Dari Kampus, Menjadi Dampak - M. Yusuf Aksa: Dari Teknik Industri, Aktivis Reformasi 98, Pernah Menjadi Dandim di Maluku, Kini Waaslog Kasdam XV/Pattimura
Dari mahasiswa Teknik Industri Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang mengalami langsung dinamika Reformasi 1998, Ir. M. Yusuf Aksa, S.T., M.M. kemudian memilih jalan pengabdian sebagai prajurit TNI Angkatan Darat. Perjalanannya membawanya dari berbagai penugasan operasi, zeni, intelijen, audit dan pengawasan hingga menjadi Komandan Kodim 1502/Masohi di Maluku. Kini, perjalanan itu berlanjut sebagai Waaslog Kasdam XV/Pattimura.
MAKASSAR, umi.ac.id — Tahun 1998 menjadi salah satu periode yang sulit dilupakan dalam sejarah Indonesia. Krisis ekonomi. Gelombang demonstrasi mahasiswa. Tuntutan reformasi. Perubahan politik nasional. Dan mahasiswa berada di tengah pusaran perubahan tersebut. Di Makassar, salah seorang mahasiswa yang mengalami zaman itu adalah M. Yusuf Aksa, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muslim Indonesia. Ia bukan hanya menyaksikan Reformasi 1998 dari kejauhan.
Yusuf merupakan bagian dari generasi mahasiswa yang aktif dalam dinamika gerakan Reformasi 1998. Beberapa tahun kemudian, jalan hidupnya mengambil arah yang mungkin tidak banyak diperkirakan teman-temannya ketika masih bersama di kampus. Aktivis mahasiswa itu memilih menjadi tentara. Lebih dari dua dekade kemudian, perjalanan tersebut membawanya menjadi Komandan Kodim 1502/Masohi di Maluku. Kini, ia mengemban tugas sebagai Waaslog Kasdam XV/Pattimura.
Anak Teknik Industri di Tengah Reformasi 1998
M. Yusuf Aksa menyelesaikan pendidikan S-1 Teknik Industri Universitas Muslim Indonesia pada 1999. Artinya, sebagian perjalanan mahasiswanya berlangsung tepat ketika Indonesia menghadapi salah satu periode perubahan sosial dan politik terbesar dalam sejarah modernnya. Kampus pada masa itu bukan hanya tempat kuliah. Kampus juga menjadi ruang diskusi. Ruang perdebatan. Ruang kegelisahan. Dan ruang mahasiswa mempertanyakan masa depan bangsanya.
Yusuf berada dalam generasi tersebut. Sebagai mahasiswa Teknik Industri UMI, ia aktif dalam dinamika gerakan mahasiswa pada masa Reformasi 1998. Pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Tetapi menariknya, setelah meninggalkan kampus, ia tidak memilih jalan politik praktis. Ia memilih institusi yang sangat berbeda. TNI Angkatan Darat.
Dari Aktivis Reformasi Menjadi Prajurit
Ada kontras yang menarik dalam perjalanan Yusuf. Ketika mahasiswa, ia berada dalam lingkungan gerakan mahasiswa. Setelah menjadi sarjana, ia memasuki kehidupan militer. Dua lingkungan yang memiliki karakter berbeda. Dunia mahasiswa memberikan ruang luas untuk bertanya, berdiskusi, berdebat, dan mengkritik.
Dunia militer menuntut disiplin, hierarki, kepatuhan terhadap aturan, kesiapan, dan tanggung jawab terhadap perintah. Namun keduanya bertemu pada satu titik: kepedulian terhadap kehidupan bangsa dan negara. Pada 2000, Yusuf memasuki pendidikan SEPA PK dan memulai perjalanan sebagai perwira TNI Angkatan Darat. Dari sinilah babak baru kehidupannya dimulai. Dulu bergerak bersama mahasiswa. Kemudian mengabdi sebagai prajurit.
Teknik Industri yang Ikut Berjalan ke Dunia Militer
Pilihan menjadi tentara tidak serta-merta membuat pendidikan Teknik Industri kehilangan relevansi. Teknik Industri pada dasarnya mengajarkan bagaimana melihat sebuah sistem. Ada manusia. Material. Peralatan. Waktu. Prosedur. Informasi. Biaya. Dan tujuan yang harus dicapai. Semua unsur harus dikelola agar sebuah sistem dapat bekerja.
Cara berpikir seperti itu kemudian memiliki relevansi ketika seseorang berada dalam organisasi besar seperti TNI. Terutama ketika perjalanan kariernya bersentuhan dengan perencanaan, pengawasan, audit, manajemen sumber daya, operasi, dan logistik. Karena itu, perjalanan Yusuf dapat dibaca bukan sebagai meninggalkan Teknik Industri. Tetapi membawa cara berpikir sistem ke ruang pengabdian yang berbeda.
Dari Zeni, Intelijen hingga Operasi
Perjalanan militernya tidak berlangsung dalam satu jenis pekerjaan. Yusuf menjalani sejumlah pendidikan militer, antara lain Combat Intelligence, Sussarcab Zeni, Susdanki Zeni, Selapa Zeni, Sus Auditor Ahli, Susjemenrenggar, hingga pendidikan Seskoad. Kariernya dimulai sebagai perwira di lingkungan Direktorat Zeni Angkatan Darat. Dari sana tanggung jawab berkembang. Komandan peleton. Kepala seksi intelijen dan operasi. Wakil komandan detasemen. Danramil. Ia juga pernah menjalani penugasan Operasi NAD pada 2004. Pangkatnya berkembang seiring perjalanan tugas. Dari Letnan Dua pada 2000. Letnan Satu pada 2002. Kapten pada 2005. Mayor pada 2011. Hingga Letnan Kolonel pada 2019.
Tetapi perjalanan militer tidak hanya berbicara tentang pangkat. Setiap kenaikan pangkat membawa konsekuensi yang sama: semakin banyak orang, sumber daya, dan tanggung jawab yang harus dikelola.
Dari Lapangan menuju Pengawasan
Ada fase lain yang membuat perjalanan Yusuf berbeda. Ia tidak hanya tumbuh dalam penugasan lapangan. Ia juga memperoleh pengalaman dalam pengawasan, audit, perencanaan, dan administrasi. Yusuf pernah menjalankan tugas sebagai Kasmin Pangdam XII/Tanjungpura, Kasimin Itjenad, Irdyawasrik Intel/Ter Ditziad, Auditor Muda Itjen Kemhan, hingga Kasubbag TU Itjen Kemhan. Di sinilah latar belakang Teknik Industri kembali menemukan konteks. Sebab organisasi tidak cukup hanya bergerak. Organisasi juga harus memastikan bahwa sumber dayanya digunakan secara benar. Program harus direncanakan. Anggaran harus dikelola. Pelaksanaan harus diawasi. Dan hasil harus dievaluasi.
Memimpin bukan hanya memastikan pekerjaan dilakukan. Memimpin juga memastikan sumber daya digunakan untuk pekerjaan yang benar.
Kembali ke Pendidikan: Seskoad
Di tengah perjalanan karier, Yusuf terus mengikuti pendidikan. Setelah Teknik Industri UMI, ia memperdalam Manajemen Sumber Daya Manusia melalui pendidikan magister. Ia juga menempuh pendidikan Strategi Pertahanan Darat. Berbagai pendidikan teknis dan militer kemudian memperluas perspektifnya. Pada 2021, Yusuf mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Setelah itu, ia menjalani penugasan sebagai Pamen Denma Mabesad dan Irdyа Ops Itdam III/Siliwangi. Perjalanan berikutnya membawanya kembali ke wilayah. Kali ini dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Menjadi Dandim di Maluku
Pada 2022, M. Yusuf Aksa dipercaya menjadi Komandan Kodim 1502/Masohi. Tanggung jawab tersebut membawanya ke Maluku Tengah dan wilayah sekitarnya. Di sinilah kepemimpinan militer tidak hanya berhubungan dengan internal satuan. Seorang Dandim juga bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Pemerintah daerah. Polri. Tokoh masyarakat. Tokoh agama. Pemuda. Sekolah. Petani. Dan berbagai persoalan sosial di wilayah.
Pada Agustus 2023, misalnya, Yusuf sebagai Dandim 1502/Masohi mengajak masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan menjaga stabilitas serta perdamaian menjelang Pemilu 2024, sekaligus menekankan netralitas prajurit. (RRI) Pada Agustus 2024, ia kembali memimpin apel gelar pasukan pengamanan Pilkada di Maluku Tengah dan menekankan koordinasi serta tanggung jawab dalam menjaga keamanan. Di sini, pengalaman seorang aktivis mahasiswa yang pernah hidup dalam masa perubahan sosial bertemu dengan tanggung jawab yang sangat berbeda: menjaga agar kehidupan masyarakat tetap aman ketika perbedaan politik berlangsung.
Ketika Seragam Hadir agar Anak-Anak Tetap Sekolah
Ada sisi lain dari perjalanan Yusuf sebagai Dandim yang tidak hanya berbicara tentang operasi dan keamanan. Pada Maret 2025, setelah bangunan sekolah di Negeri Roho, Maluku Tengah, ambruk akibat cuaca ekstrem, personel TNI dan Polri bersama masyarakat membantu mendirikan kembali fasilitas sekolah agar kegiatan belajar dapat berjalan. Yusuf saat itu memimpin Kodim 1502/Masohi. Tidak lama kemudian, konflik warga di wilayah Maluku Tengah kembali menghadirkan persoalan bagi anak-anak. Pada April 2025, setelah terjadi konflik yang berdampak terhadap aktivitas pendidikan di Negeri Masihulan, Yusuf mengerahkan prajurit untuk membersihkan puing-puing dan menyiapkan ruang kelas agar anak-anak dapat kembali belajar.
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan ini. Dulu Yusuf adalah mahasiswa. Puluhan tahun kemudian, sebagai Dandim, salah satu tanggung jawab yang dihadapinya justru memastikan anak-anak di wilayah tugasnya dapat kembali ke sekolah. Dulu berada di kampus ketika bangsa sedang berubah. Kemudian berada di lapangan ketika masyarakat membutuhkan keadaan kembali pulih.
Memimpin di Wilayah yang Tidak Selalu Mudah
Maluku memiliki karakter sosial dan geografis yang khas. Dalam tugas kewilayahan, seorang Dandim tidak cukup hanya memahami struktur komando. Ia harus mampu berkomunikasi. Membangun koordinasi. Membaca kondisi sosial. Dan bekerja bersama berbagai unsur masyarakat. Pada 2025, ketika masyarakat Negeri Masihulan mulai kembali setelah konflik, Kodim 1502/Masohi di bawah komando Yusuf bersama Polri dan masyarakat melakukan karya bakti membersihkan puing-puing bekas kebakaran. Dalam konteks lain, Yusuf juga terlibat dalam program ketahanan pangan di Maluku Tengah. Pada Januari 2025 ia menjelaskan pengembangan lahan pangan yang melibatkan kelompok tani serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan penyuluh pertanian. Ruang tugas seorang komandan teritorial akhirnya menjadi sangat luas. Keamanan. Konflik sosial. Pendidikan. Ketahanan pangan. Koordinasi pemerintahan. Hingga kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dari Dandim menuju Waaslog Kasdam XV/Pattimura
Setelah menjalani perjalanan sebagai Dandim 1502/Masohi, Yusuf memasuki fase berikutnya. Pada 22 Mei 2025, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Waaslog Kasdam XV/Pattimura. Perubahan tersebut menarik bila dibaca dari latar belakang akademiknya. Dulu ia mahasiswa Teknik Industri. Kini salah satu ruang tanggung jawabnya berada pada fungsi logistik organisasi militer. Logistik bukan hanya soal barang. Di dalamnya terdapat sistem. Perencanaan kebutuhan. Distribusi. Ketersediaan. Pemeliharaan. Efisiensi. Koordinasi. Dan kesiapan sumber daya untuk mendukung organisasi menjalankan tugas. Karena itu, setelah perjalanan panjang melalui operasi, zeni, intelijen, pengawasan, audit, dan komando kewilayahan, Yusuf kembali berada pada sebuah wilayah kerja yang sangat dekat dengan satu konsep dasar Teknik Industri: bagaimana mengelola sumber daya sebagai sebuah sistem.
Dari Teknik Industri menuju Logistik Pertahanan
Inilah benang merah yang membuat perjalanan Yusuf menarik. Jika hanya dilihat dari nama pekerjaan, Teknik Industri dan militer mungkin tampak berbeda. Tetapi jika dilihat dari cara kerja, ada banyak titik pertemuan. Teknik Industri mengajarkan optimasi sumber daya. Organisasi militer membutuhkan kesiapan sumber daya. Teknik Industri mempelajari sistem. Militer bekerja melalui sistem. Teknik Industri berbicara tentang manusia, material, proses, waktu, dan efisiensi. Logistik pertahanan juga berhadapan dengan manusia, material, proses, waktu, dan kesiapan. Di kampus ia belajar bagaimana sistem bekerja. Dalam pengabdian militer, ia belajar bagaimana sistem harus tetap siap bekerja. Inilah yang dapat disebut: "Rekayasa Kesiapan." Bukan hanya menyiapkan barang. Tetapi memastikan sumber daya tersedia pada waktu, tempat, dan kebutuhan yang tepat agar organisasi dapat menjalankan tugasnya.
UMI dalam Perjalanan M. Yusuf Aksa
Universitas Muslim Indonesia menjadi salah satu titik awal perjalanan tersebut. Di Teknik Industri UMI, Yusuf memperoleh fondasi pendidikan teknik. Di kampus pula ia mengalami dinamika mahasiswa pada masa Reformasi 1998. Kemudian kehidupan membawanya ke dunia militer. Menjadi perwira. Menjalani operasi. Belajar intelijen. Menekuni zeni. Masuk ke bidang audit dan pengawasan. Mengikuti Seskoad. Memimpin Kodim. Berhadapan langsung dengan masyarakat. Dan akhirnya masuk ke fungsi logistik Kodam. Perjalanannya menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu menentukan satu nama profesi. Pendidikan dapat membentuk cara berpikir yang kemudian digunakan dalam berbagai ruang pengabdian.
Dari Aktivis Reformasi menjadi Komandan
Ada satu transformasi yang paling menarik dalam perjalanan Yusuf: Mahasiswa Teknik Industri → Aktivis Reformasi 1998 → Perwira TNI AD → Penugasan Operasi → Auditor dan Pengawas → Dandim 1502/Masohi → Waaslog Kasdam XV/Pattimura. Dulu, sebagai mahasiswa, ia berada di tengah generasi yang menyuarakan perubahan. Kemudian ia memilih pengabdian melalui institusi pertahanan. Dua fase kehidupan itu tidak perlu dipertentangkan. Justru keduanya memperlihatkan perubahan tanggung jawab. Ketika muda, seseorang mungkin bertanya: "Apa yang harus berubah?" Ketika tanggung jawab semakin besar, pertanyaannya berkembang: "Apa yang harus saya jaga, kelola, dan pertanggungjawabkan?" Itulah perjalanan kedewasaan sebuah pengabdian.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
M. Yusuf Aksa memulai perjalanan dari Teknik Industri Universitas Muslim Indonesia. Ia menjadi bagian dari generasi mahasiswa Reformasi 1998. Setelah menjadi sarjana, ia memilih jalan pengabdian sebagai perwira TNI Angkatan Darat. Dari Zeni. Operasi. Intelijen. Perencanaan. Audit. Pengawasan. Seskoad. Hingga akhirnya memimpin Kodim 1502/Masohi. Di Maluku, tanggung jawab itu membawanya berhadapan langsung dengan masyarakat. Menjaga stabilitas. Membangun koordinasi. Mendukung ketahanan pangan. Membantu masyarakat setelah konflik. Bahkan memastikan ruang belajar dapat kembali digunakan agar anak-anak tetap sekolah.
Kini perjalanan tersebut berlanjut sebagai Waaslog Kasdam XV/Pattimura. Dari Teknik Industri menuju militer. Dari aktivis Reformasi menuju perwira. Dari tugas operasi menuju kepemimpinan wilayah. Dari Dandim menuju pengelolaan logistik pertahanan. Tetapi benang merahnya tetap sama: tanggung jawab. Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang seberapa tinggi posisi seseorang dalam organisasi. Kepemimpinan adalah tentang seberapa besar tanggung jawab yang siap ia pikul ketika orang lain membutuhkan organisasi itu bekerja.
Dari sistem menuju kesiapan. Dari suara perubahan menuju tanggung jawab pengabdian. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































