Dari Kampus, Menjadi Dampak - drg. Drana Yudha Cahyo Febriyanto: Alumni FKG UMI, Kini Perwira Seksi Operasi Yonkes 2 Kostrad TNI AD
Meraih nilai Ukom tertinggi Batch 3 tahun 2020 saat menyelesaikan Profesi Dokter Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia (FKG UMI), drg. Drana Yudha Cahyo Febriyanto memilih jalan pengabdian sebagai perwira TNI Angkatan Darat. Kini ia dipercaya sebagai Perwira Seksi Operasi Yonkes 2/YBH/2 Kostrad setelah menjalani sejumlah penugasan, termasuk di Papua Pegunungan dan penanganan bencana erupsi Gunung Semeru.
MAKASSAR, umi.ac.id — Seorang dokter gigi biasanya bekerja di ruang praktik. Dental unit. Instrumen klinis. Pasien. Diagnosis. Dan tindakan medis.
Tetapi perjalanan drg. Drana Yudha Cahyo Febriyanto membawanya ke ruang pengabdian yang berbeda. Ia tetap seorang dokter gigi. Namun ia juga seorang perwira TNI Angkatan Darat.
Kini, alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia tersebut dipercaya sebagai Perwira Seksi Operasi Yonkes 2/YBH/2 Kostrad. Ruang pengabdiannya pun tidak selalu berada di fasilitas kesehatan. Ia pernah menjalani penugasan di Papua Pegunungan. Terlibat dalam penanganan bencana erupsi Gunung Semeru. Hingga menjalankan tugas pengamanan ibu kota. Di sanalah kompetensi kedokteran bertemu dengan disiplin militer, kepemimpinan, kesiapan, dan kemampuan mengambil keputusan di lapangan.
Dari FKG UMI menuju Profesi Dokter Gigi
Drana menyelesaikan Pendidikan Profesi Dokter Gigi di FKG UMI pada 2020. Tahun tersebut menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan profesionalnya. Ia mencatat prestasi dengan meraih nilai Ukom tertinggi Batch 3 tahun 2020. Namun bagi Drana, pendidikan di FKG UMI tidak hanya memberikan kompetensi klinis. Lingkungan pendidikan yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman ikut membentuk cara pandangnya terhadap profesi. Seorang dokter tidak cukup hanya terampil. Ada tanggung jawab. Ada etika. Ada kepedulian. Dan ada manusia yang harus dilayani.
Kampus sebagai Tempat Belajar Memimpin
Selama menjadi mahasiswa, Drana juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Ia terlibat dalam KBMFKG UMI, organisasi internal mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UMI. Ia mengenal aktivitas organisasi eksternal melalui PSMKGI serta mengikuti kegiatan HMI. Pengalaman tersebut memberinya ruang belajar yang berbeda dari ruang kuliah. Berkomunikasi. Mengorganisasi kegiatan. Bekerja dalam tim. Mengambil keputusan. Dan berhadapan dengan karakter manusia yang berbeda-beda. Kemampuan seperti itu kemudian menemukan relevansinya ketika ia memasuki lingkungan kerja yang membutuhkan koordinasi dan kepemimpinan.
Belajar Mengabdi sebelum Lulus
Masa kuliah Drana juga diwarnai kegiatan bakti sosial, kerelawanan bencana alam, dan berbagai kegiatan sosial. Saat itu mungkin belum terbayangkan bahwa pengalaman tersebut kelak memiliki hubungan dengan medan pengabdiannya. Namun dari kegiatan sosial, mahasiswa belajar bahwa ilmu kedokteran memiliki dimensi yang lebih luas daripada ruang praktik. Ada masyarakat. Ada bencana. Ada keterbatasan. Ada situasi ketika pelayanan harus diberikan dalam kondisi yang jauh dari ideal. Pengalaman seperti inilah yang menjadi salah satu bekal ketika Drana kemudian memilih jalur pengabdian sebagai perwira TNI AD.
Ketika Dokter Gigi Mengenakan Seragam TNI AD
Setelah menyelesaikan pendidikan di FKG UMI, perjalanan Drana memasuki babak berbeda. Ia memilih TNI Angkatan Darat sebagai ruang pengabdian. Pilihan tersebut mempertemukan dua identitas profesional: dokter gigi dan prajurit.
Sebagai dokter gigi, ia dibentuk untuk memberikan pelayanan kesehatan. Sebagai perwira, ia dituntut memiliki disiplin, kepemimpinan, kesiapan, dan kemampuan menjalankan tanggung jawab organisasi. Keduanya kemudian bertemu dalam satu pengabdian.
Kompetensi kesehatan tetap menjadi fondasi. Seragam memperluas ruang tanggung jawabnya.
Bertugas di Papua Pegunungan
Salah satu bagian penting perjalanan Drana adalah keterlibatannya dalam Satgas Pamtas Mobile 2024–2025 di sektor Nduga, Papua Pegunungan. Penugasan tersebut membawanya jauh dari lingkungan praktik kedokteran gigi pada umumnya. Kondisi geografis berbeda. Lingkungan kerja berbeda. Kebutuhan lapangan berbeda. Dan keputusan harus diambil dalam situasi yang tidak selalu ideal. Di tempat seperti itulah kompetensi profesional tidak berdiri sendiri. Ketahanan diri. Kepemimpinan. Kemampuan beradaptasi. Kerja sama tim. Dan disiplin menjadi bagian dari pengabdian sehari-hari.
Dari Papua hingga Penanganan Erupsi Semeru
Medan pengabdian Drana tidak hanya berkaitan dengan satu wilayah. Ia juga terlibat dalam Satgas Gulbencal erupsi Gunung Semeru. Situasinya berbeda. Tetapi prinsip pengabdiannya tetap sama. Dalam kondisi bencana, tenaga kesehatan dibutuhkan bukan hanya karena kompetensi klinis. Kemampuan bekerja dalam sistem tanggap darurat, berkoordinasi, beradaptasi, dan memberikan pelayanan di tengah keterbatasan juga menjadi penting.
Pengalaman tersebut memiliki benang merah dengan aktivitas sosial dan kebencanaan yang pernah ia jalani ketika masih menjadi mahasiswa. Apa yang dahulu dipelajari melalui kegiatan kemahasiswaan kemudian memperoleh ruang penerapan dalam tanggung jawab profesional.
Kini Perwira Seksi Operasi Yonkes 2/YBH/2 Kostrad
Perjalanan tersebut kini membawa Drana pada amanah sebagai Perwira Seksi Operasi Yonkes 2/YBH/2 Kostrad. Posisi ini membuat ruang tanggung jawabnya berkembang. Ia tidak lagi hanya membawa kompetensi sebagai dokter gigi. Ia juga berada dalam ruang yang membutuhkan koordinasi, perencanaan, kesiapan, dan kepemimpinan. Perjalanan itu memperlihatkan bahwa pendidikan profesi dapat berkembang ke ruang pengabdian yang mungkin tidak selalu dibayangkan ketika seseorang masih menjadi mahasiswa. Dari dokter gigi. Menjadi perwira. Dari pelayanan klinis. Menuju tanggung jawab dalam satuan kesehatan militer.
Dari Kompetensi Klinis menuju Kesiapan Pengabdian
Ada pembeda penting dalam perjalanan Drana. Prestasi akademiknya dapat diukur. Ia pernah meraih nilai Ukom tertinggi Batch 3 tahun 2020. Namun setelah memasuki dunia pengabdian, ukuran keberhasilannya menjadi lebih luas. Bukan hanya seberapa baik seseorang menguasai kompetensi. Tetapi seberapa siap kompetensi itu digunakan ketika keadaan membutuhkannya. Di klinik. Di satuan. Di daerah penugasan. Dalam situasi bencana. Atau ketika harus memimpin dan mengambil keputusan. Inilah yang dapat disebut: "Kompetensi yang Siap Ditugaskan." Ilmu tidak hanya dikuasai. Ilmu harus siap dibawa ke mana pun pengabdian memanggil.
Dokter, Perwira, dan Pemimpin Lapangan
Perjalanan Drana memperlihatkan pertemuan tiga kemampuan. Kompetensi medis. Disiplin militer. Kepemimpinan lapangan. Ketiganya tidak saling menggantikan. Justru saling memperkuat. Dokter membutuhkan empati. Perwira membutuhkan ketegasan. Pemimpin membutuhkan kemampuan mengambil keputusan. Dan ketika ketiganya bertemu, seseorang dituntut mengetahui kapan harus mendengar, kapan harus bertindak, dan kapan harus mengambil tanggung jawab.
Membawa Nama Almamater ke Medan Pengabdian
Bagi Drana, perjalanan sebagai dokter gigi sekaligus perwira TNI AD bukan hanya mengenai karier pribadi. Ada almamater yang ikut dibawa dalam perjalanan tersebut. Ada nama FKG UMI. Ada pendidikan yang pernah diterima. Ada nilai yang pernah ditanamkan. Dan ada harapan agar setiap tugas yang dijalankan dapat menjadi bagian dari kontribusi alumni terhadap masyarakat dan bangsa.
Ia berharap FKG UMI terus melahirkan dokter gigi yang berkualitas, kompeten, beriman, dan berakhlak mulia. Dokter yang tidak hanya siap menghadapi ujian kompetensi. Tetapi juga siap menghadapi kehidupan setelah ujian selesai.
Dari Nilai Ukom Tertinggi menuju Medan Tugas
Perjalanan Drana memiliki satu kontras yang menarik. Pada 2020, salah satu pencapaiannya tercatat melalui sebuah angka: nilai Ukom tertinggi Batch 3. Beberapa tahun kemudian, kompetensi tersebut diuji dalam realitas yang jauh berbeda. Bukan lagi lembar ujian. Tetapi medan tugas. Bukan hanya pertanyaan dengan jawaban benar atau salah. Tetapi situasi yang membutuhkan pertimbangan, koordinasi, kesiapan, dan tanggung jawab.
Di situlah pendidikan memperoleh makna berikutnya. Ujian mengukur kompetensi. Pengabdian menguji bagaimana kompetensi itu digunakan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
drg. Drana Yudha Cahyo Febriyanto menyelesaikan pendidikan Profesi Dokter Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia pada 2020. Ia meraih nilai Ukom tertinggi Batch 3 tahun tersebut. Tetapi perjalanan setelah kampus membawanya ke ruang pengabdian yang berbeda. Menjadi perwira TNI Angkatan Darat. Menjalani penugasan di Papua Pegunungan. Terlibat dalam penanganan bencana erupsi Gunung Semeru. Menjalankan berbagai tanggung jawab lapangan. Dan kini dipercaya sebagai Perwira Seksi Operasi Yonkes 2/YBH/2 Kostrad.
Perjalanan itu dapat diringkas: FKG UMI → Dokter Gigi → Prestasi Ukom → Perwira TNI AD → Penugasan Lapangan → Penanganan Bencana → Perwira Seksi Operasi Yonkes 2 Kostrad.
Dari ruang pendidikan menuju ruang pengabdian. Dari kompetensi klinis menuju kepemimpinan lapangan. Dari jas dokter menuju seragam perwira. Namun satu hal tidak berubah: tugas utamanya tetap tentang manusia. Pesannya pun sederhana: Tetap semangat. Pantang menyerah. Selalu gembira dalam tugas. Cakra! Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































