Dari Kampus, Menjadi Dampak - Ns. Ida Febrianti, S.Kep.: Alumni Keperawatan dan Lulusan Terbaik II Profesi Ners UMI, Kini Berkarier sebagai Care Worker Profesional di St. Joseph Hospital, Jepang
MAKASSAR, umi.ac.id — Dari ruang pendidikan keperawatan Universitas Muslim Indonesia (UMI), perjalanan Ns. Ida Febrianti, S.Kep. kini membawanya ke Jepang. Alumni Program Studi Keperawatan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UMI itu dipercaya menjalankan profesinya sebagai care worker (asisten perawat) di St. Joseph Hospital, Jepang.
Perjalanan Ida menarik bukan hanya karena ia bekerja di luar negeri. Di baliknya terdapat proses pendidikan, profesi, prestasi akademik, adaptasi bahasa dan budaya, serta kesiapan bekerja dalam lingkungan pelayanan kesehatan yang berbeda. Ida merupakan alumni Keperawatan UMI yang menyelesaikan pendidikan pada 2019.
Semasa menempuh pendidikan profesi, ia menunjukkan capaian akademik dengan meraih predikat Lulusan Terbaik II Profesi Ners UMI. Pada 2017, ia juga meraih juara 1 lomba penanganan pasien trauma. Bersama rekannya, Angkatan 2014, Safar, ia meraih tim terbaik 1 pada ajang yang diselenggarakan di Banjarmasin oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional kerja sama dengan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia.
Kini, kompetensi yang dahulu dibangun di kampus digunakan dalam pelayanan langsung kepada pasien di Jepang. Dari belajar merawat pasien di UMI, kini ia membawa kompetensi keperawatan Indonesia ke ruang pelayanan kesehatan internasional.
Dari Keperawatan UMI
Ida mengawali perjalanan akademiknya di Program Studi Keperawatan Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI. Pendidikan keperawatan tidak hanya menuntut penguasaan teori. Seorang calon perawat juga harus membangun keterampilan klinis, komunikasi, kedisiplinan, ketelitian, kemampuan bekerja dalam tim, serta kepedulian terhadap pasien. Setelah menyelesaikan tahap akademik, Ida melanjutkan pendidikan Profesi Ners sebagai bagian penting dari pembentukan kompetensi profesional seorang perawat. Pada fase inilah kemampuan akademik harus bertemu dengan praktik pelayanan kesehatan.
Komitmen Ida dalam pendidikan membawanya meraih predikat Lulusan Terbaik II Profesi Ners UMI. Capaian tersebut menjadi salah satu fondasi perjalanan profesionalnya setelah meninggalkan kampus.
Dari Profesi Ners Menuju Jepang
Perjalanan Ida kemudian bergerak lebih jauh. Ia memperoleh kesempatan mengembangkan karier sebagai tenaga keperawatan di Jepang. Bekerja di negara lain tentu bukan sekadar berpindah tempat kerja. Seorang tenaga kesehatan harus mampu menyesuaikan diri dengan bahasa, budaya, lingkungan profesional, sistem pelayanan, pola komunikasi, dan karakter pasien yang berbeda. Terlebih bagi profesi perawat.
Perawat bekerja sangat dekat dengan pasien. Karena itu, kemampuan teknis harus berjalan bersama kemampuan berkomunikasi, empati, ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Ida menjalani proses tersebut hingga dipercaya bekerja di St. Joseph Hospital, Jepang. Di sana, ia menjalankan profesinya sebagai asisten perawat atau kangoh joshu, membawa bekal pendidikan dan kompetensi yang sebelumnya dibangun melalui pendidikan Keperawatan dan Profesi Ners UMI.
Ketika Kompetensi Bertemu Kemampuan Beradaptasi
Perjalanan Ida memberikan satu pelajaran penting bagi mahasiswa. Kompetensi profesional saja tidak selalu cukup ketika seseorang memasuki lingkungan kerja internasional. Ada kemampuan lain yang harus tumbuh: adaptabilitas. Cara berkomunikasi dapat berbeda. Budaya kerja dapat berbeda. Bahasa berbeda. Kebiasaan masyarakat berbeda. Bahkan cara pasien dan keluarga berinteraksi dengan tenaga kesehatan dapat memiliki karakter tersendiri.
Karena itu, bekerja di luar negeri membutuhkan kesiapan untuk kembali belajar. Inilah yang membuat perjalanan Ida memiliki nilai lebih dari sekadar "alumni UMI bekerja di Jepang". Ia menunjukkan bagaimana kompetensi yang dibangun di kampus dapat dibawa memasuki lingkungan baru, kemudian dikembangkan kembali sesuai tuntutan tempat seseorang bekerja.
Kompetensi membuka kesempatan. Kemampuan beradaptasi membuat seseorang mampu bertahan dan berkembang di dalamnya.
Keperawatan adalah Profesi Kemanusiaan
Di balik seluruh keterampilan klinis, profesi perawat pada akhirnya adalah profesi yang sangat dekat dengan manusia. Perawat hadir ketika seseorang sedang sakit. Mendampingi ketika pasien membutuhkan bantuan. Memantau perubahan kondisi. Berkomunikasi dengan pasien dan keluarga. Bekerja bersama dokter dan tenaga kesehatan lainnya.
Karena itu, kualitas seorang perawat tidak hanya terlihat dari kemampuan menjalankan tindakan keperawatan. Ada empati, kesabaran, komunikasi, disiplin, dan tanggung jawab yang ikut menentukan kualitas pelayanan.
Nilai inilah yang membuat perjalanan Ida relevan dengan pendidikan di UMI sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah. Ilmu memberikan kemampuan untuk merawat. Karakter menentukan bagaimana kemampuan tersebut digunakan untuk memperlakukan manusia. "Keperawatan bukan hanya tentang apa yang dilakukan kepada pasien, tetapi bagaimana ilmu, keterampilan, dan empati hadir bersama ketika seseorang membutuhkan pertolongan."
Dari Makassar Menuju Pelayanan Kesehatan di Jepang
Jika dirangkum, perjalanan Ida membentuk lintasan yang jelas: Keperawatan FKM UMI → Profesi Ners UMI → Lulusan Terbaik II → Penguatan Kompetensi Keperawatan → Adaptasi Bahasa dan Budaya → Asisten Perawat Profesional di St. Joseph Hospital Jepang.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ruang pengabdian seorang lulusan dapat berkembang jauh melampaui tempat ia menyelesaikan pendidikan. Kampus menjadi tempat membangun fondasi. Tetapi setelah meninggalkan kampus, alumni harus terus belajar agar kompetensinya dapat bekerja dalam lingkungan yang terus berubah.
Bagi mahasiswa Keperawatan UMI hari ini, perjalanan Ida juga membuka perspektif bahwa profesi keperawatan memiliki ruang pengabdian yang luas. Seorang Ners dapat bekerja di daerah asalnya, berbagai wilayah Indonesia, maupun mengembangkan karier di luar negeri. Namun peluang tersebut selalu datang bersama tuntutan: kompetensi yang kuat, kemampuan bahasa, disiplin, kesiapan beradaptasi, serta profesionalisme.
Dari Kampus, Menjadi Dampak
Kisah Ns. Ida Febrianti, S.Kep. menunjukkan bahwa keberhasilan alumni bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang pergi. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dibawa ketika sampai di sana. Ida membawa ilmu keperawatan. Ia membawa kompetensi Profesi Ners. Ia membawa pengalaman pendidikan. Dan ia membawa nilai pelayanan yang dahulu dibangun selama menempuh pendidikan di UMI.
Predikat Lulusan Terbaik II Profesi Ners menjadi bagian dari rekam akademiknya. Namun perjalanan setelah kelulusan menjadi ujian berikutnya: bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam kehidupan profesional yang nyata.
Kini, ruang pengabdiannya berada di Jepang. Setiap pasien yang dilayani menjadi ruang tempat ilmu menemukan manfaatnya. Setiap tantangan bahasa dan budaya menjadi ruang untuk terus belajar. Dan setiap tanggung jawab profesional menjadi pembuktian bahwa pendidikan tidak berhenti pada ijazah. Bagi UMI, perjalanan Ida juga meninggalkan jejak pengetahuan penting: alumni Keperawatan dan Profesi Ners UMI mampu membawa kompetensinya memasuki lingkungan pelayanan kesehatan di luar Indonesia. Inilah dampak yang sesungguhnya. Bukan hanya tentang bekerja di luar negeri, tetapi bagaimana ilmu yang diperoleh dari kampus dapat hadir dan bermanfaat di tempat yang lebih luas.
"Kampus memberi bekal untuk memulai. Kompetensi membuka jalan. Tetapi pelayanan kepada manusia yang membuat ilmu benar-benar memiliki arti."
Dari keperawatan UMI, menuju pelayanan kesehatan di jepang. Dari Kampus, Menjadi Dampak. (Bersambung)























































































































