Pekan Pesantren Plus Outbound UMI 2026 Berakhir: Tujuh Angkatan Mahasiswa Baru Riang dalam Kebersamaan, Khusyuk dalam Ibadah
MAKASSAR, umi.ac.id โ Ada suasana berbeda di Pesantren Unggulan Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Darul Mukhlisin Padanglampe, Kabupaten Pangkep, sepanjang pelaksanaan Pekan Pesantren Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027.
Masjid tetap menghadirkan suasana khusyuk dan syahdu. Shalat berjamaah, pembinaan keislaman, tilawah, zikir, dan berbagai aktivitas pesantren menjadi ruang mahasiswa baru mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun di sela-sela suasana religius itu, lapangan pesantren juga dipenuhi tawa, semangat, dan kegembiraan mahasiswa mengikuti outbound yang untuk pertama kalinya menjadi bagian dari rangkaian Pekan Pesantren Mahasiswa Baru UMI tahun ini.
Konsep pesantren plus outbound menjadi warna baru pembinaan mahasiswa baru UMI 2026. Selama penyelenggaraan yang berlangsung dalam tujuh angkatan, mahasiswa baru tidak hanya mendapatkan pembekalan keislaman dan pengenalan nilai-nilai Ke-UMI-an. Mereka juga diajak membangun komunikasi, keberanian, kepemimpinan, kerja sama tim, solidaritas, serta kemampuan beradaptasi melalui aktivitas outbound yang dikemas ringan dan menyenangkan.
Hasilnya, pesantren tidak kehilangan kekhusyukannya, tetapi juga tidak terasa kaku. Ada saatnya mahasiswa menundukkan kepala dalam doa. Ada saatnya mereka tertawa bersama di lapangan. Keduanya menjadi bagian dari pendidikan karakter yang sama.
Sesuatu yang Baru: Pesantren Plus Outbound
Penambahan outbound bukan sekadar menghadirkan permainan di tengah kegiatan pesantren.
Aktivitas tersebut dirancang sebagai bagian dari proses membangun kebersamaan mahasiswa baru yang datang dari sekolah, daerah, keluarga, karakter, dan latar belakang yang berbeda. Mereka baru saling mengenal. Sebagian bahkan baru pertama kali meninggalkan keluarga untuk memasuki kehidupan perguruan tinggi.
Karena itu, sebelum menghadapi perkuliahan, tugas, praktikum, organisasi, dan berbagai dinamika kehidupan kampus, mahasiswa perlu belajar satu kemampuan yang sering kali tidak tertulis dalam buku: bagaimana hidup, berkomunikasi, dan bekerja bersama orang lain.
Melalui berbagai aktivitas kelompok, mahasiswa belajar bahwa menyelesaikan tantangan tidak selalu membutuhkan orang yang paling pintar. Ada persoalan yang hanya dapat diselesaikan ketika seseorang mau mendengar, mempercayai teman, berbagi peran, dan bergerak bersama. Di sinilah outbound menemukan maknanya. Yang dibangun bukan hanya kekompakan kelompok selama permainan, tetapi keberanian untuk mengenal, mempercayai, dan bertumbuh bersama orang lain.
Riang di Lapangan, Khusyuk di Masjid
Konsep baru tersebut sekaligus menghadirkan keseimbangan suasana selama mahasiswa berada di Padanglampe.
Outbound membuat mahasiswa bergerak, berkomunikasi, tertawa, dan saling mengenal. Sementara kehidupan pesantren mengajak mereka kembali kepada ketenangan, kedisiplinan, adab, ibadah, dan refleksi diri. Dua suasana yang berbeda itu tidak dipertentangkan. Justru keduanya menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa UMI.
Riang tidak menghilangkan khusyuk. Khusyuk tidak harus membuat pembinaan terasa kaku.
Pesantren mengajarkan mahasiswa membangun hubungan dengan Allah SWT, sementara kebersamaan mengajarkan bagaimana membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia. Itulah salah satu wajah pendidikan karakter yang ingin diperkenalkan UMI sejak mahasiswa pertama kali memasuki kehidupan kampus.
Tujuh Angkatan, Satu Pengalaman Awal Menjadi Mahasiswa UMI
Pekan Pesantren Mahasiswa Baru 2026 diselenggarakan secara bertahap dalam tujuh angkatan di Pesantren Unggulan Mahasiswa UMI Darul Mukhlisin Padanglampe. Setiap angkatan datang dengan karakter yang berbeda. Mereka berasal dari berbagai fakultas, program studi, sekolah, daerah, dan latar belakang. Namun selama berada di pesantren, sekat-sekat tersebut mulai mencair.
Mahasiswa belajar shalat berjamaah, mengikuti pembinaan keislaman, mengenal budaya akademik UMI, membangun kedisiplinan, hidup bersama, serta mengikuti outbound yang mempertemukan mereka dalam suasana yang lebih cair. Mereka datang sebagai mahasiswa baru yang sebagian belum saling mengenal. Mereka meninggalkan Padanglampe dengan lebih banyak teman, pengalaman, dan cerita untuk dibawa memasuki kehidupan kampus.
Rektor UMI: Ilmu dan Ibadah Harus Berjalan Bersama
Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., menegaskan bahwa Pekan Pesantren memiliki posisi penting dalam pembentukan mahasiswa UMI. Menurutnya, pendidikan di UMI tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan kompetensi profesional. Mahasiswa juga harus memiliki integritas, akhlakul karimah, kemampuan bekerja bersama, kepedulian kepada masyarakat, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan zaman.
โUMI adalah Kampus Ilmu dan Ibadah. Karena itu, ilmu pengetahuan dan profesionalitas harus berjalan bersama nilai keislaman dan akhlak. Mahasiswa boleh menjadi generasi yang sangat maju dalam teknologi, tetapi adab, integritas, dan kepedulian kepada sesama tidak boleh tertinggal,โ ujar Prof. Hambali.
Menurut Rektor, kehadiran outbound memperkaya metode pembinaan mahasiswa baru karena karakter tidak hanya dibentuk melalui materi di dalam ruangan. Kerja sama, kepemimpinan, komunikasi, kemampuan mendengar, keberanian mengambil peran, dan kepedulian terhadap teman juga dapat tumbuh melalui pengalaman bersama.
โAnak-anakku boleh tertawa dan bergembira dalam outbound, tetapi ketika azan berkumandang kita kembali merendahkan hati di hadapan Allah SWT. Itulah keseimbangan yang ingin kita bangun: generasi yang cerdas pikirannya, kuat karakternya, luas pergaulannya, tetapi tetap kokoh nilai dan ibadahnya,โ ujarnya.
Pesantren Bukan Sekadar Agenda Penerimaan Mahasiswa Baru
Bagi UMI, Pekan Pesantren bukan sekadar rangkaian seremonial penerimaan mahasiswa baru. Kegiatan ini menjadi pintu awal pengenalan mahasiswa terhadap identitas UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah serta implementasi Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter sebagai bagian dari Catur Dharma UMI. Mahasiswa diperkenalkan sejak awal bahwa kehidupan perguruan tinggi tidak hanya berbicara tentang indeks prestasi, gelar, dan pekerjaan setelah lulus.
Ada nilai yang lebih mendasar: bagaimana ilmu membentuk cara berpikir, ibadah menjaga arah kehidupan, dan karakter menentukan bagaimana ilmu itu kelak digunakan. Karena itu, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi orang yang mampu menjawab soal ujian. Mereka dipersiapkan untuk menghadapi persoalan kehidupan.
Dari Padanglampe Menuju Kampus
Berakhirnya Pekan Pesantren bukan berarti berakhir pula proses pembinaan mahasiswa. Sebaliknya, Padanglampe adalah titik awal. Setelah meninggalkan pesantren, mahasiswa akan kembali ke fakultas dan program studi masing-masing. Mereka akan memasuki ruang kuliah, laboratorium, klinik, studio, organisasi mahasiswa, kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta ekosistem digital kampus yang terus berkembang.
Nilai yang diperoleh selama pesantren diharapkan ikut masuk ke dalam kehidupan tersebut.
Disiplin dalam beribadah harus bertemu dengan disiplin belajar. Kebersamaan selama outbound harus berkembang menjadi kemampuan berkolaborasi. Keberanian mengambil peran dalam permainan harus tumbuh menjadi keberanian berprestasi. Dan kepedulian kepada teman harus berkembang menjadi kepedulian kepada masyarakat.
Rektor UMI berharap pengalaman selama Pekan Pesantren menjadi salah satu kenangan awal yang kuat bagi mahasiswa baru.
โBelajarlah dengan sungguh-sungguh, bangun prestasi, kuasai teknologi, jaga akhlak dan nama baik almamater. Tetapi jangan lupa menikmati prosesnya. Bangun persahabatan, belajar bekerja bersama, dan jadilah mahasiswa yang kehadirannya memberi manfaat bagi orang lain,โ pesannya.
Tujuh angkatan Pekan Pesantren 2026 akhirnya selesai. Yang dibawa pulang mahasiswa bukan hanya materi pembinaan. Ada pengalaman pertama hidup bersama sebagai keluarga besar UMI. Ada teman baru. Ada tawa di lapangan. Ada kebersamaan. Ada doa dan zikir. Ada suasana khusyuk dan syahdu di masjid. Dan ada nilai yang diharapkan terus mereka bawa hingga suatu hari meninggalkan kampus sebagai alumni. Mereka datang ke Padanglampe sebagai mahasiswa baru. Mereka kembali ke kampus membawa satu pelajaran awal: kuliah bukan hanya perjalanan menjadi pintar, tetapi perjalanan menjadi manusia yang lebih baik.
RIANG DALAM KEBERSAMAAN, KHUSYUK DALAM IBADAH. DARI PESANTREN, MEMULAI PERJALANAN MENJADI MAHASISWA UMI. (Humas UMI)























































































































