Dari Kampus, Menjadi Dampak - Letkol Kal Suhardin, S.T.: Alumni Teknik Kimia UMI yang Dulu Jalan Kaki ke Kampus dan Jadi Tukang Urut, Kini Komandan Detasemen TNI AU Mutiara Palu
Dari keterbatasan biaya hidup sebagai mahasiswa hingga memimpin Detasemen TNI AU Mutiara Palu, perjalanan Letkol Kal Suhardin, S.T. dibangun melalui jalan yang panjang. Alumni Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) ini pernah berjalan kaki ke kampus, menjadi tukang urut, atlet sekaligus pelatih taekwondo untuk membantu biaya hidup, sebelum mengikuti pendidikan perwira TNI dan meniti pengabdian lebih dari dua dekade di TNI Angkatan Udara.
MAKASSAR, umi.ac.id — Dulu, untuk pergi kuliah, Suhardin berjalan kaki. Bukan untuk berolahraga. Memang begitu caranya menghemat biaya hidup. Sebagai anak muda asal Buton yang merantau ke Makassar, kiriman orang tua harus digunakan sebaik mungkin. Kuliah harus tetap berjalan. Hidup juga harus berjalan. Maka Suhardin belajar sejak muda bahwa ketika uang terbatas, yang tidak boleh ikut terbatas adalah ikhtiar.
Hari ini perjalanan itu telah membawanya jauh. Sumber resmi TNI Angkatan Udara pada Juni 2026 mencatat Letkol Kal Suhardin, S.T. sebagai Komandan Detasemen TNI AU Mutiara Palu. Namun cerita tentang dirinya justru menarik ketika ditarik kembali ke masa sebelum pangkat, jabatan, dan seragam itu ada.
Jalan Kaki untuk Tetap Kuliah
Suhardin menjalani kehidupan mahasiswa dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Ia tinggal di kos di Makassar dengan kiriman orang tua dari kampung yang terbatas. Keadaan membuatnya belajar mengatur kebutuhan, membangun pertemanan, dan mengerjakan hal-hal yang dapat membantunya bertahan tanpa meninggalkan kuliah. Ia tidak memiliki banyak pilihan. Tetapi ia memiliki kemauan. Ada satu kemampuan yang kemudian ikut membantunya menjalani masa tersebut: mengurut. Kemampuan itu diwarisi dari kakeknya. Sejak kecil, Suhardin mengenal bagaimana sang kakek membantu orang yang mengalami keseleo atau salah urat. Kemampuan tersebut kemudian diteruskan kepadanya.
Ketika menjadi mahasiswa, keterampilan sederhana itu memperoleh arti berbeda. Tangannya dapat membantu orang lain. Pada saat yang sama, ia memperoleh tambahan untuk menopang kebutuhan hidupnya. Suhardin tidak melihat pekerjaan itu sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Baginya, selama halal dan dapat membantu dirinya menyelesaikan pendidikan, pekerjaan itu layak dilakukan.
Dari Taekwondo Mendapat Tambahan Biaya Hidup
UMI juga mempertemukan Suhardin dengan taekwondo. Awalnya ia mengikuti kegiatan tersebut sebagai mahasiswa. Ia terus berlatih hingga berkembang menjadi atlet. Kemudian menjadi pelatih. Dari melatih taekwondo, ia memperoleh honor yang kembali digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah. Hari-harinya pun terbagi: kuliah, berlatih, melatih, mengurut, dan berjalan kaki. Jika dibaca hari ini, semuanya terlihat seperti rangkaian cerita. Ketika dijalani saat itu, semuanya adalah cara untuk bertahan. Tetapi tanpa disadari, kehidupan tersebut sedang membentuk sesuatu yang kelak sangat dibutuhkan dalam profesinya: disiplin, daya tahan, dan kemampuan menghadapi tekanan.
Setelah Lulus, Masih Berada di Laboratorium UMI
Suhardin menyelesaikan pendidikan di Universitas Muslim Indonesia pada 1998. Tetapi ia belum langsung menjadi tentara. Setelah lulus, ia masih membantu aktivitas di Laboratorium Kimia Dasar UMI. Pada masa itulah sebuah informasi sederhana datang melalui media yang sangat umum digunakan saat itu: koran.
Suhardin membaca pengumuman penerimaan perwira TNI dari jalur sarjana. Informasi tersebut bertemu dengan sebuah cita-cita lama. Ia memang ingin menjadi tentara. Maka ia mendaftar. Keputusan itu menjadi titik balik perjalanan hidupnya.
Dari UMI menuju Seleksi Perwira TNI
Tahapan seleksi dilalui hingga Suhardin termasuk dalam kelompok peserta yang berangkat mengikuti seleksi tingkat pusat di Akademi Militer, Magelang. Dalam rombongan tersebut juga terdapat alumnus FTI UMI lainnya, M. Yusuf Aksa. Mereka berasal dari lingkungan fakultas yang sama, meskipun berbeda angkatan. Kemudian keduanya menempuh jalan pengabdian yang berbeda. Suhardin menuju TNI Angkatan Udara. Yusuf Aksa menuju TNI Angkatan Darat.
Bagi Suhardin, perjalanan menuju Magelang menjadi batas antara kehidupan lama dan jalan baru yang akan dijalaninya selama puluhan tahun berikutnya. Dari proses seleksi tersebut, ia dinyatakan lulus dan melanjutkan pendidikan militer.
Memasuki TNI Angkatan Udara
Riwayat Suhardin mencatat pendidikan SEPA PK TNI A-VII yang diselesaikannya pada 2000. Ia kemudian melanjutkan berbagai pendidikan militer, antara lain SESARCAB, SEPARA DASAR, SEKKAU, hingga SESAU. Tahun 2000 menjadi awal perjalanan pengabdiannya sebagai perwira.
Penugasan membawanya ke berbagai wilayah Indonesia, antara lain Makassar, Mataram, Malang, Surabaya, Pekanbaru, Pontianak, Morotai, Biak, Ambon, Manado, hingga Palu. Pangkatnya berkembang seiring perjalanan tersebut: Letnan Dua → Letnan Satu → Kapten → Mayor → Letnan Kolonel. Pangkat Letnan Kolonel disandangnya sejak 2019.
Jejak publik TNI AU juga mencatat Suhardin pernah menjalankan tanggung jawab sebagai Kadislog Lanud Pattimura di Ambon. Pada 2024–2025, ia tercatat sebagai Kasi BMP Lanud Sam Ratulangi di Manado. Perjalanan itu menunjukkan satu hal: karier militer dibangun melalui rangkaian penugasan, bukan satu lompatan.
Kini Komandan Detasemen TNI AU Mutiara Palu
Pada 2026, perjalanan tersebut membawanya pada amanah sebagai Komandan Detasemen TNI AU Mutiara Palu. Jabatan ini juga memperlihatkan sisi lain pengabdian TNI kepada masyarakat. Pada Juni 2026, Suhardin memimpin penyaluran bantuan kemanusiaan TNI AU kepada masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Peristiwa tersebut seperti mempertemukan dua bagian dari perjalanan hidupnya. Dulu ia pernah berada pada posisi membutuhkan bantuan dan harus mencari berbagai cara agar dapat bertahan sebagai mahasiswa. Kini, dalam kapasitasnya sebagai Komandan Detasemen TNI AU Mutiara Palu, ia berada pada posisi membantu masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
Pangkat Datang Belakangan, Daya Juang Dibentuk Lebih Awal
Kalau perjalanan Suhardin hanya dibaca dari riwayat militernya, orang akan melihat pangkat, pendidikan, jabatan, dan penugasan. Tetapi fondasi ceritanya dibangun jauh sebelum itu.
Sebelum menjadi Letnan Kolonel, ia adalah mahasiswa yang berjalan kaki. Sebelum memimpin personel, ia pernah melatih taekwondo. Sebelum menerima penghasilan sebagai prajurit, ia menggunakan keterampilan mengurut untuk membantu menopang kehidupan. Sebelum mengenakan seragam TNI AU, ia pernah membantu di laboratorium kampus sambil menunggu ke mana kehidupan akan membawanya.
Dari perjalanan tersebut lahir diksi #073: "Daya Juang Sebelum Pangkat." Pangkat datang setelah proses. Jabatan datang setelah pengalaman. Tetapi daya juang telah dibentuk ketika tidak ada satu pun atribut tersebut.
"Seragam menunjukkan pengabdian hari ini. Tetapi daya juang dibentuk jauh sebelum seragam itu dikenakan."
Jalan Kaki yang Membawanya Jauh
Suhardin telah menjalani pengabdian lebih dari dua dekade di TNI Angkatan Udara. Ia juga menerima Satya Lencana VIII, XVI, dan XXIV Tahun. Tetapi perjalanan hidup tidak selalu paling tepat diukur dari seberapa tinggi seseorang akhirnya berdiri. Kadang-kadang, kita perlu melihat dari mana ia mulai berjalan.
Dalam cerita Suhardin, titik awal itu sangat sederhana. Seorang mahasiswa dari Buton. Tinggal di kos. Kiriman orang tua terbatas. Berjalan kaki ke kampus. Mengurut. Berlatih taekwondo. Menjadi atlet. Melatih orang lain. Membantu di laboratorium. Kemudian membaca pengumuman penerimaan perwira TNI dari sebuah koran. Ia mencoba. Dan kesempatan itu mengubah arah hidupnya.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Letkol Kal Suhardin, S.T. merupakan alumnus Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia yang menyelesaikan pendidikan pada 1998, kemudian mengikuti pendidikan SEPA PK TNI dan membangun karier lebih dari dua dekade di TNI Angkatan Udara. Kini ia mengemban amanah sebagai Komandan Detasemen TNI AU Mutiara Palu.
Jarak antara dua titik itu sangat jauh. Bukan hanya secara geografis. Tetapi secara perjalanan hidup.
Dari mahasiswa yang berjalan kaki karena harus menghemat biaya, menjadi perwira yang memimpin satuan. Dari tangan yang dahulu digunakan untuk mengurut demi membantu biaya hidup, menuju tangan yang memikul tanggung jawab pengabdian. Dari atlet dan pelatih taekwondo menuju Letnan Kolonel TNI Angkatan Udara.
Keterbatasan tidak selalu menentukan seberapa jauh seseorang dapat pergi. Kadang-kadang, justru dari keterbatasan seseorang belajar untuk tidak berhenti berjalan. Itulah perjalanan Suhardin. Daya Juang Sebelum Pangkat. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































