Dosen UMI Perkenalkan Metode Pembelajaran Bahasa Berbasis Neurosains di Malaysia, Perkuat Kolaborasi Internasional dengan UTeM
Melalui pengabdian internasional di Universiti Teknikal Malaysia Melaka, tim dosen UMI melatih mahasiswa menggunakan pendekatan Broca Tap–Wernicke Tap untuk mendukung latihan berbicara, menyimak, dan membaca teks ilmiah dalam bahasa asing.
Melaka, Malaysia, umi.ac.id - Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar kembali memperluas kegiatan pengabdian kepada masyarakat di tingkat internasional. Kali ini, tim dosen UMI memperkenalkan pendekatan pembelajaran bahasa berbasis neurosains kepada mahasiswa Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM), Malaysia, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Penerapan Metode Broca Tap–Wernicke Tap dalam Pembelajaran Berbasis Neurosains untuk Mengatasi Hambatan Bicara dan Membaca Teks Ilmiah bagi Pelajar FPTT UTeM Malaysia.”
Melalui program ini, mahasiswa diperkenalkan pada latihan yang memadukan aktivitas berbahasa dengan gerakan ketukan jari secara teratur. Pendekatan tersebut dirancang tim untuk membantu peserta melatih kelancaran berbicara, perhatian saat menyimak, dan kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa asing.
Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi akademik UMI dalam pengembangan pembelajaran sekaligus membuka kesempatan kerja sama penelitian dan pengabdian lintas negara.
Dari Makassar ke Melaka, Dosen UMI Berbagi Pendekatan Pembelajaran Bahasa
Program pengabdian internasional ini dipimpin Muhajir, Ph.D., Wakil Dekan I Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI.
Ia didampingi tim dosen yang terdiri atas Syamsidar, Chuzaimah, Sitti Hasma Agus, Madeline Yudith, dan Sri Ramdayani.
Kegiatan tersebut juga melibatkan Muhammad Zaydan Aunur dan Desy Ariani Muhammad sebagai anggota tim dari kalangan pelajar.
Keterlibatan dosen dan pelajar dalam satu tim menjadi bagian penting dari pelaksanaan pengabdian, karena memberikan kesempatan untuk mengembangkan pengalaman akademik, komunikasi lintas budaya, dan kerja sama internasional.
Muhajir menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa asing masih menghadirkan tantangan bagi sebagian pelajar, terutama ketika mereka harus berbicara secara spontan, memahami informasi yang kompleks, atau membaca teks ilmiah.
Kesulitan tersebut dapat muncul dalam bentuk jeda yang panjang sebelum berbicara, berkurangnya konsentrasi saat menyimak, maupun rasa cemas ketika harus menyampaikan pendapat.
“Melalui latihan yang terarah, peserta dilatih untuk meningkatkan kelancaran berbicara, konsentrasi mendengarkan, serta kepercayaan diri dalam proses pembelajaran,” jelas Muhajir.
Mengenal Broca Tap–Wernicke Tap dalam Pembelajaran Bahasa
Dalam pelatihan tersebut, tim UMI memperkenalkan dua bentuk latihan yang disebut Broca Tap dan Wernicke Tap.
Penamaan pendekatan ini merujuk pada area Broca dan area Wernicke, dua wilayah otak yang secara historis berkaitan dengan fungsi produksi dan pemahaman bahasa.
Pada latihan Broca Tap, peserta diminta mengucapkan frasa atau kalimat sambil melakukan ketukan jari secara berirama.
Latihan tersebut diarahkan untuk membantu peserta mengatur tempo pengucapan, membangun kebiasaan berbicara, dan mengurangi keraguan ketika menyusun kalimat.
Sementara itu, Wernicke Tap digunakan dalam aktivitas menyimak. Peserta melakukan ketukan jari secara teratur sambil mendengarkan bahasa sasaran dan berusaha memahami informasi yang disampaikan.
Melalui aktivitas tersebut, tim mengajak peserta mencoba cara belajar yang melibatkan koordinasi gerakan, perhatian, dan penggunaan bahasa.
Meski menggunakan istilah yang merujuk pada bagian otak, pendekatan ini tidak serta-merta membuktikan adanya stimulasi langsung terhadap area Broca atau Wernicke. Efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuan berbahasa masih memerlukan pengujian ilmiah dengan metode evaluasi yang memadai.
Mahasiswa UTeM Mendapat Pengalaman Belajar Interaktif
Kegiatan pengabdian ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa UTeM untuk mencoba pendekatan pembelajaran yang berbeda dari latihan bahasa konvensional.
Peserta tidak hanya menerima penjelasan mengenai konsep yang diperkenalkan, tetapi juga mengikuti praktik yang menggabungkan pengucapan, aktivitas mendengarkan, dan gerakan sederhana.
Pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif aktivitas kelas yang dapat dieksplorasi lebih lanjut oleh pendidik, terutama dalam merancang pembelajaran bahasa yang partisipatif.
Bagi mahasiswa yang mempelajari bidang teknis maupun profesional, kemampuan memahami teks ilmiah dan mengomunikasikan gagasan dalam bahasa asing merupakan kompetensi penting.
Karena itu, pengembangan metode pembelajaran perlu mempertimbangkan kebutuhan peserta, karakter materi, dan hasil evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hasil Awal Program Menjadi Bahan Evaluasi dan Penelitian Lanjutan
Dalam presentasi kegiatan, tim pengabdian UMI menyampaikan sejumlah angka yang dikaitkan dengan hasil penerapan latihan.
Angka tersebut meliputi respons berbicara yang dilaporkan dua kali lebih cepat, tingkat fokus pendengaran sebesar 85 persen, serta pengurangan kecemasan berbahasa sebesar 40 persen.
Angka-angka tersebut masih merupakan hasil yang dilaporkan tim dalam kegiatan, dan belum dapat dinyatakan sebagai bukti efektivitas metode tanpa penjelasan mengenai jumlah peserta, kondisi awal, instrumen pengukuran, metode analisis, serta pembanding yang digunakan.
Karena itu, pengembangan penelitian bersama menjadi langkah penting untuk menilai manfaat pendekatan ini secara lebih objektif.
Evaluasi yang terukur juga dapat membantu menentukan apakah latihan tersebut sesuai untuk berbagai kelompok peserta dan jenis pembelajaran bahasa.
UMI dan UTeM Buka Peluang Pengembangan Modul dan Penelitian Bersama
Tim pengabdian UMI turut menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk keberlanjutan program.
Salah satunya adalah menjajaki penggunaan latihan ketukan selama lima menit sebelum pembelajaran bahasa sebagai aktivitas awal yang dapat dievaluasi manfaatnya.
Tim juga merekomendasikan penyusunan modul praktikum kolaboratif serta pengembangan penelitian bersama antara UMI dan UTeM.
Muhajir berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada satu pertemuan, tetapi dapat dilanjutkan melalui kerja sama akademik yang lebih terarah.
“Kami berharap pendekatan ini tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan pengabdian, tetapi dapat dikembangkan melalui latihan rutin, penyusunan modul praktikum, dan kolaborasi penelitian antara UMI dan UTeM,” tutupnya.
Kerja sama lanjutan diharapkan memberikan kesempatan bagi dosen dan mahasiswa kedua perguruan tinggi untuk mengembangkan pembelajaran, melakukan evaluasi ilmiah, serta bertukar pengalaman dalam pengajaran bahasa asing.
Pengabdian Internasional sebagai Bagian dari Catur Dharma UMI
Kegiatan di Malaysia ini sejalan dengan komitmen Universitas Muslim Indonesia sebagai Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, serta Kampus Bereputasi dan Berdampak.
Melalui pengabdian internasional, dosen UMI memperoleh kesempatan untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman akademik kepada peserta di luar Indonesia, sekaligus mempelajari kebutuhan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan yang berbeda.
Kegiatan tersebut juga mendukung pelaksanaan Catur Dharma UMI, khususnya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang dapat saling memperkuat melalui kerja sama akademik internasional.
Bagi UMI, internasionalisasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah kerja sama atau kegiatan di luar negeri. Kualitas pelaksanaan, keberlanjutan kolaborasi, serta manfaat yang dapat dievaluasi menjadi bagian penting dalam pengembangan reputasi akademik.
Pengabdian internasional memiliki nilai lebih ketika pengetahuan yang dibagikan dapat diuji, dikembangkan bersama, dan memberikan manfaat bagi peserta.
Melalui kegiatan di Universiti Teknikal Malaysia Melaka, UMI terus mengembangkan kontribusi akademiknya di tingkat internasional dengan mendorong pembelajaran yang inovatif, kolaborasi lintas negara, dan penelitian yang berorientasi pada kebutuhan nyata peserta didik.























































































































