Dari Kampus, Menjadi Dampak - Lettu drg. Adethyan Wira Gama: Dari FKG UMI, Kini Menjadi Dokter Gigi Satuan 71 Kopassus
Berangkat dari Program Studi Profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia (FKG UMI), drg. Adethyan Wira Gama membawa kompetensi kedokteran gigi, pengalaman organisasi, kepemimpinan, dan pengabdian masyarakat ke lingkungan TNI Angkatan Darat. Kini, dengan pangkat Letnan Satu, ia menjalankan profesinya sebagai dokter gigi di Satuan 71 Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
MAKASSAR, umi.ac.id — Ada dua identitas profesional yang hari ini berjalan bersama dalam diri Adethyan Wira Gama. Ia seorang dokter gigi. Sekaligus seorang prajurit TNI Angkatan Darat. Yang satu menuntut kemampuan merawat. Yang lain menuntut disiplin dan kesiapan menjalankan tugas. Dua dunia tersebut bertemu dalam perjalanan alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia ini. Adethyan menyelesaikan pendidikan Profesi Dokter Gigi FKG UMI pada 2023. Setelah meninggalkan kampus, perjalanan profesional membawanya memasuki lingkungan TNI Angkatan Darat. Kini ia berpangkat Letnan Satu (Lettu) dan menjalankan profesinya sebagai dokter gigi di Satuan 71 Kopassus.
Berawal dari FKG UMI
Perjalanan Adethyan sebagai dokter gigi dibangun melalui proses panjang pendidikan akademik dan profesi. Di FKG UMI, ia tidak hanya berhadapan dengan teori. Ada praktikum. Ada keterampilan klinis. Ada pasien. Ada tahap pendidikan profesi. Dan ada tanggung jawab etik yang menyertai profesi dokter gigi. Tetapi pendidikan kampus juga memberinya ruang lain. Organisasi. Kegiatan sosial. Kepemimpinan. Dan pengabdian kepada masyarakat. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pembentukannya sebelum memasuki dunia profesional.
Belajar Melayani sebelum Menjadi Dokter Gigi
Selama menjadi mahasiswa, Adethyan aktif mengikuti kegiatan bakti sosial dan pengabdian masyarakat. Kegiatan seperti ini memiliki posisi penting dalam pendidikan tenaga kesehatan. Sebab mahasiswa tidak hanya belajar tentang penyakit. Mereka bertemu manusia. Melihat kondisi masyarakat. Mendengar keluhan. Dan memahami bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan tidak selalu sama bagi setiap orang.
Dari pengalaman tersebut tumbuh satu pemahaman sederhana: kompetensi kesehatan memperoleh maknanya ketika hadir untuk manusia yang membutuhkan.
Organisasi sebagai Ruang Belajar Kedua
Di luar pendidikan akademik dan klinis, organisasi menjadi bagian penting dalam perjalanan Adethyan. Jejak aktivitasnya telah terlihat sejak masa mahasiswa. Pada 2019, misalnya, Adethyan tercatat menjadi Ketua Pelaksana Dentistry Independence Day FKG UMI, kegiatan yang melibatkan mahasiswa dan sivitas akademika FKG UMI. Aktivitas organisasinya juga berkembang ke jejaring mahasiswa kedokteran gigi tingkat nasional. Pada 2022, namanya tercatat sebagai delegasi UMI dalam aktivitas Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI).
Organisasi memberinya ruang belajar yang berbeda dari klinik. Berbicara di depan orang lain. Mengelola kegiatan. Membangun komunikasi. Menyelesaikan perbedaan. Membangun relasi. Dan bekerja dalam tim. Kemampuan tersebut kemudian menemukan konteks baru ketika ia memasuki lingkungan kerja yang menempatkan disiplin dan koordinasi sebagai bagian penting dalam menjalankan tugas.
Dari Coass menuju Dokter Gigi
Tahap pendidikan profesi menjadi fase penting berikutnya. Adethyan menjalani proses klinis sebagai calon dokter gigi hingga menghadapi UKMP2DG/Ukomnas. Dalam proses tersebut, ia belajar tidak hanya dari dosen. Ia juga membangun komunikasi dengan senior dan teman dari berbagai kampus untuk memperoleh pengalaman serta referensi belajar. Proses tersebut memperlihatkan satu hal penting dalam pendidikan profesi: kompetensi tidak tumbuh hanya dari belajar sendiri. Kompetensi juga tumbuh dari keberanian belajar kepada orang lain. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan Profesi Dokter Gigi FKG UMI pada 2023. Tetapi kelulusan ternyata bukan akhir perjalanan. Justru sebuah ruang pengabdian baru terbuka.
Ketika Dokter Gigi Menjadi Prajurit
Setelah menyelesaikan pendidikan profesi, Adethyan memasuki lingkungan TNI Angkatan Darat. Perubahan ini membawa tuntutan yang berbeda. Seorang dokter gigi memiliki tanggung jawab profesional terhadap kesehatan pasien. Seorang prajurit memiliki disiplin, hierarki, kesiapan, dan tanggung jawab kedinasan.
Dalam diri Adethyan, kedua peran itu bertemu. Jejak akademik publik bahkan masih menunjukkan hubungan profesinya dengan dunia keilmuan. Basis data GARUDA Kemdiktisaintek pada 2026 mencatat Adethyan Wira Gama sebagai dokter gigi pada Unit 71 Komando Pasukan Khusus sekaligus berafiliasi dengan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia dalam sebuah publikasi ilmiah. Artinya, perjalanan setelah kampus tidak sepenuhnya memutus hubungan dengan dunia akademik. Profesi berjalan. Tugas kedinasan berjalan. Dan aktivitas keilmuan masih dapat terus berkembang.
Dokter Gigi Berseragam Loreng
Ada gambaran yang menarik dari perjalanan tersebut. Di kampus, Adethyan mengenakan jas klinik. Dalam profesinya sekarang, ia juga mengenakan seragam prajurit. Namun tujuan profesi kesehatan tetap sama: melayani manusia. Ruang pelayanannya yang berubah. Ada pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Ada kebutuhan kesehatan personel. Ada kegiatan sosial. Dan dalam konteks penugasan tertentu, tenaga kesehatan militer juga berada dalam sistem yang dituntut siap menghadapi situasi yang berbeda dari praktik kesehatan sehari-hari. Karena itu, kompetensi klinis harus berjalan bersama kesiapan fisik, disiplin, koordinasi, dan kepemimpinan.
Ketika Ilmu Kesehatan Bertemu Disiplin Militer
Kedokteran gigi membutuhkan presisi. Tindakan harus dilakukan dengan benar. Sterilitas harus dijaga. Diagnosis harus tepat. Keselamatan pasien menjadi perhatian. Lingkungan militer juga memiliki tuntutan terhadap disiplin. Waktu. Prosedur. Koordinasi. Tanggung jawab. Dan kesiapan.
Di sinilah dua dunia tersebut menemukan satu titik pertemuan: keduanya tidak memberi banyak ruang untuk bekerja sembarangan.
Dalam kesehatan, kesalahan dapat berdampak kepada pasien. Dalam organisasi militer, kelalaian dapat berdampak pada tugas dan anggota lainnya. Karena itu, disiplin bukan hanya persoalan menaati aturan. Disiplin adalah cara menjaga kepercayaan ketika pekerjaan kita menyangkut orang lain.
Dari Pelayanan menuju Kesiapsiagaan
Perjalanan Adethyan juga memperlihatkan bahwa profesi kesehatan dapat hadir dalam banyak situasi. Tidak hanya di ruang praktik. Tidak hanya ketika pasien datang untuk mendapatkan perawatan. Tenaga kesehatan juga dibutuhkan dalam kegiatan sosial dan kondisi kedaruratan.
Adethyan menyebut keterlibatannya dalam berbagai kegiatan bakti sosial serta bantuan dalam situasi bencana sebagai bagian dari pengalaman pengabdiannya. Dalam situasi seperti itu, kemampuan seorang tenaga kesehatan bertemu dengan kebutuhan untuk bergerak cepat. Membantu. Berkoordinasi. Dan hadir di tempat masyarakat membutuhkan. Di sinilah pelayanan berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas: kesiapsiagaan.
Dari Dokter Gigi menuju Dokter Gigi Militer
Perjalanan profesional Adethyan dapat dibaca melalui transformasi sederhana: Mahasiswa Kedokteran Gigi → Dokter Gigi → Perwira TNI AD → Dokter Gigi Satuan 71 Kopassus. Setiap tahap menambah lapisan tanggung jawab. Pendidikan membangun kompetensi. Profesi membangun tanggung jawab terhadap pasien. Organisasi membangun kemampuan bekerja bersama orang lain. Sedangkan lingkungan militer menambahkan disiplin dan tanggung jawab kedinasan. Inilah yang dapat disebut sebagai: Kompetensi dalam Kesiapsiagaan.
Sebab dalam lingkungan tempat kesiapan menjadi bagian dari tugas, ilmu tidak cukup hanya dimiliki. Ilmu harus siap digunakan ketika dibutuhkan.
Ilmu yang Tetap Bergerak
Ada satu hal menarik lainnya. Perjalanan ke lingkungan militer tidak membuat aktivitas keilmuan harus berhenti. Pada 2026, nama Adethyan muncul sebagai penulis dalam publikasi ilmiah mengenai reaksi alergi terhadap monomer residual pada basis gigi tiruan akrilik. Basis data GARUDA mencatat afiliasinya dengan Unit 71 Komando Pasukan Khusus dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia. (Garuda Kemdikdtisaintek)
Ini memberi pesan penting bagi alumni muda. Dunia kerja dan dunia akademik tidak selalu harus berjalan terpisah. Seorang profesional tetap dapat membaca. Meneliti. Menulis. Dan memperbarui pengetahuan. Lulus dari kampus berarti meninggalkan status mahasiswa, bukan meninggalkan kebiasaan belajar.
UMI dalam Perjalanan Adethyan Wira Gama
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia menjadi fondasi pendidikan profesi Adethyan. Di kampus, ia memperoleh pengetahuan dan keterampilan kedokteran gigi. Dalam organisasi, ia belajar memimpin. Dalam bakti sosial, ia belajar hadir di tengah masyarakat. Dalam pendidikan profesi, ia belajar bertanggung jawab terhadap pasien. Setelah lulus, seluruh pengalaman tersebut dibawa ke lingkungan yang berbeda. TNI Angkatan Darat. Hari ini, ia tidak hanya membawa identitas sebagai alumnus UMI. Ia membawa kompetensi dokter gigi ke ruang pengabdian yang menuntut disiplin dan kesiapan tinggi.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Adethyan Wira Gama berangkat dari FKG UMI. Dari kampus, ia memperoleh ilmu kedokteran gigi. Dari organisasi, ia belajar memimpin. Dari pengabdian masyarakat, ia belajar melayani. Dari pendidikan profesi, ia belajar bertanggung jawab terhadap pasien. Dan dari lingkungan TNI Angkatan Darat, seluruh pengalaman tersebut bertemu dengan disiplin dan kesiapsiagaan. Hari ini, Lettu drg. Adethyan Wira Gama menjalankan profesinya sebagai dokter gigi di Satuan 71 Kopassus. Perjalanannya menunjukkan bahwa profesi kesehatan dapat menemukan ruang pengabdian di mana saja. Di klinik. Di tengah masyarakat. Dalam kegiatan kemanusiaan. Hingga di lingkungan pertahanan negara. Sebab pada akhirnya, seragam dapat berbeda. Tempat tugas dapat berubah. Tetapi satu hal tetap sama: ilmu kesehatan memperoleh makna ketika digunakan untuk melayani. Dari jas klinik menuju seragam prajurit. Dari kompetensi menuju kesiapsiagaan. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































