Dari Kampus, Menjadi Dampak - La Ode Muhammad Taufiq Ramadhan: Alumni Farmasi UMI, Kini Kapten TNI AU dan Apoteker di Lembaga Farmasi TNI AU
Dari Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI), La Ode Muhammad Taufiq Ramadhan, S.Farm., Apt. membawa profesi apoteker ke jalur pengabdian yang tidak biasa. Ia memilih menjadi perwira TNI Angkatan Udara, menjalani pelayanan kefarmasian di rumah sakit, terlibat dalam penugasan kemanusiaan, memasuki industri farmasi pertahanan, hingga menjadi preseptor mahasiswa profesi apoteker. Kini, berpangkat Kapten, ia bertugas di Lembaga Farmasi TNI AU.
MAKASSAR, umi.ac.id — Obat yang sama dapat berada di banyak tempat. Di apotek. Di rumah sakit. Di lokasi bencana. Di fasilitas militer. Hingga di industri farmasi. Yang berubah adalah tempatnya. Tanggung jawab seorang apoteker tetap sama: memastikan obat dan pelayanan kefarmasian dikelola secara profesional.
Di jalur itulah La Ode Muhammad Taufiq Ramadhan, S.Farm., Apt., alumnus Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia, membangun pengabdiannya. Ia memulai dari Farmasi UMI, menjadi apoteker, lalu memilih mengenakan seragam TNI Angkatan Udara tanpa meninggalkan profesi yang telah dipelajarinya.
Dari Farmasi UMI Menjadi Apoteker
Taufiq masuk Fakultas Farmasi UMI pada 2009 dan menyelesaikan pendidikan Sarjana Farmasi pada 2014. Setahun kemudian, ia menyelesaikan pendidikan profesi apoteker di Universitas Hasanuddin. Pada titik tersebut, jalur profesinya sebenarnya sudah terbentuk. Ia adalah seorang apoteker.
Namun pada 2017, sebuah pilihan memperluas ruang pengabdiannya. Taufiq mengikuti seleksi Perwira Prajurit Karier TNI dari jalur tenaga kesehatan. Ia diterima. Dunia yang sebelumnya dipenuhi ilmu obat, pelayanan kefarmasian, dan tanggung jawab profesi kemudian bertemu dengan disiplin, pendidikan, dan pengabdian militer.
Apoteker yang Memilih Seragam
Menjadi perwira TNI AU tidak membuat Taufiq meninggalkan farmasi. Justru ilmu itulah yang dibawanya masuk ke lingkungan militer. Setelah mengikuti pendidikan militer, pendidikan kecabangan kesehatan, dan pendidikan khusus apoteker, pada 2018 ia mulai menjalankan tugas sebagai perwira pada Unit Apotek Jangkes RSAU dr. Dody Sardjoto Lanud Hasanuddin.
Di sana, seragamnya berubah. Profesinya tidak. Ia tetap bekerja dengan dasar keilmuan seorang apoteker dalam pelayanan kefarmasian. Perjalanan Taufiq memperlihatkan bahwa sebuah profesi tidak selalu menentukan satu tempat kerja. Kompetensi dapat tetap sama, sementara medan pengabdiannya berubah.
Ketika Farmasi Hadir di Situasi Bencana
Pengabdiannya kemudian keluar dari ruang pelayanan rutin. Taufiq terlibat dalam Satgas Bencana Alam Tsunami di Sulawesi. Dalam situasi bencana, pelayanan kesehatan menghadapi kondisi yang berbeda. Kebutuhan datang cepat. Sumber daya harus dikelola. Koordinasi menjadi penting. Dan masyarakat yang terdampak membutuhkan pelayanan dalam keadaan yang jauh dari normal.
Pada titik ini, farmasi bukan hanya berbicara tentang obat. Ia menjadi bagian dari respons kemanusiaan. Atas pengabdian sosial tersebut, Taufiq menerima Satya Lencana Bhakti Sosial berdasarkan Keppres Nomor 35/TK/2021. Pengalaman itu memperlihatkan dimensi lain dari profesinya. Ia adalah prajurit. Ia adalah apoteker. Namun ketika bencana terjadi, kedua identitas tersebut bertemu dalam satu tujuan: membantu manusia.
Dari Rumah Sakit menuju Industri Farmasi Pertahanan
Pada 2023, perjalanan Taufiq memasuki fase baru. Setelah berada dalam pelayanan kefarmasian rumah sakit, ia berpindah ke lingkungan Lembaga Farmasi III Baharwathan Kementerian Pertahanan yang bergerak dalam bidang industri farmasi. Perubahan tersebut memperluas perspektif profesionalnya. Sebelumnya ia berada dekat dengan titik pelayanan. Kini ia masuk ke lingkungan yang berkaitan dengan sistem pendukung dan industri farmasi pertahanan.
Dalam perjalanan berikutnya, ia dipercaya menjalankan tugas sebagai Kaurminlog Unitjang Bagjanghar di Lembaga Farmasi TNI AU, jabatan yang dijalaninya hingga kini berdasarkan data profil yang tersedia.
Dengan demikian, perjalanan profesionalnya membentuk lintasan yang tidak sederhana: Farmasi UMI → Profesi Apoteker → TNI AU → Pelayanan Kefarmasian → Penugasan Kemanusiaan → Industri Farmasi Pertahanan. Ilmu yang sama bekerja pada ruang yang berbeda.
Dari Pengguna Obat hingga Sistem yang Menopang Ketersediaannya
Perjalanan dari rumah sakit menuju lembaga farmasi memberi Taufiq pengalaman melihat farmasi dari sisi yang lebih luas. Pelayanan kefarmasian berada dekat dengan pasien. Industri farmasi berada lebih jauh di hulu. Keduanya memiliki peran berbeda, tetapi berada dalam satu rantai yang sama.
Obat yang diterima pengguna tidak muncul begitu saja. Di belakangnya terdapat proses, mutu, logistik, administrasi, penyimpanan, distribusi, serta sumber daya manusia yang membuat sistem tersebut bekerja.
Pengalaman di dua ruang inilah yang memperkaya perjalanan Taufiq sebagai apoteker sekaligus perwira.
Pangkat Bertambah, Profesi Tetap Menjadi Fondasi
Karier militernya berkembang secara bertahap. Dari masa pendidikan pada 2017, Taufiq melewati jenjang kepangkatan hingga mencapai Kapten pada 2025.
Namun pangkat bukan inti perjalanan. Yang lebih penting adalah apa yang tetap dibawanya sepanjang perubahan tersebut. Ilmu farmasi. Ketika berada di rumah sakit, ilmu itu digunakan dalam pelayanan. Ketika terlibat dalam tugas kemanusiaan, kompetensinya menjadi bagian dari respons kesehatan. Ketika masuk ke lembaga farmasi, perspektifnya berkembang menuju sistem industri dan dukungan kefarmasian. Dan ketika bertemu mahasiswa profesi, pengalaman tersebut kembali menjadi bahan pembelajaran.
Pengalaman yang Kembali ke Ruang Pendidikan
Di tengah tugas kedinasannya, Taufiq juga menjalankan peran sebagai preseptor mahasiswa Profesi Apoteker. Bagian ini membuat perjalanannya membentuk sebuah lingkaran pengetahuan.
Dulu ia adalah mahasiswa yang belajar bagaimana menjadi apoteker. Kemudian ia memasuki profesi. Profesi membawanya ke pelayanan kesehatan. Pengabdian membawanya ke situasi bencana. Karier membawanya ke industri farmasi pertahanan. Lalu seluruh pengalaman tersebut dibawa kembali ke ruang pendidikan untuk dibagikan kepada calon apoteker.
Ada sesuatu yang bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya: bukan hanya pengetahuan, tetapi pengalaman.
Ilmu yang Ikut Bertugas
Dari perjalanan tersebut lahir diksi utama: "Ilmu yang Ikut Bertugas."
Karena dalam perjalanan Taufiq, yang berpindah bukan hanya orangnya. Ilmunya ikut berpindah. Dari kampus ke rumah sakit. Dari rumah sakit ke lokasi pengabdian kemanusiaan. Dari pelayanan menuju industri farmasi pertahanan. Dari pengalaman profesional kembali menuju mahasiswa.
"Seragam menentukan tempat ia bertugas. Ilmu farmasi menentukan kompetensi yang ia bawa dalam tugas itu."
Inilah pembeda perjalanan Taufiq. Ia tidak meninggalkan profesi ketika menjadi prajurit. Ia membawa profesinya masuk ke dalam pengabdian militer.
Farmasi Memiliki Medan Pengabdian yang Luas
Perjalanan Taufiq sekaligus menunjukkan kepada mahasiswa Farmasi UMI bahwa profesi apoteker memiliki ruang yang luas. Apoteker dapat berada di apotek dan rumah sakit. Dapat bekerja di industri. Dapat terlibat dalam sistem kesehatan institusi. Dapat menjadi pendidik dan preseptor. Dan bagi mereka yang memilih jalur tertentu, kompetensi tersebut juga dapat dibawa ke lingkungan pertahanan.
Artinya, pendidikan farmasi bukan hanya mempersiapkan seseorang untuk satu tempat kerja. Ia membangun kompetensi yang dapat bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat dan negara.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
La Ode Muhammad Taufiq Ramadhan, S.Farm., Apt. merupakan alumnus Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia yang menyelesaikan pendidikan Sarjana Farmasi pada 2014 dan melanjutkan pendidikan profesi apoteker di Universitas Hasanuddin. Pada 2017, ia memilih jalur Perwira Prajurit Karier TNI dari tenaga kesehatan dan kemudian membangun pengabdian sebagai apoteker sekaligus perwira TNI Angkatan Udara. Perjalanannya bergerak dari pelayanan kefarmasian di RSAU dr. Dody Sardjoto Lanud Hasanuddin, penugasan kemanusiaan, hingga lingkungan industri farmasi pertahanan.
Kini, berpangkat Kapten TNI AU, ia menjalankan tugas di Lembaga Farmasi TNI AU sekaligus berbagi pengalaman sebagai preseptor mahasiswa Profesi Apoteker. Perjalanan tersebut tidak mengubah fondasi profesinya. Justru memperluas tempat ilmu itu bekerja.
Dari Farmasi UMI, ia membawa ilmu menuju pengabdian. Dari pengabdian, ia memperoleh pengalaman. Dan dari pengalaman, ia kembali membagikan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Ilmu yang Ikut Bertugas. Karena toga boleh dilepas. Seragam dapat berganti. Tempat tugas dapat berpindah. Tetapi ilmu yang benar-benar hidup akan terus ikut ke mana pengabdian membawanya. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































