Dari Kampus, Menjadi Dampak - Ustazah Andi Hidayah Tenriajeng: Alumni PAI UMI yang Mengabdi untuk Generasi Qur'ani, dari Pesantren hingga Makkah
MAKASSAR, umi.ac.id — Mengajar Al-Qur'an, mendampingi santri, membina muslimah, hingga mengelola kebutuhan lembaga pendidikan menjadi bagian dari perjalanan Ustazah Andi Hidayah Tenriajeng. Alumni Pendidikan Agama Islam Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini menjalankan pengabdiannya di Indonesia, Amerika Serikat, dan kini melalui Program SPIDI Makkah di Arab Saudi.
Pada 2026, ia mengemban tanggung jawab sebagai Direktur Finansial sekaligus Bendahara Program SPIDI Makkah serta Koordinator Pengasuhan Santriwati. Amanah tersebut mempertemukan ketertiban pengelolaan keuangan dengan perhatian terhadap kehidupan dan kebutuhan belajar para santri.
Perjalanan itu berakar dari pendidikan pesantren dan pengalaman panjang dalam pengajaran, dakwah, serta pembinaan keluarga.
Dari Pendidikan Pesantren ke Pascasarjana UMI
Lahir di Parepare pada 7 April 1972, Andi Hidayah menempuh pendidikan di Pesantren Darul Istiqamah, Maros, mulai jenjang Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, hingga Diploma Satu Takhassus. Ia kemudian memperdalam bahasa Arab melalui program di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), Jakarta.
Di UMI, ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Pendidikan Agama Islam pada 2011, kemudian meraih gelar Magister Pendidikan Agama Islam pada 2023.
Pendidikan tersebut melengkapi pengalamannya sebagai pendidik dan pengasuh. Pengetahuan akademik bertemu dengan kebutuhan sehari-hari: memahami peserta didik, mendampingi proses belajar, serta membangun lingkungan yang mendukung pembentukan karakter.
Pengabdiannya dimulai di Pesantren Darul Istiqamah, Maros, sebagai pengajar Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Ia juga pernah dipercaya memimpin Taman Kanak-Kanak Darul Istiqamah.
Di Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI), selain mengajar, ia menjalankan tugas sebagai Koordinator Tata Boga dan Layanan Konsumsi. Pengalaman ini memberinya ruang pengabdian pada aspek keseharian santri yang turut menopang keberlangsungan pendidikan.
Pada 2014, ia mendampingi rombongan santri SPIDI dalam kunjungan pendidikan ke Tokyo, Jepang. Kegiatan tersebut memperluas pengalaman belajar santri melalui perjumpaan dengan lingkungan dan budaya berbeda.
Mendampingi Komunitas Muslim di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, Andi Hidayah terlibat dalam pengajaran Al-Qur'an melalui Majelis Qur'an Amerika (MQA), serta kegiatan dakwah dan pembinaan muslimah di Masjid Al-Hikmah, New York.
Ia juga menjadi pengasuh dan pembina pendidikan Islam di Pesantren Nur Inka Nusantara Madani, Connecticut. Pengabdian tersebut menempatkannya dekat dengan kebutuhan pendidikan agama dan pendampingan santri dalam lingkungan masyarakat multikultural.
Di Texas, keterlibatannya mencakup kegiatan pembinaan masyarakat Indonesia melalui KJRI Houston serta pengajaran Al-Qur'an dan pembinaan muslimah di Houston, Sugar Land, The Woodlands, dan Katy.
Ia aktif pula dalam Indonesian American Muslim Community (IAMC) di Houston dan mengikuti Muktamar IMSA di Boston pada 2022, Arizona pada 2024, serta Atlanta pada 2025.
Untuk mendukung komunikasi dalam lingkungan internasional, Andi Hidayah mengikuti kursus bahasa Inggris di Houston Community College dan La Guardia Learning Center, New York. Pengalaman ini menjadi bagian dari kesediaannya untuk terus belajar sembari menjalankan pengabdian.
Pengasuhan dan Tanggung Jawab di Makkah
Melalui SPIDI Makkah, Andi Hidayah kini mengambil peran dalam program yang memadukan pembelajaran Al-Qur'an, bahasa Arab, pembinaan karakter, dan kepemimpinan.
Tanggung jawab keuangan dan pengasuhan yang diembannya merupakan dua bagian penting dalam pelaksanaan program. Pengelolaan yang tertib menopang kegiatan pendidikan, sementara pendampingan membantu santriwati menjalani kehidupan dan proses belajar di lingkungan baru.
Peran tersebut melanjutkan pengalaman yang telah dibangunnya di pesantren dan komunitas Muslim lintas negara.
Pengabdian terhadap pendidikan Al-Qur'an juga hadir dalam kehidupan keluarganya. Bersama suaminya, Dr. Muthahhir Arif Marzuki, ia dikaruniai delapan putra-putri yang seluruhnya merupakan hafiz dan hafizah Al-Qur'an, serta 13 cucu. Keluarga menjadi ruang pendidikan yang berjalan beriringan dengan tanggung jawab kelembagaan dan sosialnya.
Perjalanan Andi Hidayah memperlihatkan luasnya kontribusi seorang pendidik: melalui pengajaran, pengasuhan, pengelolaan lembaga, dan pembinaan masyarakat. Pendidikan sarjana dan magister di UMI menjadi bagian dari bekal keilmuan dalam perjalanan tersebut.
Dari pesantren di Maros hingga komunitas Muslim di Amerika Serikat dan program pendidikan di Makkah, ia terus mendampingi proses tumbuh generasi Qur'ani—generasi yang diharapkan berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu berinteraksi dengan dunia yang lebih luas.
DARI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UMI, MENUJU PENGABDIAN PENDIDIKAN ISLAM LINTAS NEGARA. DARI KAMPUS, MENJADI DAMPAK. (Bersambung)























































































































