Dari Kampus, Menjadi Dampak - Lettu Ckm (K) drg. Risda Prisdayani: Dari FKG UMI, Kini Menjadi Perwira Kesehatan TNI di Kesdam XIII/Merdeka
Lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia (FKG UMI) pada 2025, Lettu Ckm (K) drg. Risda Prisdayani melanjutkan perjalanan profesional sebagai dokter gigi sekaligus perwira kesehatan TNI. Kini ia bertugas sebagai Pama Kesdam XIII/Merdeka, membawa kompetensi kedokteran gigi ke lingkungan militer dan pelayanan kesehatan personel.
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada dua hal yang melekat pada perjalanan profesional Lettu Ckm (K) drg. Risda Prisdayani. Jas dokter dan seragam perwira. Keduanya terlihat berbeda, tetapi bertemu pada satu tanggung jawab yang sama: melayani.
Risda merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia yang menyelesaikan pendidikannya pada 2025. Tidak lama setelah meninggalkan lingkungan pendidikan FKG UMI, perjalanan profesionalnya memasuki ruang pengabdian baru. Ia menjadi dokter gigi sekaligus perwira pertama kesehatan TNI dan kini bertugas sebagai Pama Kesdam XIII/Merdeka. Dari ruang pendidikan kedokteran gigi menuju lingkungan militer, ilmu yang dipelajarinya menemukan medan pengabdian yang berbeda.
Dari FKG UMI menuju Kesdam XIII/Merdeka
FKG UMI menjadi salah satu titik penting perjalanan Risda. Di lingkungan pendidikan kedokteran gigi, ia mempelajari bagaimana kesehatan gigi dan mulut diperiksa, dirawat, dipulihkan, dan dipertahankan. Namun pendidikan dokter gigi bukan hanya mengenai gigi.
Ada pasien yang harus dipahami.
Ada diagnosis yang harus ditegakkan.
Ada keputusan klinis.
Ada ketelitian.
Ada prosedur.
Ada keselamatan.
Dan ada tanggung jawab profesional terhadap manusia yang menerima pelayanan.
Bekal tersebut kemudian dibawanya ke lingkungan yang memiliki karakter berbeda: TNI. Kini Risda bertugas sebagai Perwira Pertama Kesehatan di Kesdam XIII/Merdeka.
Ketika Dokter Gigi Mengenakan Seragam Perwira
Menjadi dokter gigi dan menjadi perwira memiliki tuntutan profesi masing-masing. Seorang dokter bekerja berdasarkan ilmu, kompetensi, ketelitian, dan tanggung jawab terhadap pasien. Seorang perwira hidup dalam disiplin, struktur, tanggung jawab, dan tugas organisasi. Pada Risda, dua dunia itu bertemu. Ia membawa kompetensi dokter gigi ke dalam sistem kesehatan militer. Karena di balik kesiapan sebuah organisasi, terdapat manusia yang harus dijaga kesehatannya. Personel yang menjalankan tugas juga membutuhkan pemeriksaan.
Perawatan.
Pencegahan.
Pemulihan.
Termasuk kesehatan gigi dan mulut.
Seragam menunjukkan tugasnya. Kompetensi kedokteran menentukan bagaimana ia menjalankan pengabdiannya.
Kesehatan sebagai Bagian dari Kesiapan Personel
Dalam lingkungan militer, kesehatan memiliki hubungan erat dengan kesiapan personel. Seseorang dapat memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik, tetapi kondisi kesehatan tetap menjadi salah satu unsur penting untuk menjalankan tugas secara optimal. Kesehatan gigi dan mulut menjadi bagian di dalamnya. Gangguan kesehatan gigi yang terlihat sederhana dapat menimbulkan rasa sakit, mengganggu makan, tidur, konsentrasi, hingga aktivitas seseorang. Karena itu, pelayanan dokter gigi bukan sekadar menangani persoalan setelah keluhan muncul.
Ada pemeriksaan.
Pencegahan.
Edukasi.
Perawatan.
Dan pemeliharaan kesehatan.
Dalam konteks inilah profesi Risda memiliki posisi yang menarik. Ia tidak hanya merawat gigi. Ia ikut menjaga manusia yang menjalankan tugas.
Dari Kompetensi Klinis menuju Pengabdian
Lulus sebagai dokter gigi bukanlah akhir pendidikan seorang tenaga kesehatan. Justru dari titik itulah pembelajaran profesional sesungguhnya terus berlangsung. Setiap pasien berbeda. Setiap kasus memberikan pengalaman. Setiap lingkungan kerja memiliki karakteristiknya sendiri.
Bagi Risda, proses itu berlangsung sekaligus dalam lingkungan TNI. Ia harus terus mengembangkan kompetensi kedokteran gigi, sambil beradaptasi dengan disiplin dan tanggung jawab sebagai seorang perwira.
Dua tuntutan itu berjalan bersama: kompeten sebagai dokter, disiplin sebagai perwira.
Generasi Muda Alumni UMI
Perjalanan Risda juga menghadirkan warna berbeda dalam seri Dari Kampus, Menjadi Dampak. Ia merupakan bagian dari generasi alumni yang relatif baru. Lulus pada 2025. Kariernya masih berada pada fase awal. Jejak pengabdiannya tentu belum sepanjang alumni yang telah bekerja puluhan tahun. Tetapi justru di situlah kisah ini memiliki arti tersendiri. Dampak tidak selalu harus menunggu seseorang berada di puncak karier. Dampak dapat dimulai sejak seseorang memperoleh kesempatan pertama untuk menggunakan ilmunya. Karier boleh baru dimulai. Tanggung jawab tidak harus menunggu lama.
Dari Pasien menuju Personel
Ada perubahan konteks ketika ilmu kedokteran gigi dibawa ke lingkungan militer. Di kampus dan lingkungan pendidikan klinis, Risda belajar melihat orang yang datang sebagai pasien. Di lingkungan TNI, pasien yang dihadapi dapat sekaligus merupakan personel yang memiliki tugas dan tanggung jawab kedinasan. Karena itu, pelayanan kesehatan memiliki dimensi tambahan. Ketika kesehatan personel terjaga, ada kesiapan manusia yang ikut dipertahankan. Di sinilah hubungan antara profesi kesehatan dan tugas organisasi menjadi lebih jelas. Merawat kesehatan personel berarti ikut menjaga kesiapan orang yang akan menjalankan tugas.
Ilmu yang Berpindah Medan Pengabdian
Perjalanan Risda dapat dibaca melalui rangkaian yang sederhana: FKG UMI → Dokter Gigi → Perwira Kesehatan TNI → Pama Kesdam XIII/Merdeka → Pelayanan Kesehatan Personel. Ilmunya tetap sama. Medan pengabdiannya yang berubah. Dari ruang kuliah. Ke pendidikan klinis. Kemudian ke lingkungan militer. Inilah yang dapat disebut: "Ilmu yang Berpindah Medan." Sebuah kompetensi profesional tidak kehilangan identitas ketika dibawa ke ruang pengabdian yang berbeda. Sebaliknya, ia memperoleh konteks baru.
Dokter dan Perwira, Satu Tanggung Jawab Pelayanan
Pada akhirnya, ada satu titik yang mempertemukan profesi dokter dan tugas seorang perwira: tanggung jawab. Dokter bertanggung jawab terhadap pelayanan kesehatan. Perwira bertanggung jawab terhadap tugas yang dipercayakan kepadanya.
Risda menjalani keduanya pada fase awal perjalanan profesionalnya. Karena itu, seragam bukan pengganti profesi kedokterannya. Profesi dokter gigi juga bukan sesuatu yang terpisah dari pengabdiannya sebagai perwira kesehatan. Keduanya berjalan bersama.
Satu menjaga kesehatan. Satu menjaga disiplin pengabdian. Keduanya bertemu dalam pelayanan.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Lettu Ckm (K) drg. Risda Prisdayani menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia pada 2025. Dari FKG UMI, ia memasuki perjalanan profesional sebagai dokter gigi. Kemudian mengambil jalan pengabdian sebagai perwira kesehatan TNI. Kini ia bertugas sebagai Pama Kesdam XIII/Merdeka. Perjalanannya memang masih panjang. Tetapi langkah pertamanya sudah memperlihatkan arah yang jelas. Ilmu kedokteran gigi yang diperoleh di kampus kini digunakan dalam lingkungan pengabdian yang menuntut kompetensi, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Dari FKG UMI. Menjadi dokter gigi. Mengenakan seragam perwira. Dan membawa kompetensinya untuk mendukung kesehatan personel.
Karier boleh baru dimulai. Pengabdian sudah berjalan. Dari ruang klinis menuju medan pengabdian. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































