dengan bukti yang tersedia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kehati-hatian dalam berkomunikasi bukanlah kelemahan promosi, melainkan bagian dari tanggung jawab pemasar untuk menjaga kredibilitas informasi dan kepercayaan konsumen,” tutupnya.
Melalui kegiatan pengabdian internasional di UTeM, perspektif pemasaran sebagai praktik literasi diharapkan dapat memperkaya wawasan akademik sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya komunikasi yang efektif dalam pengembangan usaha.
Materi ini menegaskan bahwa pemasaran yang baik tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi juga pada kemampuan menyampaikan nilai produk secara jelas, objektif, dan bertanggung jawab sehingga dapat membangun kepercayaan serta mendukung penerimaan produk di pasar.























































































































