Dari Kampus, Menjadi Dampak - Ir. Syaifullah Halik: Alumni Fakultas Pertanian UMI, Kini Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Kolaka
MAKASSAR, umi.ac.id — Ir. Syaifullah Halik mengembangkan pengabdiannya melalui lembaga legislatif, organisasi olahraga, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini kini mengemban amanah sebagai Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Kolaka setelah sebelumnya memimpin lembaga tersebut sebagai ketua.
Perjalanannya mempertemukan pendidikan, pengalaman organisasi, dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat. Hubungan akademiknya dengan UMI juga terus berlanjut melalui pendidikan magister pada Program Studi Ilmu Ekonomi yang sedang ditempuhnya.
Dari Kolaka ke Fakultas Pertanian UMI
Lahir di Konaweha pada 29 Januari 1978, Syaifullah menyelesaikan pendidikan di SDN Konaweha pada 1990, SMPN Tosiba pada 1993, dan SMAN 1 Kolaka pada 1996. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Makassar. Pada 1997, Syaifullah mulai menempuh studi di Fakultas Pertanian UMI dan menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2001.
Pendidikan tersebut menjadi salah satu bagian dari bekal akademiknya sebelum mengembangkan kiprah dalam politik dan organisasi. Pengalaman berikutnya memperluas ruang kontribusinya ke berbagai persoalan pemerintahan serta kehidupan masyarakat. Keputusannya melanjutkan studi magister Ilmu Ekonomi di UMI menunjukkan bahwa proses pengembangan diri tetap berjalan di tengah tanggung jawab kelembagaan.
Meniti Tanggung Jawab di DPRD Kolaka
Pada periode 2014–2019, Syaifullah menjadi anggota DPRD Kabupaten Kolaka dari Partai Gerindra. Ia kemudian dipercaya sebagai Ketua DPRD Kabupaten Kolaka pada 2020–2024. Memasuki periode berikutnya, ia kembali mengemban tanggung jawab dalam unsur pimpinan sebagai Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Kolaka.
Pengalaman sebagai anggota dan pimpinan DPRD mempertemukannya dengan kebutuhan membangun komunikasi, mengelola dinamika kelembagaan, serta menjalankan tugas perwakilan masyarakat. Perjalanan tersebut juga menuntut kemampuan bekerja bersama berbagai pihak. Aspirasi warga, pembahasan kebijakan, dan kebutuhan pembangunan daerah menjadi bagian dari ruang kerja lembaga legislatif.
Terlibat dalam Pembinaan Olahraga
Di luar aktivitas legislatif, Syaifullah aktif dalam organisasi politik dan pembinaan olahraga. Ia tercatat sebagai Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Sulawesi Tenggara. Dalam bidang olahraga, ia mengemban amanah sebagai Ketua Pencak Silat Satria Muda Indonesia (SMI) Sulawesi Tenggara, Ketua Harian KONI Kabupaten Kolaka, Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Kolaka, serta Ketua Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) Kabupaten Kolaka. Jabatan Ketua Harian KONI Kolaka juga tercatat dalam pelantikan kepengurusan masa bakti 2026–2030.
Keterlibatan tersebut menjadi ruang lain untuk mengambil peran bersama pengurus, pelatih, atlet, dan komunitas olahraga. Pembinaan membutuhkan kesinambungan kegiatan, koordinasi, serta perhatian terhadap pengembangan potensi masyarakat.
Pengabdian Sosial dan Hubungan dengan Almamater
Pengalaman organisasinya turut mencakup bidang sosial dan kemasyarakatan. Ia tercatat sebagai Dewan Pembina Organisasi Nasional Tamalaki Wonua Mekongga (TWM) Kabupaten Kolaka, Wakil Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kolaka, Sekretaris Syarikat Islam Kabupaten Kolaka, serta pengurus Nahdlatul Ulama Kabupaten Kolaka. Berbagai amanah itu mempertemukannya dengan komunitas dan kebutuhan masyarakat yang beragam. Pengalaman tersebut berjalan beriringan dengan tanggung jawabnya dalam lembaga legislatif.
Kiprah Syaifullah menjadi bagian dari perjalanan alumni UMI yang mengembangkan pengabdian melampaui bidang pendidikan awalnya. Fakultas Pertanian UMI merupakan bagian dari riwayat akademiknya, sementara pengalaman politik dan organisasi memperluas tanggung jawab yang dijalani. Kini, melalui jabatan Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Kolaka dan pendidikan magister yang sedang ditempuhnya, ia melanjutkan proses belajar sekaligus pengabdian di daerah.
DARI FAKULTAS PERTANIAN UMI, MENUJU PENGABDIAN LEGISLATIF DAN KEMASYARAKATAN. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































