Dari Kampus, Menjadi Dampak - Andi Muetazim Mansyur: Dari Mahasiswa Teknik Industri UMI dan Tenaga Honorer, Kini Menjadi Wakil Bupati Maros
Perjalanan Andi Muetazim Mansyur, S.T., M.Si. tidak dimulai dari ruang kekuasaan. Alumni Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) ini melewati masa mahasiswa dengan berbagai keterbatasan, kemudian memulai pengabdian dari bawah sebagai tenaga honorer. Dari sana ia menapaki perjalanan panjang dalam birokrasi pekerjaan umum, memimpin Dinas PUPR Kabupaten Maros, hingga kini menjalankan amanah sebagai Wakil Bupati Maros periode 2025–2030.
MAKASSAR, umi.ac.id — Sebelum duduk sebagai Wakil Bupati Maros, Andi Muetazim Mansyur pernah berada pada posisi yang sangat berbeda. Ia pernah menjadi mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliah. Ia pernah menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan. Dan setelah memperoleh gelar sarjana, ia tidak langsung menjadi pejabat. Ia memulai dari bawah. Sebagai tenaga honorer. Tidak ada ruang kerja besar. Tidak ada jabatan tinggi. Tidak ada kepastian bahwa suatu hari ia akan menjadi Kepala Dinas PUPR. Apalagi membayangkan akan menjadi Wakil Bupati Maros. Yang ada ketika itu hanyalah kesempatan bekerja. Dan kesempatan kecil itu ia jalani. Bertahun-tahun kemudian, perjalanan tersebut membawa Andi Muetazim Mansyur ke tempat yang mungkin dahulu terasa sangat jauh: Wakil Bupati Maros.
Anak Teknik Industri UMI
Andi Muetazim Mansyur menempuh pendidikan tinggi di Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia. Ia masuk UMI pada 1993 dan menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 1999.
Tetapi enam tahun perjalanan sebagai mahasiswa tentu tidak hanya berisi ruang kuliah, tugas, ujian, dan praktikum. Ada kehidupan yang harus dijalani. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada masa-masa sulit yang harus dilewati. Dan ada perjuangan untuk memastikan pendidikan tetap dapat diselesaikan.
Detail pengalaman berat selama masa kuliah ini merupakan bagian personal perjalanan Muetazim yang perlu ditulis berdasarkan kesaksian langsungnya agar setiap kisah yang diterbitkan UMI tetap autentik dan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun satu hal terlihat dari perjalanan setelahnya: ia tidak berhenti.
Pada 1999, Muetazim menyelesaikan pendidikan Teknik Industri UMI. Ia membawa pulang gelar sarjana. Tetapi kehidupan setelah wisuda ternyata tidak langsung memberinya kemudahan.
Setelah Wisuda, Menjadi Tenaga Honorer
Inilah bagian perjalanan yang penting. Setelah kuliah, Muetazim tidak langsung masuk ke ruang elite birokrasi. Ia memulai dari posisi yang jauh lebih sederhana. Tenaga honorer.
Bagi banyak orang yang pernah menjalani status honorer, kata itu bukan sekadar kategori pekerjaan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan. Tetapi masa depan belum tentu jelas. Penghasilan terbatas. Status belum mapan. Dan tidak ada jaminan perjalanan karier akan membawa seseorang ke tempat yang lebih tinggi.
Namun pekerjaan kecil tetap pekerjaan. Kesempatan kecil tetap kesempatan. Dan Muetazim memilih menjalaninya.
Di sinilah perjalanan hidupnya memperoleh salah satu pelajaran terpenting: jangan meremehkan pintu kecil hanya karena kita belum tahu ke mana pintu itu akan membawa kita.
Dari Honorer, Belajar dari Bawah
Perjalanan di pemerintahan kemudian mulai terbentuk. Muetazim bekerja di lingkungan yang berhubungan dengan tata ruang, permukiman, dan pekerjaan umum Kabupaten Maros. Ia belajar birokrasi bukan dari buku. Ia mengalaminya.
Bagaimana surat diproses. Bagaimana program direncanakan. Bagaimana anggaran bekerja. Bagaimana pembangunan dilaksanakan. Bagaimana masyarakat menyampaikan kebutuhan. Dan bagaimana sebuah keputusan pemerintah akhirnya menjadi jalan, jembatan, drainase, gedung, atau fasilitas yang digunakan masyarakat.
Ia tidak memulai sebagai kepala dinas. Ia belajar dari bawah. Dan pengalaman dari bawah itulah yang kelak menjadi modal penting ketika tanggung jawabnya semakin besar.
Ada pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan. Ada kebijaksanaan yang hanya diperoleh setelah seseorang menjalani proses.
Sedikit demi Sedikit, Tanggung Jawab Bertambah
Karier Muetazim kemudian berkembang secara bertahap. Ia memperoleh berbagai tanggung jawab di lingkungan pekerjaan umum Kabupaten Maros. Dari pekerjaan administrasi dan keuangan. Kemudian program. Lalu pekerjaan teknis.
Ia pernah menjadi Kasubag Program. Kemudian dipercaya menjadi Kepala Bidang Bina Marga. Setelah itu menjadi Sekretaris Dinas PUPR.
Tidak ada lompatan ajaib dalam perjalanan tersebut. Yang terlihat justru jenjang demi jenjang. Tanggung jawab demi tanggung jawab. Pekerjaan demi pekerjaan. Sampai akhirnya, orang yang dahulu memulai dari bawah itu memperoleh kepercayaan memimpin organisasi tempat ia bertumbuh.
Akhirnya Menjadi Kepala Dinas PUPR
Pada 2020, Muetazim dipercaya menjadi Kepala Dinas PUPR Kabupaten Maros. Perjalanan panjang dari bawah akhirnya membawanya ke pucuk organisasi teknis pembangunan daerah. Posisi berubah. Meja kerja berubah. Kewenangan bertambah.
Tetapi orang-orang yang berada di bawah struktur organisasi itu tentu bukan dunia yang asing baginya. Sebab ia sendiri pernah memulai dari bawah. Ia mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang yang belum memiliki jabatan. Ia mengetahui bahwa sebuah organisasi tidak hanya digerakkan oleh mereka yang namanya tertulis paling atas.
Ada staf. Ada tenaga lapangan. Ada pegawai administrasi. Ada operator. Ada tenaga teknis. Ada honorer. Ada banyak orang yang mungkin tidak pernah muncul dalam berita, tetapi membuat pelayanan pemerintahan tetap berjalan.
Orang yang pernah memulai dari bawah mempunyai satu kekayaan yang tidak dapat diberikan oleh jabatan: ingatan tentang bagaimana rasanya berada di bawah.
Dari Mengurus Jalan menuju Membantu Menentukan Arah Daerah
Lima tahun kemudian, perjalanan Muetazim kembali berubah. Ia meninggalkan ruang teknis PUPR dan memasuki ruang pemerintahan daerah yang jauh lebih luas. Pada 20 Februari 2025, Andi Muetazim Mansyur dilantik sebagai Wakil Bupati Maros periode 2025–2030, mendampingi Bupati Andi Syafril Chaidir Syam. Ruang kerjanya kini tidak lagi hanya mengenai jalan, jembatan, drainase, bangunan, dan infrastruktur. Ada pendidikan. Kesehatan. Ekonomi. Kemiskinan. Stunting. Pendapatan daerah. Pelayanan publik. Pemuda. Pemerintahan desa. Dan berbagai persoalan masyarakat lainnya. Jika dahulu ia banyak memikirkan bagaimana jalan dibangun, kini pertanyaannya berkembang menjadi: ke mana pembangunan harus membawa masyarakat Maros?
Infrastruktur Mengajarkan Sesuatu tentang Kehidupan
Ada pelajaran menarik dari dunia pekerjaan umum. Sebuah jalan tidak selesai hanya dengan niat baik. Harus ada perencanaan. Ada desain. Ada anggaran. Ada tahapan. Ada pengawasan. Ada persoalan yang muncul di tengah pekerjaan. Dan ada waktu yang dibutuhkan sebelum akhirnya jalan itu dapat dilalui.
Perjalanan manusia ternyata tidak terlalu berbeda. Muetazim juga tidak sampai ke posisi hari ini dalam satu malam. Ada fase menjadi mahasiswa. Ada masa sulit. Ada pekerjaan sebagai honorer. Ada tahun-tahun menjadi staf. Ada proses belajar. Ada tanggung jawab kecil. Ada tanggung jawab yang semakin besar. Ada kegagalan dan persoalan yang tentu menjadi bagian dari perjalanan panjang. Sampai akhirnya ia memperoleh tanggung jawab yang jauh lebih besar. Hidup, seperti membangun jalan, membutuhkan proses sebelum sampai pada tujuan.
Ketika Masa Lalu Bertemu Para Honorer Hari Ini
Ada satu konteks yang membuat perjalanan Muetazim semakin relevan. Hari ini, sebagai Wakil Bupati Maros, ia berhadapan dengan persoalan pegawai dan tenaga kerja pemerintah yang sebagian juga memulai perjalanan dari status yang belum sepenuhnya mapan.
Pada Juni 2026, misalnya, Muetazim membuka pelatihan kompetensi bagi 68 PPPK Paruh Waktu Pemerintah Kabupaten Maros. Ia menekankan pentingnya sertifikasi kompetensi sebagai bekal peningkatan kapasitas dan perjalanan status para peserta.
Ada lingkar perjalanan yang menarik di sini. Orang yang dahulu pernah memulai dari bawah kini berada di depan orang-orang yang juga sedang membangun masa depannya dari bawah. Mungkin jabatan mereka hari ini belum tinggi. Mungkin perjalanan mereka masih panjang.
Tetapi kehidupan Muetazim membawa satu pesan sederhana: jangan menilai masa depan seseorang hanya dari posisi yang sedang ia jalani hari ini.
Jabatan Berubah, Akar Jangan Hilang
Inilah sisi manusiawi yang penting dari perjalanan Muetazim. Ketika seseorang bergerak semakin tinggi, ada risiko ia hanya mengingat pencapaiannya. Padahal perjalanan justru memperoleh makna ketika seseorang masih mengingat kesulitannya.
Mengingat masa mahasiswa. Mengingat ketika pekerjaan pertama belum menjanjikan apa-apa. Mengingat ketika masih menjadi orang biasa dalam struktur birokrasi. Mengingat orang-orang yang pernah membantu. Dan mengingat bahwa di luar ruang pejabat masih ada banyak orang yang sedang berjuang dari bawah. Semakin tinggi seseorang berjalan, semakin penting ia menjaga ingatan tentang tangga pertama yang pernah diinjaknya.
Dari Jalan dan Jembatan menuju Pembangunan Manusia
Sebagai Wakil Bupati, Muetazim kini bekerja dalam cakupan pembangunan yang lebih luas. Pada 2026, ia terlibat dalam evaluasi pendapatan daerah, koordinasi pembangunan infrastruktur, pelayanan pendidikan, pengembangan SDM, dan berbagai agenda pemerintahan lainnya. Dalam koordinasi pembangunan duplikasi Jembatan Pasar Sentral Maros, misalnya, latar belakang panjangnya di bidang PUPR tetap bersinggungan dengan tugasnya sebagai Wakil Bupati.
Namun pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang beton dan aspal. Ada manusia di balik setiap infrastruktur. Jalan dibangun agar orang dapat bergerak. Jembatan dibangun agar wilayah terhubung. Sekolah dibangun agar anak-anak dapat belajar. Fasilitas kesehatan dibangun agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan.
Karena itu: infrastruktur terbaik bukan sekadar yang selesai dibangun, tetapi yang membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.
Mengabdi kepada Generasi Berikutnya
Di luar pemerintahan, Muetazim juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan kepemudaan. Pada Maret 2026, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Maros masa bakti 2026–2031.
Peran tersebut kembali mempertemukannya dengan generasi muda. Mereka yang hari ini masih sekolah. Masih belajar. Masih mencari arah. Dan mungkin sebagian sedang menjalani kesulitan yang sama seperti yang pernah dialami generasi sebelumnya.
Kepada merekalah perjalanan seperti Muetazim menemukan relevansinya. Bahwa titik awal tidak selalu menentukan titik akhir.
UMI dalam Perjalanan Andi Muetazim Mansyur
Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia menjadi salah satu titik awal perjalanan Muetazim. Ia menempuh pendidikan di Program Studi Teknik Industri FTI UMI. Di sana ia memperoleh fondasi keilmuan teknik. Namun kehidupan kemudian menambahkan mata kuliah yang tidak pernah tercantum dalam kurikulum. Kesabaran. Ketahanan. Kerja keras. Menjalani pekerjaan dari bawah. Menerima tanggung jawab kecil. Belajar dari kegagalan. Dan menunggu proses. Itulah sebabnya kisah alumni tidak selalu harus dimulai dari pencapaian. Kadang justru bagian paling penting berada pada masa ketika belum ada sesuatu yang dapat dibanggakan. Sebab keberhasilan memperlihatkan seseorang berada di mana hari ini. Perjuangan menjelaskan bagaimana ia sampai ke sana.
Dari Honorer hingga Wakil Bupati
Jika perjalanan Andi Muetazim Mansyur dilihat dari hari ini, urutannya terlihat sederhana: Mahasiswa Teknik Industri UMI → Tenaga Honorer → Staf → Pejabat Struktural → Kepala Bidang → Sekretaris Dinas → Kepala Dinas PUPR → Wakil Bupati Maros. Tetapi kehidupan tidak pernah sesederhana tanda panah. Di antara satu titik dan titik berikutnya ada waktu. Ada kesabaran. Ada ketidakpastian. Ada pekerjaan yang harus tetap dilakukan ketika hasil belum terlihat. Ada hari-hari ketika seseorang mungkin belum tahu akan sampai di mana.
Justru bagian itulah yang membuat perjalanan menjadi manusiawi. Muetazim tidak memulai dari kursi Wakil Bupati. Ia pernah menjadi mahasiswa yang sedang berjuang. Ia pernah menjadi honorer. Ia pernah menjadi staf. Ia pernah berada jauh dari posisi yang hari ini diembannya.
Dan karena itulah perjalanan ini bukan sekadar cerita tentang jabatan. Ini adalah cerita tentang proses.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Hari ini, Andi Muetazim Mansyur adalah Wakil Bupati Maros. Namun untuk memahami posisi itu, perjalanan harus dibaca dari awal. Dari seorang mahasiswa Teknik Industri FTI UMI. Dari masa-masa sulit ketika menyelesaikan pendidikan. Dari pekerjaan sebagai tenaga honorer. Dari meja staf. Dari berbagai jenjang pekerjaan umum. Dari tanggung jawab sebagai Kepala Dinas PUPR. Hingga akhirnya memasuki ruang kepemimpinan Kabupaten Maros. Perjalanan tersebut menyimpan satu pesan yang mungkin sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan banyak orang: tidak semua orang memulai dengan kemudahan.
Dan tidak semua keberhasilan datang dengan cepat. Ada orang yang harus berjalan lebih panjang. Memulai lebih rendah. Menunggu lebih lama. Dan bekerja ketika belum ada seorang pun yang melihat. Karena itu, jangan malu dengan titik awal. Jangan merasa kecil karena pekerjaan pertama belum seperti yang dicita-citakan. Dan jangan menganggap sebuah perjalanan gagal hanya karena hari ini belum sampai tujuan. Sebab seorang tenaga honorer pun dapat terus belajar. Seorang staf dapat terus bertumbuh. Dan seorang mahasiswa yang pernah melewati masa sulit dapat suatu hari memperoleh tanggung jawab memimpin daerahnya. Jangan ukur masa depan seseorang dari posisi pertamanya. Lihatlah bagaimana ia menjalani prosesnya.
Dari Teknik Industri UMI. Dari masa sulit. Dari tenaga honorer. Dari staf. Dari Kepala Dinas PUPR. Kini menjadi Wakil Bupati Maros periode 2025–2030. Dari bawah, bertumbuh. Dari proses, mengabdi. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































