Dari Kampus, Menjadi Dampak - Ir. Ery Astuti Husainy: Alumni Teknik Industri dan Profesi Insinyur UMI, Kini Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Konawe Utara
Dari Teknik Manajemen Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI), Ir. Ery Astuti Husainy, S.T., M.M., IPU., ASEAN Eng. membangun karier panjang di pemerintahan Kabupaten Konawe Utara. Dari perencanaan pembangunan, perdagangan, administrasi pemerintahan, hingga kembali ke sektor perindustrian dan perdagangan, ia kini dipercaya sebagai Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Konawe Utara.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tidak semua insinyur bekerja di pabrik. Ada pula yang membawa cara berpikir sistem, proses, efisiensi, dan pengelolaan sumber daya ke dalam pemerintahan. Itulah jalan yang ditempuh Ir. Ery Astuti Husainy, S.T., M.M., IPU., ASEAN Eng.
Ia menyelesaikan pendidikan Teknik Manajemen Industri FTI UMI pada 2005. Dari kampus, Ery kemudian memasuki dunia yang berbeda dari industri manufaktur: birokrasi pemerintahan. Di ruang inilah ilmu tentang organisasi, manusia, proses, dan manajemen memperoleh bentuk pengabdian yang baru. Kini, setelah menapaki berbagai tanggung jawab di lingkungan Pemerintah Kabupaten Konawe Utara, ia dipercaya sebagai Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Konawe Utara.
Dari Teknik Manajemen Industri menuju Pemerintahan
Teknik Manajemen Industri mengajarkan bagaimana sebuah sistem dirancang agar dapat bekerja secara efektif. Ada manusia, ada sumber daya, ada proses, ada target, ada koordinasi, dan ada hasil yang harus dicapai. Ketika Ery memasuki pemerintahan, objek yang dikelola memang berubah. Bukan lini produksi, bukan mesin, bukan sistem manufaktur. Yang dihadapi adalah organisasi pemerintahan beserta perencanaan, administrasi, sumber daya manusia, pelayanan, program, dan kebijakan di dalamnya. Namun logika dasarnya tetap memiliki hubungan: bagaimana membuat sebuah sistem bekerja dengan lebih baik.
Memulai dari Perencanaan Pembangunan
Karier Ery sebagai aparatur sipil negara dimulai ketika ia menjadi CPNS golongan III/b pada 2009. Pada 2011, ia dipercaya sebagai Pelaksana Jabatan Kepala Subbidang Sosial Budaya Bappeda Kabupaten Konawe Utara. Bappeda mempertemukannya dengan salah satu jantung pemerintahan daerah: perencanaan pembangunan. Di sini, keputusan tidak cukup hanya menjawab apa yang ingin dikerjakan. Pemerintah harus membaca kebutuhan masyarakat, menentukan prioritas, menyusun program, mengalokasikan sumber daya, serta memastikan rencana dapat diterjemahkan menjadi kegiatan. Pengalaman tersebut menjadi fondasi awal Ery memahami pemerintahan sebagai sebuah sistem.
Memasuki Sektor Perdagangan
Pada 2014, perjalanan profesionalnya bergerak ke sektor perdagangan. Ery dipercaya sebagai Kepala Seksi Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Konawe Utara. Tanggung jawabnya kemudian berkembang ketika ia menjadi Pelaksana Jabatan Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindagkop dan UMKM Konawe Utara, sebelum selanjutnya dipercaya sebagai Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Konawe Utara. Perpindahan dari perencanaan pembangunan menuju perdagangan memperluas perspektifnya. Ia tidak lagi hanya berhadapan dengan bagaimana pembangunan direncanakan. Ia semakin dekat dengan bagaimana pemerintah mengelola sektor yang bersentuhan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Dari Perdagangan menuju Administrasi Pemerintahan
Pada 2021, Ery memasuki ruang tanggung jawab yang berbeda ketika dipercaya sebagai Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Konawe Utara. Posisi ini membawanya lebih dekat pada mesin administrasi pemerintahan. Jika pengalaman di Bappeda memberinya perspektif perencanaan dan Dinas Perindag mempertemukannya dengan sektor perdagangan, Sekretariat Daerah memperluas pengalamannya dalam pengelolaan organisasi pemerintahan.
Administrasi yang terlihat sederhana dari luar sesungguhnya menentukan banyak hal. Dokumen harus bergerak. Sumber daya harus tersedia. Koordinasi harus berjalan. Pelayanan internal harus berfungsi. Dan keputusan pimpinan harus memperoleh dukungan administrasi yang memadai. Pemerintahan yang baik bukan hanya ditentukan oleh kebijakan besar. Ia juga ditentukan oleh proses sehari-hari yang bekerja dengan tertib.
Kini Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Konawe Utara
Pada Februari 2025, perjalanan tersebut membawanya kembali ke sektor yang telah lama dikenalnya. Ery dipercaya sebagai Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Konawe Utara. Ia kembali ke dunia perindustrian dan perdagangan dengan bekal yang lebih lengkap: pengalaman perencanaan pembangunan, pengalaman teknis di bidang perdagangan, pengalaman memimpin bidang, pengalaman administrasi pemerintahan di Sekretariat Daerah, dan penguatan akademik serta profesional yang terus dibangun sepanjang perjalanan kariernya. Posisi Sekretaris Dinas kemudian menjadi titik pertemuan berbagai pengalaman tersebut.
Belajar Sesuai Kebutuhan Tanggung Jawab
Satu hal yang menonjol dari perjalanan Ery adalah pendidikan yang terus berkembang mengikuti kebutuhan pekerjaan. Setelah menyelesaikan Teknik Manajemen Industri UMI pada 2005, ia melanjutkan pendidikan Magister Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Hasanuddin dan menyelesaikannya pada 2008. Ketika kariernya semakin berkembang, ia kembali ke UMI. Pada 2017, Ery menyelesaikan Program Profesi Insinyur FTI UMI. Setahun kemudian, ia memperoleh sertifikasi Insinyur Profesional Madya (IPM) dari Persatuan Insinyur Indonesia dan ASEAN Engineer.
Rangkaian tersebut membentuk kombinasi yang menarik: Teknik Manajemen Industri → Manajemen SDM → Pengalaman Birokrasi → Profesi Insinyur → Kompetensi Profesional. Ia tidak sekadar menambah gelar. Setiap fase pendidikan memperluas perspektif yang dapat digunakan dalam pekerjaannya.
Belajar dari Berbagai Model Pembangunan
Pengembangan kompetensinya juga berlangsung melalui berbagai pendidikan dan pelatihan pemerintahan. Ery pernah mengikuti program peningkatan pelayanan dasar melalui pengembangan kapasitas di Sulawesi yang melibatkan Canadian International Development Agency (CIDA) dan Kementerian Dalam Negeri. Ia juga mengikuti penguatan kapasitas manajemen perencanaan berbasis komunitas dan mekanisme kolaborasi bersama Kementerian Dalam Negeri dan JICA.
Pengalaman pembelajarannya mencakup pula perencanaan dan penganggaran yang berpihak kepada masyarakat miskin, perencanaan pembangunan daerah dan RPJMD, hingga pengadaan barang dan jasa pemerintah. Rangkaian tersebut memperlihatkan karakter seorang birokrat yang terus memperbarui kapasitas mengikuti perubahan tanggung jawab.
Dari Mengelola Proses menuju Mengelola Institusi
Perjalanan Ery memperlihatkan evolusi yang menarik dari ilmu Teknik Manajemen Industri. Di industri, seorang engineer dapat memperbaiki proses agar produksi berjalan lebih efektif. Dalam pemerintahan, prinsip tersebut memperoleh bentuk berbeda. Yang diperbaiki dapat berupa alur administrasi. Yang dikelola dapat berupa organisasi. Yang direncanakan dapat berupa program pembangunan. Yang dioptimalkan dapat berupa sumber daya pemerintah. Dan hasil akhirnya bukan produk yang keluar dari sebuah lini produksi, melainkan pelayanan dan fungsi pemerintahan yang harus bekerja untuk masyarakat.
Dari perjalanan ini lahir diksi utama #074: "Rekayasa Birokrasi — Engineering the Government Process." Bukan dalam arti memperlakukan pemerintahan seperti mesin. Tetapi membawa disiplin seorang engineer ke dalam birokrasi: membaca sistem, memahami proses, menemukan masalah, mengelola sumber daya, memperbaiki koordinasi, dan memastikan pekerjaan menghasilkan manfaat.
Pangkat adalah Jejak, Kapasitas adalah Fondasi
Perjalanan kepangkatan Ery dimulai dari CPNS III/b pada 2009 hingga mencapai Pembina Tingkat I/IV.b pada 2023. Namun perjalanan seorang ASN tidak cukup dibaca dari perubahan golongan. Yang lebih penting adalah bagaimana kapasitas berkembang bersamaan dengan tanggung jawab.
Dari Bappeda. Ke perdagangan. Ke Sekretariat Daerah. Kemudian kembali ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan sebagai Sekretaris Dinas. Setiap perpindahan memberinya sudut pandang baru mengenai bagaimana pemerintah daerah bekerja. Jabatan menunjukkan di mana seseorang ditempatkan. Kapasitas menentukan apa yang dapat ia lakukan dari tempat itu.
Insinyur Tidak Harus Berada di Balik Mesin
Perjalanan Ery juga membawa pesan yang relevan bagi mahasiswa teknik. Pendidikan keteknikan tidak mengunci seseorang pada satu jenis profesi. Yang paling penting dari pendidikan teknik bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat tertentu. Ada sesuatu yang lebih mendasar: cara berpikir. Bagaimana persoalan dipecah. Bagaimana data dibaca. Bagaimana proses dipahami. Bagaimana sumber daya diatur. Bagaimana alternatif dibandingkan. Dan bagaimana keputusan dibuat. Kemampuan semacam itu dapat digunakan di pabrik, di perusahaan, di proyek, dan juga di pemerintahan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Ir. Ery Astuti Husainy, S.T., M.M., IPU., ASEAN Eng. merupakan alumnus Teknik Manajemen Industri FTI Universitas Muslim Indonesia yang menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2005 dan kembali ke FTI UMI untuk menyelesaikan Program Profesi Insinyur pada 2017.
Kariernya di Pemerintah Kabupaten Konawe Utara bergerak dari perencanaan pembangunan, perdagangan, administrasi pemerintahan, hingga kini dipercaya sebagai Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Konawe Utara.
Perjalanannya menunjukkan bentuk lain dari dampak seorang alumni teknik. Ia tidak membangun pabrik. Ia ikut membangun proses di dalam pemerintahan. Tidak mengendalikan lini produksi. Tetapi ikut memastikan organisasi, sumber daya, administrasi, dan pelayanan dapat bergerak dalam satu sistem.
Dari Teknik Manajemen Industri menuju manajemen pemerintahan. Dari mengelola proses menuju ikut menguatkan institusi. Itulah perjalanan Ery Astuti Husainy. Rekayasa Birokrasi — Engineering the Government Process. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































