Dari Kampus, Menjadi Dampak - Agus Ambo Djiwa: Alumni Pertanian UMI, Ikut Memperjuangkan Lahirnya Kabupaten Pasangkayu, Pernah Bupati Dua Periode, Kini Anggota Komisi IV DPR RI
Dari Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI), Dr. Ir. H. Agus Ambo Djiwa, M.P. menempuh perjalanan panjang dari pertanian dan usaha di kampung halaman menuju perjuangan pembentukan daerah, kepemimpinan pemerintahan, hingga parlemen nasional. Ia pernah menjadi Ketua Komite Aksi Pembentukan Kabupaten Pasangkayu, Wakil Bupati, Bupati dua periode, dan kini menjadi Anggota Komisi IV DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Barat.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak banyak alumni yang perjalanan hidupnya ikut bersinggungan dengan lahirnya sebuah kabupaten. Agus Ambo Djiwa adalah salah satunya. Jauh sebelum menjadi kepala daerah dan anggota DPR RI, ia adalah mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia. Ia mengambil Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian dan menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1992.
Setelah kuliah, Agus tidak langsung menuju ruang kekuasaan. Ia pulang. Kembali ke kampung halaman. Membuka kebun kakao. Mengembangkan usaha. Dan dari sanalah ia melihat sendiri satu persoalan mendasar: sebuah daerah dapat memiliki sumber daya yang besar, tetapi potensi itu sulit berkembang apabila pembangunan belum menjangkaunya secara optimal.
Ketika Alumni Pulang dan Membaca Daerahnya
Sarudu menjadi salah satu ruang awal perjalanan Agus setelah meninggalkan UMI. Ia mengembangkan kebun kakao dan usaha pengolahan kayu dengan menggandeng investor. Pengalaman tersebut mempertemukannya langsung dengan kehidupan ekonomi masyarakat.
Ia melihat pertanian. Melihat potensi wilayah. Melihat akses. Dan melihat jarak antara potensi daerah dengan kemampuan wilayah untuk mengelolanya.
Ketika itu Pasangkayu, Sarudu, Baras, dan Bambalamotu masih menjadi bagian dari Kabupaten Mamuju. Perjalanan menuju pusat pemerintahan jauh. Kebutuhan pembangunan besar. Sementara wilayah memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
Persoalan itu kemudian berkembang menjadi gagasan yang jauh lebih besar: membentuk daerah otonom baru.
Ikut Memperjuangkan Lahirnya Kabupaten
Momentum desentralisasi setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 membuka ruang bagi perjuangan tersebut. Dokumen resmi Pemerintah Kabupaten Pasangkayu mencatat terbentuknya Komite Aksi Pembentukan Kabupaten Pasangkayu (KAPKP) dengan Ir. Agus Ambo Djiwa sebagai ketua.
Komite tersebut menghimpun generasi muda dan tokoh masyarakat dari Sarudu, Baras, Pasangkayu, dan Bambalamotu, dengan jejaring perjuangan yang menjangkau Palu, Makassar, Mamuju, hingga Jakarta.
Perjuangan tersebut bukan pekerjaan satu orang. Ada banyak tokoh. Ada masyarakat. Ada generasi muda. Ada proses politik dan administratif. Agus berada di dalam gerakan kolektif itu sebagai salah satu penggeraknya.
Perjuangan tersebut akhirnya menghasilkan pembentukan Kabupaten Mamuju Utara melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2003. Pada 2017, Kabupaten Mamuju Utara kemudian resmi berganti nama menjadi Kabupaten Pasangkayu.
Dari sinilah pembeda utama perjalanan Agus terlihat. Ia tidak datang ke sebuah kabupaten yang sudah selesai dibentuk untuk kemudian memimpin. Ia terlebih dahulu ikut memperjuangkan kelahirannya.
Dari Memperjuangkan Daerah menuju Mengurusnya
Setelah kabupaten terbentuk, perjalanan Agus memasuki fase berbeda. Jika sebelumnya perjuangannya adalah menghadirkan sebuah daerah otonom, tantangan berikutnya jauh lebih konkret: bagaimana membangun daerah tersebut.
Agus kemudian menjadi Wakil Bupati Mamuju Utara periode 2005–2010. Setelah itu, ia dipercaya memimpin sebagai Bupati. Ia menjalani dua periode kepemimpinan kepala daerah hingga 2021, melewati perubahan nama Mamuju Utara menjadi Kabupaten Pasangkayu.
Perubahan peran tersebut sangat besar. Memperjuangkan pembentukan daerah membutuhkan keberanian dan konsolidasi. Memimpin daerah membutuhkan kemampuan mengubah gagasan menjadi program, pelayanan, infrastruktur, dan pembangunan yang dirasakan masyarakat.
Pertanian Tetap Menjadi Benang Merah
Latar belakang Fakultas Pertanian UMI tidak hilang ketika Agus memasuki pemerintahan. Justru pertanian tetap menjadi salah satu perspektif penting dalam melihat pembangunan daerah.
Dalam periode kepemimpinannya, pembangunan ekonomi rakyat antara lain diarahkan pada potensi yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk perkebunan kakao dan kelapa sawit, peternakan, serta sektor kelautan.
Logikanya sederhana: daerah harus bertumbuh dari kekuatan yang benar-benar dimilikinya.
Pembangunan tidak cukup dimulai dari apa yang terlihat bagus dalam dokumen. Ia harus membaca tanahnya. Membaca masyarakatnya. Membaca mata pencahariannya. Dan memahami potensi yang dapat dikembangkan.
Dari perjalanan inilah lahir diksi utama: "Membangun dari Akar Daerah."
Karena pembangunan yang bertahan tidak hanya datang dari atas. Ia tumbuh ketika kebijakan bertemu dengan potensi dan kebutuhan nyata masyarakat.
Pernah Kembali ke Fakultas Pertanian UMI
Hubungan Agus dengan almamater juga tidak berhenti setelah ia meninggalkan kampus. Pada 2013, ia kembali ke Fakultas Pertanian UMI untuk memberikan kuliah umum.
Tema yang dibawanya sangat dekat dengan perjalanan hidupnya: "Sumbangan Pemikiran Alumni dalam Pembangunan Pertanian, Kini dan Masa Akan Datang."
Ada makna menarik dari momentum tersebut. Dulu, Agus duduk di kampus mempelajari Sosial Ekonomi Pertanian. Kemudian ia kembali ke daerah. Menjadi petani dan pelaku usaha. Terlibat dalam perjuangan pembentukan kabupaten. Masuk pemerintahan. Lalu kembali ke kampus membawa pengalaman pembangunan untuk dibagikan kepada mahasiswa.
Ilmu bergerak dari kampus menuju masyarakat. Pengalaman dari masyarakat kemudian kembali menjadi pengetahuan di kampus.
Dari Pasangkayu menuju Senayan
Perjalanan Agus kemudian memasuki skala pengabdian yang lebih luas. Pada Pemilu 2024, ia terpilih menjadi Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Barat. Komisi Pemilihan Umum menetapkan perolehan 64.731 suara sah untuk Agus Ambo Djiwa.
Di DPR RI, ia menjadi Anggota Komisi IV. Ruang kerjanya kembali bertemu dengan bidang yang memiliki hubungan kuat dengan perjalanan sebelumnya: pertanian, pangan, kehutanan, kelautan, dan sektor-sektor yang dekat dengan kehidupan masyarakat berbasis sumber daya alam. Perjalanan itu seperti membentuk lingkaran panjang. Mahasiswa Pertanian UMI → Petani dan Pelaku Usaha → Penggerak Pembentukan Kabupaten → Wakil Bupati → Bupati Dua Periode → Anggota Komisi IV DPR RI.
Skala pengabdiannya berubah. Tetapi persoalan yang ditemuinya tetap memiliki akar yang sama: bagaimana sumber daya dapat memberi manfaat lebih besar kepada masyarakat.
Pengalaman Daerah Dibawa ke Kebijakan Nasional
Ada nilai penting ketika pengalaman kepala daerah masuk ke ruang parlemen. Daerah tidak lagi hanya dilihat sebagai angka dalam laporan. Ada pengalaman mengenai jarak. Ada petani. Ada perkebunan. Ada desa. Ada kebutuhan infrastruktur. Ada persoalan distribusi. Ada pelayanan publik. Dan ada konsekuensi nyata dari sebuah kebijakan nasional ketika diterapkan di lapangan.
Pada September 2026, misalnya, dalam kapasitasnya sebagai Anggota Komisi IV DPR RI, Agus menyoroti akses pupuk bersubsidi bagi petani kecil kelapa sawit. Isu tersebut sangat dekat dengan realitas daerah penghasil komoditas perkebunan. Di titik ini, perjalanan dari kampung menuju parlemen memperoleh makna: pengalaman lokal menjadi perspektif dalam membaca kebijakan nasional.
Bukan Sekadar Pernah Menjadi Bupati
Jika perjalanan Agus hanya ditulis sebagai mantan Bupati Pasangkayu yang kini menjadi anggota DPR RI, ada bagian besar dari ceritanya yang hilang. Sebelum menjadi bupati, ia ikut memperjuangkan pembentukan kabupaten yang kelak dipimpinnya. Sebelum memasuki pemerintahan, ia pernah kembali ke kampung dan mengelola usaha. Sebelum berbicara tentang kebijakan pertanian di tingkat nasional, ia belajar Sosial Ekonomi Pertanian di UMI dan hidup dekat dengan realitas daerah. Karena itu, perjalanan bukan terutama cerita tentang perpindahan jabatan. Ini adalah cerita tentang perluasan skala pengabdian. Dari kampung. Ke kabupaten. Kemudian ke ruang kebijakan nasional.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Dr. Ir. H. Agus Ambo Djiwa, M.P. merupakan alumnus Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia yang menyelesaikan pendidikan Sosial Ekonomi Pertanian pada 1992. Setelah kembali ke kampung halaman, ia berkegiatan di sektor pertanian dan usaha, kemudian terlibat dalam perjuangan pembentukan Kabupaten Mamuju Utara yang kini bernama Kabupaten Pasangkayu.
Ia dipercaya menjadi Ketua Komite Aksi Pembentukan Kabupaten Pasangkayu, kemudian menjadi Wakil Bupati, memimpin sebagai Bupati selama dua periode, dan kini mengemban amanah sebagai Anggota Komisi IV DPR RI periode 2024–2029 dari Daerah Pemilihan Sulawesi Barat. Perjalanannya menunjukkan satu bentuk dampak alumni yang tidak sederhana. Ia belajar tentang pertanian. Pulang membaca potensi daerah. Ikut memperjuangkan lahirnya pemerintahan baru. Kemudian ikut mengurus daerah yang diperjuangkannya. Dan kini membawa pengalaman tersebut ke ruang kebijakan nasional.
Dari kampus menuju kampung. Dari kampung menuju kabupaten. Dari kabupaten menuju parlemen.
Tetapi benang merahnya tetap sama: membangun dari apa yang dimiliki dan dibutuhkan masyarakat.
Membangun dari Akar Daerah. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































